Ibadah Sosial

Ibadah Sosial

Dianing Widya  ;   Novelis dan Pegiat Sosial
TEMPO.CO,  19 Maret 2014
                        
                                                                                         
                                                                                                             
INDONESIA, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya menjadi sebuah negara yang nyaman dan tenteram, sekaligus terdepan. Watak agama (Islam), yang memuliakan seluruh makhluk, selayaknya membuat penganutnya memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial yang tinggi, sebagai perwujudan ibadah. Ibadah dimaksud bukan hanya yang bersifat vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan), tapi juga ibadah yang berdimensi sosial (hubungan manusia dengan manusia).

Ibadah yang terbaik pastilah yang punya dua dimensi sekaligus. Tidak hanya perwujudan takwa kepada Tuhan, tapi sekaligus juga memiliki nilai-nilai kasih sayang terhadap sesama. Misalnya, orang boleh saja 10 kali berhaji. Namun, tanpa kepedulian terhadap sekitarnya, makna ibadahnya menjadi hambar. Selain itu, ibadah tidak perlu terjebak dalam materialisme atau kebendaan.

Kualitas ibadah lebih ditentukan oleh hati yang terpancar melalui sikap dan perilakunya. Sebab, tak jarang orang beribadah terjebak dalam riya'. Misalnya, kesalehan diri dimaknai dengan busana yang melekat pada tubuh, ucapan-ucapan khas ke-Arab-araban, naik haji atau umrah berkali-kali, hingga membikin masjid besar-besar dan megah. Padahal, tiap kali masuk waktu salat, masjid kosong-melompong. Akibatnya, masjid pun mengalami pergeseran makna. Ia menjadi tempat untuk pernyataan identitas. Ditambah lagi, secara berkala, masjid itu mengadakan tablig akbar dengan mengundang ustad selebritas, yang menguras uang tak sedikit. Sedangkan tak jauh dari masjid, banyak anak putus sekolah, anak telantar, orang miskin, yatim piatu, serta kaum duafa.

Kemajuan teknologi memang mendorong manusia terbawa ke arus pencitraan/gaya hidup. Beribadah bukan lagi sebagai ruang komunikasi antara makhluk dan khaliknya. Ibadah bukan lagi dimaknai sebagai hubungan antara seseorang dan Tuhan hingga orang lain tak perlu tahu. Sebaliknya, ibadah justru dirayakan, bahkan diiklankan.

Televisi berperan besar pada pergeseran nilai-nilai spiritual semacam itu. Masyarakat dibanjiri program-program yang menggerus eksistensi agama. Di televisi, dengan mudah ditemukan hal-hal yang bersifat tiba-tiba. Tiba-tiba menjadi ustad, tiba-tiba menjadi dai, dan tiba-tiba menjadi orang saleh. Televisi seperti punya standar sendiri dalam hal itu. Tokoh-tokoh yang mereka kreasikan itu diberi ruang demi kepentingan industri televisi itu sendiri.

Acara berlabel agama, yang konon untuk memperbanyak orang melakukan syiar, dikemas seolah-olah demi kepentingan umat. Maka, pendangkalan pun terjadi. Panutan umat, yang semestinya terdidik akhlaknya sedari kanak-kanak, dicomot begitu saja oleh pemilik modal. Ironisnya, umat dengan mudah digerakkan secara kolektif untuk menaruh hormat pada hasil produk industri itu. Padahal produk itu belum tentu bisa memberi pencerahan.

Kita telah memasuki era konsumerisme, di mana penampilan luar lebih dikedepankan daripada nilai-nilai spiritual. Ibadah yang berbaur dengan gaya hidup, hasrat ingin tampil, akhirnya yang menggerakkan banyak orang dalam beribadah. Orang beramal saleh karena ingin mendapatkan pujian. "Aku" dengan sadar melakukan ibadah untuk konsumsi publik. Kita makin terjauhkan dari ibadah yang berdimensi keilahian sekaligus kemanusiaan. Ibadah kita yang berdimensi sosial makin rapuh.

Terkikisnya Kesadaran

Terkikisnya Kesadaran

Dianing Widya  ;   Novelis
TEMPO.CO,  04 Maret 2014

                                                                                         
                                                      
Hujan kini menjadi monster. Setiap hujan turun, perasaan pun menjadi waswas akan munculnya banjir. Padahal banjir tidak datang tiba-tiba. Banjir datang melalui proses panjang. Para pegiat lingkungan menyebut: banjir itu akibat ulah manusia. Tapi, tetap saja kita hanya memikirkan banjir ketika banjir tiba. Kesadaran kita terhadap "sesuatu" yang menghadang di depan menjadi sangat tipis. Kita baru benar-benar sadar ketika sudah terbentur "sesuatu" itu.

Kalahnya kesadaran, tentu saja, tidak hanya dalam konteks banjir atau bencana. Dalam segala hal, kesadaran kita makin terkikis. Justru yang makin menguat adalah kesadaran terhadap "ke-aku-an" (ego). "Aku" sadar harus berbuat sesuatu demi keuntungan atau kepentingan "aku" sendiri. Kita makin jarang berpikir "aku" sadar harus berbuat sesuatu untuk "mereka" atau "kita" bersama.

Tak sulit untuk mendapat contoh bagaimana orang makin tenggelam dalam dirinya sendiri. Datanglah ke mal, perhatikanlah orang-orang yang berada di mal itu, baik yang sedang menunggu maupun duduk di kafe. Perhatikanlah berapa banyak orang yang sedang berinteraksi dengan orang lain, dan berapa banyak pula yang sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri, entah tenggelam dalam telepon pintar, tablet, atau laptop. 

Terlepas dari itu, memang ada kenyataan lain yang tak dapat dibantah. Hidup yang padat agenda dan kota yang makin macet mungkin menjadi salah satu penyebab interaksi langsung itu makin menipis. Namun, masalahnya, saat bertatap muka pun, orang lebih suka sibuk sendiri-sendiri. Akibatnya, interaksi yang ada menjadi begitu dingin dan tak mampu membangkitkan emosi tertentu.

Padahal, interaksi sosial semacam itu justru bisa membangunkan kesadaran yang tertidur. Misalnya, ketika seseorang sahabat menceritakan banjir, ada kemungkinan besar kesadaran kita akan terlonjak bahwa banjir itu benar-benar nyata-bukan sekadar peristiwa yang kita tonton di televisi. Sebab, sering kali, apa yang ditayangkan di televisi adalah hiperealitas-sebuah dunia yang melampaui apa yang sesungguhnya terjadi.

Tapi, mengapa kesadaran komunal makin menipis? Barangkali pendapat Ken Wilber, seorang eksponen gerakan psikologi transpersonal di Amerika Serikat, bisa menjadi salah satu jawabannya. Ia mengatakan bahwa kesadaran adalah sesuatu yang tertanam dalam jaringan makna kultural tertentu. Kesadaran tidak hanya berada dalam kepala "aku" (personal), melainkan juga dibentuk oleh kultur sosial, politik, dan ekonomi masyarakat. Ketika sebuah kelompok atau entitas makin menjauh dari kesadaran terhadap sesuatu, itu pun menjadi sikap (pikiran) "aku".

Dalam konteks bencana, banjir misalnya, ketika secara kultural tidak ada yang peduli secara serius terhadap hal tersebut, "aku" pun merasa tidak perlu memikirkannya. Pikiran bawah sadar dengan gampang berbicara: sistem yang seharusnya bekerja saja tidak berjalan dengan baik, buat apa "aku" sibuk memikirkannya? Lalu, ketika sesuatu terjadi, kita pun ramai-ramai mencari kambing hitam.

Bahkan, tak jarang, kita buru-buru melempar tanggung jawab kepada Tuhan. Seolah-olah Tuhan gemar menimpakan bencana kepada manusia.