Sayang Ibu demi Gerakan Satu Juta Sambungan

Sayang Ibu demi Gerakan Satu Juta Sambungan

Dahlan Iskan  ;   Menteri BUMN
JAWA POS, 31 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
Inilah kampanye yang bukan untuk pemilu. Inilah kampanye untuk menyiapkan Indonesia masa depan: gerakan sayang ibu. Targetnya memenangkan hati ibu-ibu untuk mau menerima aliran gas alam ke dapur-dapur di rumah mereka. Melalui pipa. Bukan melalui tabung.

Juru kampanye yang satu ini bukan tokoh-tokoh nasional, melainkan ibu-ibu dari sebuah RT di Jakarta Timur. Yakni RT 09 RW 12 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit.

Hari itu, Rabu lalu, di RT tersebut dideklarasikan dua gerakan. Yang pertama "gerakan sayang ibu" tadi. Yang kedua "gerakan satu juta sambungan". Yang mendeklarasikan adalah Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara/PGN (Persero) Tbk Hendi Prio Santoso.

Dalam waktu dua tahun ini, kata Hendi, PGN akan menyambungkan satu juta sambungan baru langsung ke dapur-dapur rumah penduduk. Ini tentu sebuah ambisi yang besar dari PGN. Tapi bukan tidak realistis. Apalagi, program ini memang sangat strategis. Yang terabaikan oleh PGN sepanjang sejarah hidupnya sejak zaman Belanda.

Selama ini PGN memang menjadi perusahaan besar dengan laba yang besar, namun perannya di masyarakat belum dirasakan langsung secara luas. PGN masih dikenal sebagai BUMN yang terlalu asyik sebagai pedagang gas. Belum sebagai pelayan masyarakat secara masif. Bayangkan, dalam umurnya yang sudah begitu tua, PGN baru memiliki sekitar 100.000 sambungan. Bandingkan dengan PLN yang sudah memiliki lebih dari 50 juta sambungan.

Kini PGN punya tekad yang bukan main-main. Tekad pengabdian yang sangat besar. Tiba-tiba dalam dua tahun ke depan PGN akan langsung melakukan satu juta sambungan. Saya yakin Hendi mampu mewujudkannya.

Saya memang memiliki permintaan khusus kepada direksi PGN. Yakni agar pemakaian gas alam produksi Indonesia bisa dialirkan ke sebanyak mungkin masyarakat. Seperti di banyak negara maju. Sebenarnya memang agak aneh kalau rumah-rumah mewah pun masih menggunakan gas elpiji. Dengan segala keruwetan distribusinya.

Program memasyarakatkan elpiji sendiri saya akui sangat sukses. Berhasil membuat penduduk yang dulunya menggunakan minyak tanah, yang sangat mahal itu, beralih ke elpiji. Masyarakat bisa berhemat, negara juga diuntungkan. Subsidi minyak tanah berkurang. Tapi, keberhasilan program elpiji itu tidak boleh meninabobokan kita. Harus ada gerakan berikutnya: beralih ke gas alam.

Gas alam adalah produk dalam negeri. Seharusnya lebih banyak digunakan untuk bangsa sendiri. Aneh kalau kita ekspor gas alam, tapi impor elpiji dan BBM. Ke depan gas alam haruslah sebanyak mungkin diprogramkan untuk menggantikan BBM dan elpiji.

Kita mestinya menangis meraung-raung memikirkan besarnya impor BBM. Kini dan lebih-lebih masa depan. Produksi minyak mentah kita turun terus. Cadangan minyak mentah kita memang tidak besar lagi. Berarti impor BBM kita akan terus membengkak.

Sementara itu, produksi gas kita terus meningkat. Cadangan gas kita juga masih besar. Jelaslah akal sehat harus mengatakan: mari kita beralih ke bahan bakar yang berbasis gas alam. Ibu-ibu Duren Sawit sudah merasakan sendiri "alangkah serbalebihnya" gas alam dibanding elpiji.

"Harganya lebih murah. Kami bisa lebih hemat 30 persen," ujar Bu Santina, bu RT di Malaka Jaya, hari itu. "Kami juga tidak pernah khawatir kehabisan gas," tambahnya.

Berdasar pengalaman itulah, PGN akan melancarkan kampanye khusus. Temanya pun akan lebih fokus ke ibu-ibu. PGN sudah menemukan kata kuncinya: "kampanye sayang ibu". Dengan tema itu, ibu-ibu akan bergegas merayu suami mereka untuk minta beralih ke gas alam. Rasanya, dengan rayuan ibu-ibu itu, kalau suami mereka benar-benar menyayangi sang istri, peralihan tersebut akan lancar.

Memang tidak mudah menyukseskan gerakan satu juta sambungan ini. Membangun jaringan gas alam lebih sulit daripada membangun jaringan listrik. Pipa gas itu harus ditanam di dalam tanah. Izin menanam pipa gas tidak sederhana. Tapi, sekali infrastruktur gas alam ini terbangun, banyaklah masalah yang bisa diatasi. Termasuk masalah padatnya lalu lintas distribusi gas elpiji.

Gema kampanye ini segera meluas. Ibu-ibu wilayah Halim sudah menghendaki penyambungan gas alam. Ada 6.000 rumah yang merasa siap disambungkan. Silakan PGN melayani mereka. Kalau perlu mencarikan pinjaman bank untuk biaya penyambungan pertama.

Setiap rumah memang perlu mengeluarkan uang untuk membangun pipa sekitar Rp 5 juta. Tapi, nilai itu akan lunas dalam tiga tahun dari selisih harga elpiji dan biaya langganan bulanan gas alam. Pasti banyak bank yang mau menyalurkan dananya ke sektor ini.

Saya akan memberikan dukungan maksimal kepada program strategis PGN ini. Termasuk menerobos berbagai hambatannya. Misalnya di Semarang dan beberapa kota sekitarnya. PGN akan membangun jaringan pipa distribusi gas alam ke rumah-rumah penduduk. Tapi, izinnya ada di tangan PT Rekayasa Industri (Rekind). Waktu tender dulu PGN kalah. Rekind nomor 1, PGN nomor 2.

Tapi, Rekind tidak kunjung membangun jaringan itu. Padahal, sudah lima tahun izin ada di kantongnya. Maka, Rekind akan saya minta mundur. Kebetulan perusahaan itu adalah anak perusahaan BUMN. Saya sudah hubungi direksi holding-nya. Sudah disanggupi. Rekind saya minta fokus pada bisnis utamanya: engineering.

Rekind harus menjadi perusahaan engineering kebanggaan bangsa. Sejak krisis ekonomi tahun 1998, tinggal Rekind-lah perusahaan engineering kelas dunia yang masih dimiliki bangsa ini. Dua perusahaan lainnya sudah jatuh ke tangan asing. Untuk tender-tender internasional EPC dan engineering, praktis Indonesia hanya diwakili Rekind. Karena itu tidak boleh lengah. Proyek-proyeknya harus selesai tepat waktu.

BUMN sendiri sering melakukan tender internasional. Seperti Pertamina untuk proyek-proyek besarnya. Juga PLN, Pelindo, Angkasa Pura, dan yang lainnya. Kalau reputasi Rekind di kelas internasional merosot, proyek-proyek itu akan jatuh ke perusahaan luar negeri.

Maka, saya minta Rekind mundur dari bisnis distribusi gas alam. Dengan demikian, jaringan distribusi gas alam di Semarang itu otomatis akan digantikan PGN, yang sudah lebih siap membangunnya. Rekind kalau perlu mengakuisisi perusahaan sejenis di Eropa. Sebagai "kuda sembrani" untuk memenangi tender-tender internasional di Indonesia.

Gas alam adalah masa depan energi kendaraan dan rumah tangga kita. Langkah mewujudkannya memerlukan kerja cepat. Das des... Set set wuet!

Di Selo Harapan Baru Itu Terbuka

Di Selo Harapan Baru Itu Terbuka

Dahlan Iskan  ;   Menteri BUMN
JAWA POS,  24 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Tiba-tiba saya bisa tahlilan di Grobogan. Di kuburan seorang tokoh. Tidak saya sangka kalau makam tokoh itu di dekat kebun kedelai yang saya tinjau Rabu lalu: Ki Ageng Selo.

Itulah tokoh yang namanya saya pakai untuk mobil listrik generasi kedua Putra Petir: Selo. Sebuah mobil sport warna kuning yang baru dipamerkan di Universitas Atma Jaya Jakarta dan juga di Palembang sana.

Nama Selo kami ambil karena ada legenda yang sudah terkenal. Bahwa Ki Ageng Selo punya kemampuan menangkap petir.

"Benarkah makamnya di Desa Selo ini?" tanya saya kepada Bupati Grobogan Bambang Pudjiono yang menyertai saya meninjau kebun kedelai unggul itu. "Saya pikir makamnya di Jogjakarta," tambah saya.

Kalau Pak Bupati tidak menginfokan keberadaan makam ini, tentulah saya tidak akan pernah bisa "permisi" menggunakan nama beliau untuk mobil listrik kita. "Jangan-jangan karena belum pernah minta izin itulah sehingga nasib mobil listrik tidak segera jelas sampai sekarang," gurau teman saya yang ikut ke Grobogan.

Maka, di makam Ki Ageng Selo itu, di samping tahlil, saya juga curhat (dalam hati) mengenai sulitnya prosedur mengurus mobil listrik itu di pemerintah. Padahal, negara lain sudah kian kencang saja larinya.

Hari itu saya ke Grobogan untuk dua acara: geropyokan tikus dan meninjau tanaman kedelai binaan Bank Mandiri. Berita keberhasilan teknik baru geropyokan tikus di Godean, Jogja, dulu ternyata telah menginspirasi banyak daerah untuk melakukan hal yang sama.

Maka, hari itu tim Brigade Hama PT Pupuk Indonesia menyosialisasikan cara-cara baru tersebut. Dari geropyokan tikus inilah saya menuju Desa Selo. Saya lihat tanaman kedelainya sudah mulai berbuah. Memang agak aneh di bulan Maret begini bisa tanam kedelai. Itulah tanaman kedelai di luar musim.

Ini memang hanya bisa dilakukan di daerah-daerah tertentu. Terutama yang kontur tanahnya agak tinggi. Sehingga di saat turun hujan tidak akan ada air menggenang. Pengolahan tanahnya pun sedemikian rupa sehingga air hujan bisa langsung meninggalkan lokasi.

Promotor tanaman kedelai ini adalah Adi Widjaya. Dialah putra daerah Grobogan lulusan Universitas Satya Wacana Salatiga yang memenangi lomba technopreneur Bank Mandiri. Mikroba temuannya telah memenangkan hadiah Rp 1 miliar. Dengan syarat hadiah itu untuk pengembangan kedelai dengan menggunakan temuannya tersebut.

Adi berhasil mengumpulkan petani yang mau mencoba teknik dan pupuk yang ditemukannya. Tentu dengan benih dan pupuk yang diberikan gratis dari uang Rp 1 miliar itu. Total terkumpul sekitar 1.000 hektare tanah yang mau dipakai uji coba.

Inilah kedelai unggul yang luar biasa. Dengan menggunakan teknik baru itu, akan bisa dihasilkan 2,5 ton per hektare. Sekitar dua kali lipat dari produksi kedelai dengan cara lama.

Kalau saja semua petani kedelai menggunakan cara ini, kekurangan produksi kedelai nasional bisa diatasi. Impor kedelai bisa dikurangi secara drastis.

Tanaman kedelai yang saya tinjau itu memang sangat jelas bedanya. Daunnya lebih tebal, pohonnya lebih tinggi, dan cabang-cabangnya lebih banyak.

Daun yang tebal itu berfungsi untuk penyerapan sinar matahari yang lebih maksimal. Cabang yang banyak itu berfungsi untuk menghasilkan buah kedelai yang lebih banyak.

Mengapa kedelai ini ditanam di luar musim? "Agar hasilnya bisa untuk benih yang akan ditanam di musim tanam akan datang," ujar Adi Widjaya yang setelah lulus Satya Wacana meneruskan kuliah di Australia.

"Jadi, tanaman kedelai ini bukan untuk dikonsumsi, tapi untuk benih," tambahnya.

Tentu para petaninya beruntung. Dengan panen di luar musim, harga kedelainya sangat baik. Apalagi kualitas benihnya.

Maka, persoalan berikutnya adalah ini: maukah petani di Desa Selo itu menanam kedelai dengan teknik yang sudah mereka kuasai tersebut tanpa bantuan Bank Mandiri lagi? "Mauuuuuuu," jawab para petani itu serentak.

Tentu saya masih khawatir dengan jawaban tersebut. Jangan-jangan hanya karena ada saya. Atau karena ada Pak Bupati Bambang Pudjiono. Maka, satu per satu saya tanya mengapa mereka mau meneruskan sendiri teknik baru itu tanpa bantuan.

"Hasilnya sudah kelihatan jelas berbeda," ucap seorang petani yang masih muda. "Kami mau maju, Pak Menteri," ujar yang lain.

"Niki mboten mawi bantuan malih lho. Tetep sanggup?" tanya saya. "Sangguuuuup," kata petani serentak.

Saya tegaskan bahwa Bank Mandiri saya minta tetap memberikan dana, tapi untuk desa lain. Agar penggunaan teknik baru itu segera meluas. "Mangertooooos," jawab mereka.

Memang, seperti dijelaskan Adi, untuk menerapkan teknik baru itu, biayanya bertambah Rp 500.000 per hektare. Tapi, hasilnya bertambah Rp 3 juta.

Inilah yang juga saya khawatirkan. Kadang, dengan alasan lagi tidak punya uang, petani mengorbankan hasil yang maksimal. Karena tidak ada uang, petani pasrah: menerima saja hasil seadanya.

Itulah sebabnya, program "yarnen" BUMN ("bayar setelah panen") harus terus diperluas. Untuk mengatasi sikap pasrah para petani.

Tentu tidak hanya untuk kedelai. Saat ini kami juga lagi bicara dengan dua ilmuwan terkemuka kita yang hasil penemuannya belum dimanfaatkan secara memadai. Itulah topik Manufacturing Hope minggu depan.

Tommy Setelah Cuci Darah Melulu

Tommy Setelah Cuci Darah Melulu

Dahlan Iskan  ;   Menteri BUMN
JAWA POS,  16 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                                                                             
INI juga kabar gembira. Ketika adik kita Hafidz menjalani transplantasi hati di Rumah Sakit (RS) Pertamedika Sentul, Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Tommy Soetomo juga menjalani transplantasi ginjal di RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Dua-duanya sukses.

Kalau Hafidz sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, Tommy sudah saya izinkan masuk kantor. Senin lalu. Dengan beberapa pembatasan. Misalnya, selama sebulan ke depan, masih tidak saya izinkan naik pesawat.

Biarlah Tommy menjauh dulu dari sumber-sumber infeksi. Termasuk ketika berada di kantor pun, harus dijauhkan dari sumber infeksi. Transplantasinya sudah sukses, jangan sampai pascatransplantasinya gagal.

Tommy adalah seorang CEO/Dirut BUMN yang tergolong hebat. Fotonya saya pampang di dinding ruang kerja saya, bersama foto beberapa CEO BUMN yang hebat lainnya.

Saya memang agak keras menjaga Tommy. Beberapa hari sebelum transplantasi, saya mengirim e-mail yang harus dibaca seluruh anaknya dan keluarga dekatnya. Belakangan saya malu karena salah seorang anak Tommy ternyata dokter. Bayangkan, begini bunyi e-mail saya

Pak Tommy yang baik, sudah tujuh tahun saya menjalani transplan yang lebih sulit dari Anda. Tapi, Anda lihat sendiri, saya sangat sehat dan bisa menjabat Dirut PLN dan kemudian menjadi menteri BUMN. Saya minta istri Anda dan anak-anak Anda membaca e-mail saya ini dengan maksud agar mereka bisa menjaga Anda dari bencana yang akan Anda hadapi.

Harus ada satu dari pihak keluarga dekat Anda yang bersikap keras dalam menjaga Anda nanti. Agar setelah transplan nanti Anda bisa tetap sehat. Anda dan "polisi" Anda tadi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Operasi transplan Anda nanti boleh dibilang akan 100 persen berhasil. Dokter sudah sangat ahli. Obat-obatan sudah sangat canggih. Ilmu pengetahuan sudah sangat maju.

Beberapa hari menjelang operasi, lakukanlah senam-senam kecil setiap hari. Agar kondisi badan dan otot-otot Anda dalam keadaan sehat. Jagalah, jangan makan yang aneh-aneh agar tidak sampai mengganggu pencernaan. Makanlah makanan yang aman-aman saja. Jangan juga terkena hujan atau terik atau debu agar tidak kena flu. Jauhi siapa pun yang lagi flu, biarpun keluarga. Kalau ada keluarga Anda yang terkena flu, suruh menjauh/pergi.

Kegagalan transplan itu lebih banyak karena pascatransplan itu sendiri. Transplannya sukses, tapi umumnya gagal di pascatransplan.

Penyebab utama kegagalan itu adalah satu: virus! Virus! Virus! Ada satu virus yang sangat misterius, yang hanya menyerang orang yang baru melakukan transplan. Namanya cytomegalo.

5. Karena itu, "polisi" Anda tadi harus galak! Galak! Galak! Jangan SEMBRONO. Polisi Anda tadi harus memeriksa apakah ruang ICU-nya benar-benar steril dan bersih. Kadang bagian pembersihnya kurang care! Periksa! Jangan takut pada suster atau dokter. Kalau perlu, bersihkan lagi sendiri.

6. Jangan ada yang menengok ke ICU! Relakan Tommy sendirian di ICU. Biarpun anak dan istri, jangan menengok. Kalau terpaksa nengok, harus benar-benar steril! Jangan sampai ada penyesalan.

7. Disiplin minum obat, terutama immunosuppression. Harus tepat jamnya. Dua jam sebelum minum obat jangan makan. Satu jam setelah minum obat juga jangan makan apa pun. Tidak boleh lupa! Sampai hari ini saya masih disiplin seperti itu. Selama tujuh tahun.

Agar tidak lupa, saya selalu menaruh obat tersebut di rumah, di kantor, di mobil, di Surabaya, di Jakarta, di Medan, dan seterusnya. Di mana pun ada tersimpan obat saya. Jangan menganggap enteng. Itu obat untuk sinkronisasi organ baru! Jangan sampai hang!
8. Musuh besar Anda berikutnya adalah ini: hanya dua minggu setelah transplan nanti tiba-tiba Anda akan merasa segar, sehat, dan kuat. Anda langsung merasa bisa melakukan apa saja. Dalam kondisi seperti itu, suasana psikologi Anda akan dalam bahaya: Anda merasa sangat sehat dan ingin pulang! Tanpa disadari, Anda akan berada dalam psikologi: "Nih, saya sudah sehat, saya bukan orang sakit, saya sudah bisa kerja!"

Sikap itu sangat bahaya. Tolong Anda tetap di rumah sakit selama satu bulan penuh! Lawanlah perasaan ingin pulang itu. Agar kerasan di RS, bawalah komputer, laptop, HP, dan lain-lain. Bawalah pekerjaan ke RS. Kalau perlu pasang wifi di kamar RS. Jangan pulang!

Saya dulu tiga bulan berkantor di RS.

Setelah pulang nanti tetaplah disiplin. Seperti saya. Insya Allah Anda akan sehat sampai puluhan tahun lagi!

Salam.
Dahlan Iskan

Setelah kirim e-mail itu, saya telepon salah seorang anaknya.

"Sudah baca e-mail saya?" tanya saya.

"Sudah. Semua keluarga," jawab sang anak.

"Sudah mengerti isinya?"

"Sudah, Pak."

"Anda bekerja di mana?" tanya saya.

"Saya dokter, Pak."

Nah, lo! Kok ngajari dokter!

Saya pun kontan minta maaf. Kok menggarami lautan.

Tapi, saya tidak menyesal menulis e-mail itu. Saya ingin Tommy selamat. BUMN tidak boleh kehilangan orang sehebat dia. Tommy seorang pekerja keras. Bahkan sejak dia tahu mengalami gagal ginjal tiga tahun lalu. Meski sudah harus cuci darah seminggu tiga kali, Tommy tetap bekerja keras.

Beban kerjanya sangat berat. Termasuk saat diuber-uber penyelesaian Bandara Baru Ngurah Rai Bali menjelang KTT APEC yang lalu. Dia juga berhasil membangun sistem navigasi udara di bandara Makassar. Bahkan, sistem itu dibeli untuk dikembangkan di Malaysia. Dia juga ngebut membangun Bandara Sepinggan, Balikpapan. Akhir bulan ini bandara megah dan modern itu sudah siap dioperasikan penuh.

Bahkan, dia sudah menyiapkan rencana matang untuk bandara Semarang. Desain dan dananya sudah disiapkan. Inginnya tahun lalu sudah mulai dikerjakan. Namun, masalah tanahnya ternyata belum klir. Bahkan, biaya tanahnya harus naik empat kali lipat sehingga semua perhitungan awalnya tidak cocok lagi.

Kini Tommy sudah sehat kembali. Tim dokter RSCM benar-benar hebat. Transplantasi Tommy itu dilakukan sebuah tim dokter yang diketuai Prof Endang Susalit SpPD dengan anggota dr Hilman, dr Nur Rasyid SpU, dan dr Ari Rojani. Teknik operasinya pun sudah menggunakan laparoskopi.

Saya juga berterima kasih kepada jajaran manajemen Angkasa Pura I. Mereka taat untuk tidak menengok Dirut mereka selama di RSCM. Bulan lalu benar-benar membanggakan di bidang kedokteran.

Pulau yang Dulu Dikira Tidak Maju

Pulau yang Dulu Dikira Tidak Maju

Dahlan Iskan  ;   Menteri BUMN
JAWA POS,  10 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                             
Oh, Sumatera. Rencana jalan tol sudah diperjuangkan lebih dari setahun lalu. Hasilnya: masih harus berjuang untuk mendapatkan keputusan. Jaringan listrik lintas Sumatera yang dimulai pada 2008 belum tahu entah selesai kapan. Dua pembangkit listrik besar yang dibangun, dua-duanya menjerit.

Pembangkit listrik paling ramah lingkungan Asahan III di Sumatera Utara belum bisa dimulai. Izin lokasinya kini sudah mau ulang tahun yang ke-3. Masih juga berbentuk izin lokasi. Belum bisa bergerak. Bahkan, izin lokasi itu menimbulkan kesengsaraan: bupati yang mengeluarkannya menjadi terdakwa. Saya merasa bersalah. Terutama kepada Pak Bupati Toba Samosir. Sayalah yang mendesak Pak Bupati agar segera mengeluarkan izin lokasi. Agar PLTA 180 MW itu bisa segera dibangun. Agar kekurangan lis­trik di Sumut teratasi.

Dana pembangunan PLTA itu sudah lama tersedia. Sudah tujuh tahun lalu. Bantuan Jepang. Kita sungguh malu kepada Jepang. Diberi uang tidak bisa menggunakannya. Saya lihat lokasi proyek itu juga sudah siap. Hasil studi konsultan Jepang, Nippon Koy, menunjuk lokasi itulah yang tepat.

Uang ada. Hasil studi ada. Pemenang tender sudah siap kerja. Penduduk setempat juga sudah bersedia diberi ganti rugi. Uang sudah dibayarkan. Lokasi itu memang berbentuk desa, tegalan, dan persawahan.

Lalu terungkaplah bencana itu: menurut peta entah zaman apa, lokasi itu ternyata termasuk hutan! Bupati dianggap memberikan izin lokasi PLTA di tanah hutan! Bupati pun menjadi tersangka. Proyek langsung seperti kipas angin yang dicopot kabelnya: berhenti berputar.

Kenapa lokasi yang sudah berpuluh tahun menjadi pedesaan itu masih tercatat sebagai hutan, tidak ada yang tahu. Nasib Sumut!

Demikian juga pembangkit listrik raksasa di Pangkalan Susu 2 x 200 MW. Tiang listrik untuk mengalirkan daya itu ke Medan belum bisa didirikan semua. Ruwet. Mbulet. Sampai-sampai saya sering bertanya kepada diri sendiri: di Sumut ini siapa sih sebenarnya yang perlu listrik?

Oh, Sumatera! Pulau yang amat kaya energi! Pulau yang kekurangan energi!

Lihatlah satu lagi yang ini: pemerintah sudah menetapkan proyek jaringan listrik 275 kv dari Palembang di Sumatera Selatan menuju Medan di Sumatera Utara. Maksudnya agar listrik dari lumbung energi di Sumsel bisa dikirim dengan cara murah ke Sumut. Uangnya sudah ada. Kontraktornya sudah ditentukan melalui tender internasional. Jaringan itu mulai dibangun pada 2008.

Sampai sekarang baru sebagian kecil yang jadi. Sebagian besar masih terkatung-katung. Sekali lagi, penyebabnya sama: status tanah hutan. Jaringan itu harus melintasi ribuan kilometer hutan. UU menyebutkan kegiatan seperti jaringan listrik tidak diizinkan melintasi hutan. Meski jaringan itu cukup lewat di atas hutan tanpa menebang hutannya.

Jumat lalu saya kumpulkan direksi PLN dan direksi perusahaan-perusahaan kontraktor BUMN. Untuk membahas apakah BUMN kontraktor bisa membantu mempercepatnya. Kesimpulannya: tidak bisa. Persoalannya bukan di pekerjaan proyek, tapi di perizinan.

Saya tidak mau menyerah. Menunggu selesainya proyek jaringan 275 kv itu sungguh merugikan Sumatera. Maka, saya kemukakan ide baru: memba­ngun jalan tol listrik yang lebih besar. Yakni, sistem 500 kv seperti di Jawa (dari Paiton di Jawa Timur ke Suralaya di Banten).

Dasar pemikiran saya: 1) sistem 275 kv itu tidak memiliki unsur kepastian kapan bisa jadi. 2) rute jaringan 275 kv itu juga terlalu panjang. Palembang-PagarAlam-Kilimanjaro-Payakumbuh-Sidempuan-Tarutung-Medan. 3) sistem itu sudah tidak cocok dengan kemajuan ekonomi Sumatera belakangan ini. Beban listrik di Sumatera sudah tidak akan mampu ditanggung oleh sistem 275 kv.

Maka, forum itu menyetujui harus dibangun tol listrik dari Sumsel ke Sumut dengan sistem seperti di Jawa. Saya tidak bermaksud mengoreksi perencanaan lama yang sudah tidak relevan dengan kemajuan baru Sumatera. Sistem 275 kv itu direncanakan 15-20 tahun lalu. Para perencana di masa lalu tentu tidak menyangka kemajuan Sumatera sehebat ini.

Saya minta segera distudi jalan tol listrik 500 kv Sumatera ini. Tiga bulan harus sudah terlihat hasilnya. Tidak perlu utang luar negeri. Tidak perlu juga APBN. Atasi dengan kemampuan si­nergi BUMN. Jalurnya harus lebih pendek. Palembang-Medan lewat pantai timur. Lewat Jambi.

Saya juga bermaksud mengajak para bupati untuk menjadi pemegang saham. Agar perizinan di lokasi-lokasi tapak tower menjadi bagian para bupati. Proyek ini bisa menjadi konsorsium antara BUMN dan pemda. Seperti jalan tol atas laut di Bali. PLN yang tidak punya uang itu cukup sebagai pengguna.

Begitu menantang keadaan ini!

Wallahu A’lam untuk Dua Tokoh Mikroba

Wallahu A’lam untuk Dua Tokoh Mikroba

Dahlan Iskan  ;   Menteri BUMN
JAWA POS,  24 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Mungkin saya belum akan bisa bertemu tokoh kita yang hebat ini: Prof Dr Ali Zum Mashar. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

Padahal, saya pengin sekali bertemu. Dialah penemu mikroba P2000Z yang oleh beberapa pihak disebut mikroba Google.

Keinginan saya itu bermula dari permintaan masyarakat. Yakni, agar BUMN ikut mengatasi tanah pertanian yang tertimbun abu gunung berapi. Baik di Sinabung maupun di sekitar Gunung Kelud.

Abu itu memang bisa menjadi sumber kesuburan, tapi bukan sekarang. Beberapa waktu lagi. Padahal, petani harus segera bercocok tanam.

"Tanah itu akan langsung bisa ditanami kalau diberi mikroba temuan Prof Zum," tulis seorang petani dalam SMS-nya kepada saya.

Saya pun segera melacak keberadaan ahli kita itu. Saya gagal. Saya hanya berhasil memperoleh info yang membuat saya sedih.

Pertama, beliau akan tinggal lama di Dubai. Prof Zum, kata seorang stafnya, lagi dipercaya oleh pemerintah Dubai untuk menerapkan penemuan itu di sana.

Intinya, Prof Zum dipercaya untuk mengubah tanah Timur Tengah itu agar menjadi tanah yang bisa ditanami.

Informasi kedua lebih menyedihkan lagi: beliau mengatakan kepada stafnya untuk tidak mau saya temui.

Penyebabnya sederhana. Beliau merasa kecewa yang amat panjang. Kecewa pada keadaan. Temuannya tidak mendapat kepercayaan yang memadai di dalam negeri. Sejak dari pemerintahan Pak Harto sampai ke pemerintahan-pemerintahan berikutnya. Sampai sekarang.

Apa hubungannya dengan saya? Ini salah saya sepenuhnya. Saya telat mengenal beliau. Blak-blakan saja, saya baru tahu tentang kehebatan beliau itu minggu lalu. Setelah Gunung Kelud meletus.

Memang juga ada selentingan ini: mengapa saya, dalam tulisan saya dulu, memuji pupuk temuan Adi Wijaya. Yakni, ketika saya untuk kali pertama menemui Adi di Grobogan, Purwodadi.

Dalam uji cobanya Adi berhasil membuat produktivitas kedelai menjadi tiga ton per hektare. Dari hanya 1,5 ton per hektare selama ini.

Saat itu saya belum tahu kalau ada penemuan serupa. Yakni, oleh Prof Ali Zum Mashar. Dengan menggunakan mikroba temuan Prof Zum, konon hasilnya bisa lebih hebat dari itu.

Rupanya, dua tokoh peneliti ini lagi perang dingin. Setidaknya di dunia maya. Saya tidak tahu itu. Baru tahu belakangan. "Bukan perang kok, Pak. Saya tidak pernah menanggapi," ujar Adi Wijaya kepada saya kemarin.

Dengan nada merendah Adi mengatakan: saya ini bukan kelas beliau, saya ini masih junior.

Tapi, Adi memastikan bahwa temuan pupuknya itu tidak bisa dibandingkan dengan temuan Prof Zum. "Saya tidak meniru. Memang dulu sering ada proyek bersama. Tapi, temuan saya itu beda," kata Adi.

Inilah penjelasan Adi: temuan saya itu "Prebiotik". Temuan beliau adalah "Probiotik".

Prebiotik adalah materi non-digestible yang mampu menstimulasi pertumbuhan mikroba. Umumnya itu adalah hasil fermentasi sempurna dari biomassa organik.

Sedangkan "probiotik" adalah mikroba yang mendukung berada dalam suatu ekosistem tertentu, mendukung pertumbuhan pada ekosistem tersebut. Istilah ini sebenarnya dipakai dalam istilah pencernaan.

Secara umum prebiotik bisa dibilang nutrisinya mikroba, dan probiotik adalah mikrobanya, yang di pertanian disebut pupuk hayati.

Tentu saya tidak dalam posisi menilai mana yang terbaik. Saya bukan ahlinya. Saya akan menggunakan logika saya sendiri: mencoba keduanya di lahan yang bersebelahan dengan penggarapan dan benih yang sama.

Mudah-mudahan bisa saya lakukan musim tanam yang akan datang. Seperti saat membuat generasi pertama mobil listrik dulu. Ada aliran harus menggunakan gearbox, ada aliran tidak perlu gearbox.

Saya putuskan membuat dua-duanya. Hasilnya sudah ketahuan di lapangan.

Bagaimana dengan lahan yang tertutup abu sekarang? Ternyata tetap bisa langsung ditanami. Hanya perlakuannya harus berbeda. Misalnya, untuk yang lapisan abunya 5-10 cm, pengolahan tanahnya harus sedalam 20 cm.

Sedangkan yang lapisan abunya antara 10 sampai 15 cm pengolahan tanahnya harus sedalam 30 cm. Tentu harus ditambah pupuk organik satu ton per hektare (untuk padi) atau dua ton per hektare untuk tanaman hortikultura.

Tentu saya akan tetap berusaha untuk bisa bertemu Prof Zum. Saya akan minta maaf kepada beliau. Kok telat mengenal beliau. Juga akan minta agar beliau bersedia berdiskusi dengan tim BUMN.

Tokoh seperti beliau tidak boleh lebih dapat penghargaan di luar negeri daripada di negeri sendiri.

Prof Zum, 45, punya sejarah penelitian yang panjang. Beliaulah yang ditugasi menemukan jalan ini: bagaimana agar tanah gambut yang mahaluas di Kalimantan bisa ditanami padi. Waktu itu Presiden Soeharto mempunyai program membuka sawah baru seluas satu juta hektare di Kalteng. Lahan itu berupa tanah gambut yang keasamannya sangat tinggi.

Prof Zum yang lulus dari Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, memperdalam ilmunya di IPB sampai memperoleh gelar doktor.

Kini beliau memiliki produk P2000Z. Pupuk yang ditemukan pada 2000 itu diberi huruf Z di belakangnya sebagai pertanda itu ciptaan Prof Zum.

Mengapa konsumen menyebut P2000Z itu sebagai mikroba Google? Konon itu karena mikroba ini bisa mencari sendiri sasaran mana bagian tanah yang bisa disuburkan.

Wallahu a'lam.

Nasib 5-3-2 untuk Mengoreksi “Zaman Saya”

       Nasib 5-3-2 untuk Mengoreksi “Zaman Saya”

Dahlan Iskan  ;   Menteri BUMN
JAWA POS,  17 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Mereka belum tahu harus berbuat apa. Ke-180 pengusaha kecil yang bergerak di bidang pembuatan pupuk organik ini lagi gundah. Awalnya dari surat seorang dirjen yang dilayangkan ke PT Petrokimia Gresik, yang selama ini mengelola subsidi pupuk organik untuk petani. 

Dalam surat itu disebutkan Komisi IV DPR memutuskan untuk menghapus subsidi pupuk organik.

Itu berarti PT Petrokimia Gresik yang selama ini menjadi pembeli tunggal pupuk organik hasil dari pabrik-pabrik kecil itu akan menghentikan pembeliannya. Sama saja dengan menyuruh pabrik-pabrik tersebut menghentikan kegiatannya. 

Ada 180 pabrik yang harus tutup. Dan, minggu lalu sudah benar-benar tutup.

Selama ini PT Petrokimia Gresik membeli pupuk organik dari mereka dengan harga Rp 1.200 per kilogram. Pupuk itu diolah kembali dengan teknologi modern dan dibuat standar. Misalnya, ditambah mixtro (produk petrokimia) agar bisa sekalian menjadi booster untuk padi. 

Juga harus dipanaskan dengan suhu 350 derajat Celsius untuk mematikan gulma, bakteri, dan jamur yang merugikan tanaman padi.

Setelah itu pupuk tersebut dijual ke petani dengan harga Rp 500 per kg. Dengan demikian, pemerintah memberikan subsidi Rp 700 per kg.

Petrokimia Gresik selama ini juga melakukan kampanye besar-besaran dengan menyosialisasikan rumus "5-3-2". Sukses. Para petani sudah hafal dengan kode itu. Tanpa melakukan itu berarti cara mereka bertani dianggap tidak benar. Sosialisasi ini sangat berhasil. 

Suatu saat saya diundang temu wicara di tengah sawah di Sumedang. Tidak hanya yang laki-laki, ibu-ibu pun bisa menjelaskan apa itu rumus "5-3-2". Demikian juga saat saya menghadiri acara yang sama di Sragen. Di Klaten. Di Bantul. Di Cianjur. Rumus "5-3-2" sudah hafal di luar kepala: 500 kg organik (Petroganik), 300 kg NPK (Ponska), dan 200 kg urea untuk setiap hektarenya.

Itulah pemupukan padi yang benar. Dulu petani mengira tanaman itu kian terlihat hijau kian baik. Bahkan, kalau perlu, hijaunya sampai kebiru-biruan. Akibatnya, banyak petani yang berlomba memperbanyak urea. Padahal, itu hanya "tipuan". Dan mahal. 

Memang, dengan memperbanyak urea warna tanaman jauh lebih hijau. Tapi, ini tidak ada hubungannya dengan upaya memperbanyak buliran padi.

Di awal "zaman saya dulu" (maksudnya di zaman Pak Harto, hehe...) memang pupuk kimia seperti urea, digalakkan segalak-galaknya. Waktu itu memang zaman kekurangan pangan. Produksi beras harus digenjot: sebanyak mungkin dan secepat kilat. Pupuk kimia adalah jalan pintas mengatasi persoalan. Indonesia swasembada beras.

Namun, kemudian disadari bahwa penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus itu telah merusak tanah. Kesuburan tanah berkurang drastis. "Masih enak zaman saya" telah membuat "tidak enak di zaman Facebook danTwitter". 

Mau tidak mau tanah yang mati akibat pupuk kimia itu harus dihidupkan kembali. Harus disuburkan. Caranya: memberikan pupuk organik di sawah-sawah itu.

Sudah lima tahun di zaman Pak SBY ini program menyuburkan kembali sawah dilakukan. Tiap tahun pupuk organik disubsidi. Agar terjangkau. Agar petani mau menebarkan pupuk organik. Agar tanah subur kembali. 

Para petani juga mulai sadar akan pentingnya pupuk organik. Sangat bangga melihat petani mulai fanatik dengan pupuk organik. Rumus "5-3-2" sudah di luar kepala.

Haruskah kini petani kembali ke "zaman saya dulu"? Mengapa di saat seperti itu subsidi pupuk organik justru dihentikan? Haruskah petani lagi yang dikecewakan? Mengapa kelangsungan program Pak SBY ini harus terputus?

Ketika berkumpul dengan 180 produsen pupuk organik itu, Kamis minggu lalu di Gramedia Expo, Surabaya, masih belum ditemukan solusi. Mereka hanya bisa kecewa, mengeluh, dan marah. 

Hadi Mustofa, anak muda Tulungagung yang juga produsen pupuk organik, akhirnya angkat bicara: kalau memang subsidi pupuk organik tetap dihapus, bagaimana kalau harga pupuk nonorganik dinaikkan? Dengan demikian, subsidi untuk nonorganik berkurang. Ini bisa dialihkan menjadi subsidi pupuk organik. Sekalian mengurangi pemakaian pupuk kimia.

Ini berbeda dengan tanaman tebu. Seluruh kepala petani tebu juga berkumpul di tempat yang sama Kamis lalu. Membicarakan upaya peningkatan produksi tebu. Ini sesuai dengan prinsip "gula itu dibuat di kebun, bukan di pabrik gula". Artinya, untuk meningkatkan produksi gula mau-tidak-mau tebunya harus baik. 

Mereka juga sepakat penggunaan pupuk organik di tanaman tebu sangat vital. Tebu yang dipupuk organik jauh lebih subur dibanding yang tidak.

Hanya, untuk tanaman tebu pabrik gula punya sumber pupuk organik yang murah. Pabrik gula menghasilkan limbah organik yang sangat besar. Blotong. Cukup untuk mengorganiki tanaman tebu di wilayahnya. 

Untuk sawah sumbernya tidak tersedia di semua lokasi. Kecuali, kelak, setiap petani punya ternak sapi sendiri.

Tapi, di saat jumlah sapi terus merosot belakangan ini, subsidi pupuk organik harus kita perjuangkan. Apalagi, sebetulnya, nilai subsidi untuk pupuk organik bagi petani ini tidak besar-besar amat. "Hanya" Rp 800 miliar per tahun. Tidak ada artinya dibanding, misalnya, yang "satu itu": k-o-r-u-p-s-i.