Politik Silsilah

Politik Silsilah

Munawir Aziz ;   Peneliti
TEMPO.CO,  28 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Sejauh mana silsilah berfungsi sebagai amunisi politik dan legitimasi citra seorang tokoh? Dalam pertarungan politik pada awal 2014 ini, politik simbol dan pertautan silsilah menjadi penting untuk meningkatkan citra dan membangun legitimasi kultural. Jejak politik di negeri ini memberi ruang bagi kekuatan kultural untuk melapangkan jalan masuk ke istana negara.

Namun seberapa efektifkah jalur silsilah dalam historiografi politik Indonesia? Aswab Mahasin, dalam sebuah esai pada 1980-an, mengkritik tentang paradoks silsilah yang digunakan sebagai legitimasi politik. Mahasin mengisahkan tentang seorang tokoh keturunan Arab yang masuk ke jalur politik, tapi melupakan jalur kulturalnya sebagai pengembang misi ideologis agama. Alih-alih berbuat banyak untuk kelompoknya, justru tokoh keturunan Arab tersebut menyeberang ke sebuah partai yang memberi jabatan struktural untuk kontribusi politiknya. Inilah yang dicap Mahasin sebagai jualan silsilah.

Aswab Mahasin menggarisbawahi bahwa yang diperlukan oleh Indonesia adalah kontribusi dan kerja nyata, bukan sekadar jualan silsilah untuk merebut simpati publik. Tentu saja hal ini menjadi perdebatan sengit di antara kolega Aswab Mahasin dan cendekiawan pada masa itu.

Istilah jualan silsilah kembali menjadi topik penting pada ronde pertama kontestasi politik di tahun ini. Seorang calon presiden, dalam kampanye terbuka, menunggang kuda dan diapit dua punggawa yang membawa bendera. Tokoh tersebut menautkan diri sebagai keturunan Pangeran Diponegoro (1785-1855), tokoh besar keturunan Keraton Yogyakarta yang berani melawan penjajah Belanda pada kurun 1825-1830. Kisah Perang Jawa menjadi penanda atas perjuangan, pertarungan ideologi, dan epik kepahlawanan Pangeran Diponegoro: Sultan Ngabdulkamid Erucakra Sayyidin Panatagama Kalipatullah, gelar yang diemban pada paruh pertama abad XIX (Peter Carey, 2014).

Lalu bagaimana relevansi kisah Diponegoro dan politik citra calon presiden itu? Ada sebuah ruang kosong yang hendak dibentuk melalui narasi sejarah, yakni menautkan kepahlawanan dan perjuangan Diponegoro dengan perjuangan bangsa Indonesia saat ini: menjadi bangsa yang mandiri dan berani melawan penjajahan ekonomi dari bangsa asing. Inilah sebuah tanda dan penanda yang menjadi jembatan kampanye sekaligus amunisi untuk meraup simpati massa.

Sementara calon presiden dan politikus yang lain berusaha membangun citra diri dengan bahasa politik kerakyatan, makan di warteg, ngobrol di angkringan, dan berbasah-basah melawan banjir. Inilah parade citra di tengah pertarungan politik. Bahwa, kontestasi politik tidak hanya bicara tentang parpol, survei dan massa, tapi juga simbol-simbol dan modal kultural atas silsilah.

Kebangsawanan dan trah sebagai penerus kerajaan Jawa menjadi barometer untuk menjemput nilai dan modal kultural. Politik silsilah ini senada dengan feodalisme bangsawan pada awal abad XX, yang justru menggerus perjuangan kemerdekaan. Abdoel Rivai (1871-1937) pada sebuah esai di Bintang Hindia (1920) melawan dengan menegaskan bahwa bangsawan pikiran lebih penting daripada bangsawan silsilah yang belepotan dengan feodalisme.

Bahwa, sesungguhnya, pada momentum politik tahun ini, yang terpenting kontribusi dan rekam jejak nyata, bukan sekadar pamer silsilah.

Ratu Adil dan Mistifikasi Politik

Ratu Adil dan Mistifikasi Politik

Munawir Aziz  ;   Peneliti, visiting researcher di Goethe Universitat Frankfurt Jerman, Direktur the North Coast Center (NCC) Staimafa Pati
SUARA MERDEKA,  22 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
TAMPILNYA Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dari PDIP, menjadi penanda pertarungan politik di panggung terbuka. Jokowi menerima mandat tertulis dari Megawati Soekarnoputri, sang pe­mimpin dan simbol trah Soekarno di partai banteng moncong putih. Tentu saja, tampilnya Jokowi membawa beberapa catatan penting di tengah pertarungan politik yang semakin panas, mendekati pemilu legislatif pada 9 April dan pemilihan presiden pada 9 Juli mendatang.

Kehadiran Jokowi tidak saja menandai era baru dalam tradisi politik PDIP bahwa trah biologis Soekarno, dapat digantikan trah ideologis. Trah ideologis Soekarno diwarisi oleh Megawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra dan barisan putra-putri Bung Karno. Juga, Puan Maharani sebagai putri Megawati, yang mewarisi sikap teguh dan karakter sang ibu. Pewarisan trah biologis menuju trah ideologi ini penting, untuk menandai gerak langkah PDIP di tengah pertarungan politik yang makin kencang.

Jokowi mewarisi ide-ide pemikiran Soekarno, dengan memperhatikan nasib wong cilik. Ia menjadikan Solo sebagai kota yang nyaman, dengan program kesejahteraan rakyat dan penghijauan, juga pertumbuhan ekonomi yang luar biasa di Provinsi Jawa Tengah. Sementara, ketika menangani DKI Jakarta, Jokowi tampil lugas dengan gaya blusukan. Duetnya bersama Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) menjadi simbol kepemimpinan yang lengkap: Jokowi tampil sebagai pribadi yang mengayomi rakyat, terjun langsung ke jantung problem sosial, dan kokoh dengan prisipnya. Sementara, Ahok mengimbangi dengan menghantam preman-preman Ibu Kota, dan berani membereskan birokrasi yang ruwet dengan kepentingan politik.

Kolaborasi Jokowi-Ahok inilah yang menjadikan ide Jakarta Baru dapat dilaksanakan. Kepemimpinan sekitar 1 tahun 6 bulan Jokowi-Ahok menjadi penanda baru tentang bagaimana mengurai problem sosial Ibu Kota, yang menjadi cermin masalah bangsa.

Ratu Adil 

Tampilnya Jokowi tidak tanpa hantaman. Ia diserang oleh Prabowo yang menagih janji Megawati dalam perjanjian Batu Tulis. Kubu PDIP mengelak serangan Partai Gerindra dengan menunjukkan kegagalan koalisi Megawati-Prabowo pada Pemilu 2009. Sementara, serangan dengan isu ideologi dan agama juga menghantam Jokowi. Ia dituduh mewariskan pemerintahan kafir, karena memberikan tonggak kepemimpinan kepada FX Hadi Rudyatmo sebagai wali kota Solo. Profil Ahok sebagai penerus Jokowi dalam tampuk kuasa DKI Jakarta juga menjadi basis kampanye negatif untuk menjatuhkan capres PDIP.

Tapi, apa sebenarnya yang menjadikan Jokowi melejit? Selain strategi politik, pemilihan isu dan ketepatan figur, yang menjadi instrumen adalah Jokowi sebagai antitesis dari politikus-penguasa saat ini. Di tengah riuhnya panggung demokrasi yang disesaki oleh politikus korup, bermental kolonial dan pribadi pengeluh, Jokowi tampil sebaliknya: ia mampu menyelami problem sosial warga, lewat gaya blusukan, dan siap bergumul dengan wong cilik yang selama ini terpinggirkan.

Jokowi juga hadir di tengah kerinduan rakyat tentang sosok Ratu Adil. Ia tampil laiknya rakyat merindukan Diponegoro, Tjokroaminoto, Soekarno dan Jenderal Soedirman. Jokowi menggunakan sentuhan satriya piningit untuk membawa api inspirasi dan penggerak perubahan rakyat, yang tengah terkapar karena bencana dan politik korup. Inilah peran Jokowi yang dirindukan oleh rakyat.

Figur Jokowi juga identik dengan Jenderal Soedirman. Simbol jenderal revolusi dan perang gerilya ini menjadi bahan kampanye tim sukses PDIP di media sosial. Jokowi disandingkan sebagai figur yang siap bekerja dan bergerilya untuk mengurai masalah rumit bangsa, sekaligus memberikan solusi nyata. Tentu saja, problem di Solo dan DKI Jakarta tidak sebanding dengan problem sosial Indonesia, yang merentang luas dari persoalan ekonomi, sumber daya alam, pertahanan, ideologi, dan agama.

Jangan sampai Jokowi hanya menjadi korban dari mistifikasi politik. Dengan menempatkan simbol Ratu Adil dan satriya piningit, perlu komunikasi politik yang cerdas dan mengena di tengah kegelisahan bangsa. Pilihan cerdas isu kampanye, strategi koalisi dan ketepatan memilih pasangan calon wakil presiden (cawapres) adalah bagian dari membongkar mistifikasi politik. Semoga Ratu Adil bukan sebatas jargon politik, ia sejatinya harus hadir di tengah bangsa yang kehilangan visi.

Akar Kepemimpinan

Akar Kepemimpinan

Munawir Aziz ;   Peneliti dan Penulis Buku
TEMPO.CO,  20 Maret 2014
                                    
                                                                                         
                                                      
Isu kepemimpinan menjadi bagian penting dalam ritme pemilihan umum. Orang-orang di negeri tengah demam pemimpin. Demam ini tampak di televisi, koran, majalah, hingga warung-warung kopi. Dari Jakarta hingga ke pelosok-pelosok desa. Wajah calon pemimpin memaksa mata untuk melotot atau sekadar melirik mereka. Hasilnya? Pelbagai karakter kepemimpinan tampak tersebar, siap disajikan, dan dikonsumsi publik. Tentu saja, laiknya masakan yang dihidangkan: ada yang ditelan, ada yang dimuntahkan. Inilah gambaran pertarungan politik menjelang pemilihan umum legislatif maupun presiden.

Dari peta pertarungan politik-survei lembaga, catatan media, atau indeks media sosial-yang tampak menonjol adalah sosok Jokowi. Sosok ini sudah ditetapkan sebagai calon presiden dari PDIP, setelah mendapat mandat tertulis dari sang ratu: Megawati Soekarnoputri. Pembacaan dari pelbagai sisi menjadi menarik untuk menafsirkan Jokowi.

Apa yang menjadikan Jokowi tampil sebagai figur yang kuat dalam kepemimpinan? Tentu saja, setting politik, strategi media, dan kampanye simpatik yang dilakukan Jokowi selama ini menjadi instrumen utama. Tapi, akar kepemimpinan menjadi penting di tengah pertarungan dengan tokoh-tokoh lainnya.

Jokowi memahami benar konteks dan teks. Ia mampu membahasakan teks dengan bersandar pada konteks. Ketika di Solo, ia menggunakan strategi priayi Jawa yang menebar kharisma. Hubungan dengan Keraton Solo dijaga rapi, lalu menyiapkan akar kekuasaan dan komunikasi terbuka dengan masyarakatnya. Kemudian, ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia tampil sebagai figur yang terbuka, dengan segala strategi komunikasi dan blusukan politiknya. Inilah yang menandai akar kepemimpinan Jokowi.

Jokowi mampu mentransformasikan nilai, akar kepemimpinan, dan lobi-lobi kekuasaan yang menjadi bagian dari strategi sang pemimpin. Ia mampu berbicara dengan bahasa petani, bahasa pedagang, bahasa wong cilik, sekaligus mengikuti logika bahasa politis, bahasa cukong, bahasa wartawan luar negeri, hingga diplomat internasional. Strategi komunikasi inilah yang tidak dimiliki oleh calon-calon presiden yang lain: kuatnya akar kepemimpinan.

Dengan penggunaan bahasa yang tepat sasaran inilah Jokowi mampu menciptakan kondisi bahwa dirinya adalah berita. Gaya kepemimpinan, formulasi bahasa, dan visi kebijakan inilah yang mendorongnya tampil sebagai petarung yang menguasai medan, tanpa lupa menyapa lawan.

Jangan lupa, hadirnya Jokowi di panggung-panggung politik juga menggunakan simbolisasi pemimpin. Ketika di Solo, Jokowi menghadirkan dirinya sebagai Joko Tingkir, sang penguasa kerajaan Pajang. Simbolisasi ini penting untuk menguatkan akar kepemimpinan. Saat ini, simbol Jenderal Soedirman-sang pahlawan revolusi-menjadi strategi untuk menguatkan akar kepemimpinan Jokowi. Simbolisasi pemimpin menjadi energi yang digerakkan untuk menguatkan visi dan mengeksekusi misi.

Di ronde awal pertarungan, Jokowi sudah memiliki amunisi kuat dan energi segar: ia memiliki akar kepemimpinan kuat. Inilah yang tidak dimiliki oleh petarung-petarung lain di tengah ambruknya makna politik pencitraan yang menjadi strategi penguasa dalam satu dekade terakhir.

Mental Penerabas

Mental Penerabas

Munawir Aziz  ;   Peneliti
TEMPO.CO,  12 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                             
Bagaimana bangsa ini menjelaskan masa depannya?  Simaklah, bagaimana tiap hari krisis mental warga negeri ini: menerobos portal pembatas kereta api, bangga membuang sampah sembarangan, hingga dengan percaya diri merusak fasilitas umum. Hal ini menjadi cerminan hidup orang-orang di jalan. Lalu, bagaimana hal ini berakar? Dalam ranah sistemik, yang hadir adalah mental penerabas. Pada bagian terendah, adalah keacuhan tingkat tinggi untuk merawat milik bersama. Sementara itu, di wilayah elite, yang hadir adalah budaya korupsi dan menjiplak.

Tradisi korup dan plagiat sejatinya lahir dari akar yang sama: mental menerabas. Bangsa bermental penerabas ingin menikmati kesuksesan tanpa proses, ingin menjemput kemewahan tanpa kerja keras. Lalu, korupsi menjadi bagian dari manifestasi mental kerdil dalam panggung politik. Sementara itu, plagiat adalah wujud ketidakberdayaan mental, kelemahan moral, dan hilangnya integritas di ranah akademik. Kedua hal inilah-korupsi dan penjiplakan-yang selama ini menjadi batu sandungan dalam mendorong transformasi bangsa ini ke arah yang lebih cerah.

Masalah mental ini menjadi bagian penting dari perdebatan filsafat pengetahuan pada kurun waktu lima dekade terakhir. Beberapa sarjana dan pemikir membahas bagaimana memformulasikan mental manusia Indonesia sebenarnya. Krisis mental bangsa Indonesia tentu saja menjadi bagian dari sindrom pasca-kolonial, di mana pengetahuan yang dikokohkan oleh peradaban kolonial mengkonstruksi mental manusia di negeri ini. Akibatnya, yang tersisa adalah kekaguman terhadap yang asing, rendah diri, dan tidak berani berkompetisi.

Lemahnya mental bangsa Indonesia, dalam pengamatan Koentjaraningrat, merupakan akar dari krisis. Koentjaraningrat (1996) menyebut bahwa orang Indonesia mengidap penyakit kronis berupa mentalitas penerabas. Mentalitas ini membawa orang Indonesia menjadi mudah terpesona, terkagum karena rendahnya wawasan, menginginkan cara-cara instan untuk menghasilkan sesuatu, dan hilangnya rasa kepekaan terhadap mutu. Koentjaraningrat melacak akar lahirnya mental penerabas pada sindrom pasca-kolonial, kekacauan zaman revolusi, dan pasca-revolusi.

Adapun budayawan Mochtar Lubis (1997) menganggap bahwa mentalitas bangsa ini masih percaya pada takhayul. Dalam artian, takhayul ini menjadi penghambat kemajuan dan membunuh semangat kerja manusia Indonesia untuk meningkatkan produktivitas. Tentu saja, takhayul berbeda dengan kepercayaan terhadap hal gaib. Menghamba takhayul hanya menjadi manifestasi dari kemalasan.

Mental penerabas berbanding lurus dengan kemalasan. Ia yang menanam dan menyuburkan mental penerabas, dengan sendirinya akan membunuh semangat dan mematikan akal sehat. Orang-orang yang bermental penerabas sejatinya tak layak hadir di panggung politik, karena ia akan mengingkari proses menjadi negarawan. Di sisi lain, mereka yang bermental kerdil perlu dibersihkan dari ranah pendidikan. Sebab, orang-orang yang bermental penerabas akan memblokir jalur menjadi begawan: fitrah sang pencerah, pelayan pengetahuan.

Moral Akademikus Kita

Moral Akademikus Kita

Munawir Aziz  ;   Esais dan Peneliti, Alumnus Pascasarjana UGM;
Peneliti tamu di Goethe Frankfurt Universitat, Jerman
SINAR HARAPAN,  24 Februari 2014

                                                                                         
                                                                                                                       
Kasus-kasus plagiarisme yang marak terjadi menunjukkan keroposnya bangunan integritas akademikus dan intelektual.

Konstruksi moral dan kekuatan integritas para akademikus pelan-pelan runtuh karena tradisi instan dalam menghasilkan karya. Dari lubang ini, muncul kasus-kasus penjiplakan yang dilakukan dosen, mahasiswa, bahkan agamawan.
Heboh penjiplakan Anggito Abimanyu menambah rentetan panjang catatan negatif tentang perilaku akademikus kita. Abimanyu didakwa menjiplak setelah artikelnya “Gagasan Asuransi Bencana” yang dimuat di harian Kompas (10 Februari 2014), hampir sama dengan artikel “Menggagas Asuransi Bencana” karya Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasan yang pernah dimuat di Kompas, 21 Juli 2006.

Artikel Anggito Abimanyu mengutip mayoritas tulisan Sinaga dan Kasan tanpa menyebutkan sumber penulis. Di akhir tulisan, ia menambah keterangan tentang riset kebencanaan yang dilakukan UGM.

Tentu saja kasus ini menjadi heboh di tengah kampanye Anggito Abimanyu tentang reformasi birokrasi dan penataan lembaga. Abimanyu, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, dikenal sebagai akademikus dan birokrat berprestasi. Ia piawai menyampaikan gagasan, membuat konsep, hingga eksekusi dalam menata birokrasi.

Duetnya dengan Sri Mulyani di Kementerian Keuangan menandakan sukses reformasi birokrasi. Selanjutnya, Anggito Abimanyu membantu Menteri Agama Surya Dharma Ali menangani urusan haji di Indonesia. Ia dipercaya sebagai Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama.

Dalam kasus ini, Anggito memang terbukti bersalah. Ia berhak mendapatkan hukuman akademik. Namun, sikapnya untuk mengakui kesalahan dengan menjelaskan kronologi dan mundur dari UGM, menjadi bagian dari sikap bertanggung jawab. Inilah ujian integritas dan moral Anggito Abimanyu.

Bercermin dari kasus Anggito Abimanyu, tentu saja yang menjadi sorotan utama adalah etos intelektual. Dari kasus-kasus plagiarisme yang tercatat selama ini, lebih dari 100 dosen terjebak kasus penjiplakan (Data Kemendikbud). Moral akademikus kita perlu disegarkan dengan mengukuhkan kembali etos dan kejujuran.

Krisis Moral

Hancurnya fondasi ilmu pengetahuan merupakan inti dari keroposnya nilai-nilai akademik. Ini berpengaruh pada mentalitas dan moralitas manusianya. Plagiarisme menjadi bagian dari bunuh diri kaum intelektual.

Proses menuju tahapan bunuh diri intelektualitas inilah merupakan bencana ilmu pengetahuan, yang tak kalah dahsyat dengan bencana alam yang menghantui warga di seluruh pelosok negeri ini. Krisis jati diri dengan fakta penjiplakan, hadir berbarengan dengan lunturnya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan etika moral sebagai konfigurasi dasar peradaban.

Intelektualitas ataupun kecendekiawanan warga Indonesia sedang diuji situasi zaman. Pemerintah dan kultur masyarakat tak selalu beriringan dengan aspirasi para akademikus.

Tantangan menjadi intelektual yang jujur dan berintegritas semakin mengadang kuat. Usaha-usaha kaum intelektual sebagai representasi kerja ilmu pengetahuan dan peradaban semakin sulit diwujudkan. Godaannya jelas, budaya materialisme serta nalar instan yang menyelimuti.

Edward Shils (1980) menyebutkan, "kaum cendekiawan ialah sekumpulan orang di masyarakat mana pun yang memakai lambang-lambang yang lingkupnya sangat umum dan kaitannya abstrak, yaitu simbol-simbol mengenai manusia, masyarakat, alam, dan jagad raya."

Simbol-simbol ilmu pengetahuan berupa arsip sejarah, buku, dan kejujuran dalam berkarya telah berangsur dihancurkan. Menjiplak karya orang lain, kemudian diakui sebagai karya sendiri merupakan usaha menghancurkan integritas pribadinya.

Belajar dari kasus Anggito Abimanyu, banyak yang bisa dijadikan refleksi. Kasus Anggito mengabarkan pentingnya kehati-hatian untuk terus menjaga integritas moral. Sejatinya, kesalahan fatal menulis satu artikel menjadi “kiamat 800 kata” bagi seorang akademikus. Kesalahan ini menghapus jejak-jejak intelektual dan menandai noktah hitam dalam catatan akademik hidupnya.

Kearifan Prof Damardjati

Kearifan Prof Damardjati

Munawir Aziz  ;   Alumnus Pascasarjana UGM
TEMPO.CO,  21 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Prof Dr Damardjati Supadjar adalah biografi tentang kearifan. Seluruh hidupnya diwakafkan untuk menyelami nilai-nilai Jawa, menyerap filosofinya, dan menyebarkan kepada murid-muridnya. Sebagai orang yang sering ngangsu kaweruh-baik melalui kuliah, seminar, maupun buku-bukunya-saya dan teman-teman UGM sangat merasa kehilangan atas wafatnya pada 17 Februari 2014.

Kisah hidup Pak Damar-begitu panggilan akrabnya-menjadi referensi bagaimana intelektual mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya. Dosen filsafat Universitas Gadjah Mada ini seakan sudah berada pada tahapan begawan, yang hanya ingin menceburkan diri pada ilmu dan memberi pencerahan kepada murid-muridnya. Sebagaimana seorang sufi, Pak Damar mampu mengelola ilmu sebagai jembatan untuk mencerahkan hati, juga jalan menuju Tuhan.

Damardjati kecil lahir di lereng utara Gunung Merbabu, Magelang, pada 30 Maret 1940. Ia tumbuh dalam tradisi kawasan Gunung, yang kaya akan pernik budaya dan kearifan hidup. Inilah fondasi utama Pak Damar dalam mencerap ilmu dan memaknai filsafat. Dari beberapa ceramah dan kuliahnya terakhir, terlihat bahwa Pak Damar mampu mengelola pengetahuan sebagai inspirasi.

Pak Damar juga kaya humor. Lelucon menjadi bingkai inspirasi dan nilai-nilai hikmah yang beliau ajarkan. Ia berujar, "Pencari ilmu itu seperti detektif yang menyelidiki sebuah fakta, gejala, peristiwa, lalu menyampaikan hipotesa, menguji, dan akhirnya menemukan hubungan antar-fakta, sehingga kemudian mengambil kesimpulan." Inilah kerangka pemikiran Pak Damar, yang menganggap ilmu sebagai-dalam istilah pesantren-manhaj al-fikr (metodologi berpikir). Pandangan Pak Damar selaras dengan apa yang disampaikan Syekh al-Mawardi dalam kitabnya, Ad-Dunya wa ad-Din, yang mengungkap filosofi ilmu.

Pak Damar, menulis beberapa karya: Kata-kata Kunci, Wulang-wulang Kejawen (1984), Etika dan Tata Krama Jawa Masa Lalu dan Masa Kini (1985), serta Filsafat Sosial Serat Sastra Gending (2001). Dalam karya terakhir, Pak Damar memaknai serat karya Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593-1645), Sang Raja Mataram. Karya ini menjadi penanda penting dari cara pandang, posisi keilmuan, dan kearifan hidup Pak Damar, dengan menganalisis secara mendalam teks serat dalam kerangka filsafat sosial. Inilah titik pijak keilmuan Pak Damar.

Dari beberapa ceramah, Pak Damar mengungkapkan: "hidup ini seperti matematika, dan kita harus belajar dari angka nol." Ia menjelaskan, "Kalau diperhatikan, selama hidupnya manusia hanya menjumlah atau menambah, misalnya nambah harta, nambah anak, atau nambah jabatan. Jika begitu, niscaya hidupnya tidak akan cepat menuju kesempurnaan, menuju infinitum." Dari ungkapan Pak Damar, jelas bahwa tujuan hidup adalah menuju infinitum (ketidakterbatasan).

Karya disertasi Pak Damar membedah pemikiran Alfred North Whitehead (1861-1947). Menukil Withehead, Pak Damar menjelaskan bahwa, "Tuhan bisa dinalar, misalnya dengan mengandaikan adanya titik bergantung pada garis, garis pada bidang, bidang pada ruang, dan seterusnya." Penalaran terhadap Tuhan ini menjadi pintu untuk memahami hidup dan kesejatian.

Selamat jalan, Sang Begawan.

Jejak 1965 : Identitas Keindonesiaan Sastrawan Eksil

     Jejak 1965 : Identitas Keindonesiaan Sastrawan Eksil

Munawir Aziz  ;   Alumnus Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada,
Direktur Riset the North Coast Center (NCC) STAI Mathali'ul Falah Pati
KOMPAS,  16 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Kisah politik Indonesia dalam narasi September-Oktober, 48 tahun yang lalu, masih berdampak pada gelanggang sastra masa kini. Tidak hanya pada ranah ideologi, antara pendukung Lekra dan Manikebu, tetapi juga pada sastrawan eksil yang terkena dampak tragedi politik 1965. Kisah-kisah tentang sastrawan yang menempuh studi di luar negeri, mayoritas di negeri-negeri Balkan, menjadi narasi penting tentang pertumbuhan sastra Indonesia. Mereka yang menjadi eksil masih menyimpan harapan untuk pulang ke negeri asal. Imaji dan narasi keindonesiaan sastrawan eksil berkontribusi penting untuk merawat identitas kebangsaan dalam sastra Indonesia masa kini.
Indonesia tak sekadar hadir sebagai batas-batas kenegaraan, ia menjelma sebagai identitas dalam imajinasi penyair ataupun sketsa pelukis. Bayangan tentang keindonesiaan inilah yang menarik untuk ditelusuri, dalam konteks menemukan, menjadi, dan memaknai Indonesia. Lalu, bagaimana imajinasi keindonesiaan dalam historiografi penyair Tanah Air? Menziarahi sajak-sajak dari penyair yang mengembara di luar negeri pascatragedi 1965, seolah menemukan keindonesiaan dalam perspektif dan ”rasa” yang lain.
Pada zaman Orde Lama, ketika Soekarno berkuasa, banyak dari pemuda, intelektual, dan seniman dari Tanah Air yang dikirim ke luar negeri untuk belajar ataupun menyerap modernisme yang terjadi di Eropa. Tujuannya jelas, mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, sampai kebudayaan negeri lain, untuk diaplikasikan di negeri ini. Proyek besar ini untuk mengejar pembangunan fisik dan pengetahuan warga Indonesia, dengan menggunakan duta-duta ilmu pengetahuan dan kebudayaan, di antara sekian duta itu hadir juga penyair-penyair potensial. Namun, ketika tragedi 1965 meletus, sebagian besar dari delegasi Indonesia yang belajar di negeri asing tak dapat kembali ke Tanah Air karena perkembangan politik dan pergantian rezim. Jadilah, mereka hidup di negeri asing dengan segala kisah sedih, memori, harga diri, ataupun identitas sebagai manusia.
Sebagai manusia Indonesia yang hidup di tanah asing, yang merindukan Tanah Air, tetapi tak dapat kembali, tentu mengalami guncangan mental yang mendalam. Memori keindonesiaan merupakan bayangan hitam yang terus menguntit, jauh sekaligus dekat. Penyair-penyair merasa hidup jauh dari lingkaran keluarga, tetapi terasa dekat jika membayangkan. Puisi dan prosa menjadi media alternatif untuk menyalurkan hasrat keindonesiaan para penyair eksil. Hasrat untuk pulang terasa menggetarkan, kisah perjuangan di negeri asing dan pergumulan perasaan untuk tetap menjadi Indonesia, atau merasa asing, merupakan pergolakan yang menggumpal dalam sajak. Bagaimana imaji keindonesiaan dalam sajak-sajak penyair eksil?
Identitas dalam kenangan
Keindonesiaan menjadi bayangan jauh dan dekat dalam imaji para penyair eksil. Beberapa penyair, semisal Hersri Setiawan, Sobron Aidit, dan Agam Wispi, serta beberapa nama lain seperti A Kembara, A Kohar Ibrahim, Alan Hogeland, Asahan Aslam, Chalik Hamid, Kuslan Budiman, Magusig O Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana, Soepriadi Tomodihardjo, Satyadharma, dan Z Afif, menjadi bagian penyair eksil yang terus-menerus untuk mempertanyakan identitas. Kenangan akan Tanah Air menjadi latar belakang imajinasi, pergolakan politik meletup lewat sajak dan prosa, serta kerinduan akan kampung halaman ataupun sang ibunda memancar dalam puisi-puisi mereka.
Penyair Hersri Setiawan mempertanyakan diri dan mempertaruhkan identitasnya dalam puisi ”Sajak Ulang Tahun”Jangan tanya siapa aku/ Karena aku hanya satu pribadi/ Yang berjanji pada sendiri/ Tatap benda-benda di langit/ Mata hari di siang hari/ Bulan bintang di waktu malam/ Semua beredar pada sendiri. Sajak ini merupakan puncak perenungan Hersri akan identitas dirinya, yang terombang-ambing sebagai bagian warga Indonesia ataupun asing. Kebimbangan identitas ini merupakan problem yang dialami sebagian besar penyair eksil, yang hidup di tanah asing, tetapi masih terus mengharap pulang.
Tanah Air dan identitas diri saling bertaut sebagai pertanyaan penting penyair eksil. Memori Tanah Air dan keluarga masih terus membayang. Hasrat pulang semakin tak terbendung, tetapi kepulangan hanya akan menyisakan tragedi dan kisah sunyi. Akhirnya, perjumpaan diri dengan memori masa silam hanya seolah ziarah mimpi. Agam Wispi menuliskan dilema ini dalam sajak ”Ziarah”. Akhirnya orang menziarahi dirinya sendiri/ Membangkitkan dalam diri apa-apa yang sudah mati/ Di makammu aku mau menghidupkan kembali/ Kata terima kasih/ Meski kau tak mendengarnya, hanya suara kata hati. 
Perjalanan panjang mengunjungi tanah-tanah asing hanyalah menemukan bayangan tentang Tanah Air. Kisah perjalanan ini selalu membangkitkan kenangan tentang tujuan pulang. Bahwa, setiap perjalanan adalah menuju rumah. Namun, hal ini tak berlaku bagi penyair-penyair eksil. Pulang menuju rumah merupakan pembelokan dari kepulangan yang sesungguhnya. Rumah masih tetap ada, tetapi ia tak sanggup menggantikan rumah Tanah Air, rumah yang dihuni sang bunda ataupun kekasih. Menziarahi diri sendiri menjadi refleksi untuk terus mempertanyakan identitas diri, yang terasing dan jauh dari kenangan.
Pada konteks hasrat kepulangan ini, Asahan Salam teringat pada sosok ibunda yang telah lama ditinggalkan. Pada sajak ”Kelasi Pulang Senja”, Asahan menulis: Pulang anakku, terlalu lama kau bermain/ Aku yang selalu berjalan/ Aku manusia pergi yang selalu lupa waktu kembali/ Dan beginilah hukuman itu datang/ Suara bundaku tak hilang hilang/ Kini masih senja/ Tapi juga sudah sia-sia/ Bila kembali/ Hilang sudah wajah bunda. Ibunda selalu menjadi rumah yang sebenarnya, ia tak tergantikan oleh konstruksi fisik ataupun kebahagiaan yang lain. Suara bunda terus membayang untuk meminta anaknya pulang, yang disekap perjalanan, dan terkatung-katung di negeri asing. Penyair ingin pulang, tetapi ia tak bisa. Ia tak diperbolehkan mengunjungi rumahnya sendiri.
Menuju rumah keindonesiaan
Perjalanan pulang menuju rumah keindonesiaan menjadi mustahil dalam bayangan, tetapi terus diperjuagkan. Pergantian rezim demi rezim merupakan titik penantian bagi penyair untuk meniti jalan pulang, menuju rumah kenangan. Namun, yang dirasakan di sepanjang perjalanan itu hanyalah penderitaan, selebihnya kesedihan. Sobron Aidit dalam ”Stetmen Orang Miskin” mengungkapkan: Di mana-mana kulihat-kusaksikan/ kurasakan-juga kuderitakan/ ada yang kaya bukan main/ ada yang miskin bukan kepalang/ yang menindas-menguasai, menipu dan menghisap/ yang tertindas-dikuasai, tertipu dan terhisap/ dua barisan berhadapan secara diametral/ kami sekeluarga dan banyak teman ada di barisan ini
Aidit merupakan salah satu penyair eksil yang terus berjuang untuk menziarahi Tanah Air, walaupun dalam kenangan. Meski tinggal di Paris, sajak-sajaknya terasa dekat karean (karena, red) mempertanyakan problem mendasar manusia Indonesia. Ketimpangan antarkelompok masyarakat, masalah kemiskinan dan konflik, serta kuasa antarelite menjadi pikiran Sobron Aidit selama di tanah asing.
Ketika hasrat pulang ini tak tergantikan, puisi menjadi satu-satunya media untuk menyalurkan rindu. Agam Wispi menulis ”Pulang” sebagai pengakuan di tengah keterasingan: Puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang/ Puisi, hanya kaulah lagi pacarku terbang/ Puisi generasi baru bijak bestari menerjang/ Keras bagai granit cintanya laut menggelombang/ Di mana kau/ Pohonku hijau?/ Dalam puisimu, wahai perantau/ Dalam cintamu jauh di pulau.
Rumah keindonesiaan merupakan tujuan pulang yang sebenarnya. Ketika rumah ini tertutup oleh pintu tiran, puisi menjadi jendela yang menghubungkan dunia asing dan memori masa silam. Para penyair eksil pulang dalam deretan sajak. Ia terus berusaha menuntaskan perjalanan, tetapi hanya menuju entah.
Jika, penyair eksil menggigil kesepian di tanah asing, beberapa sastrawan Tanah Air pun merasa asing di negeri sendiri. Kisah hidup Pramoedya Ananta Toer menjadi tamsil tentang sastrawan yang terasing di rumahnya sendiri, meminjam ungkapan Ashis Nandi—exile at home. Kisah-kisah sastrawan yang kesepian di tanah asing, ataupun terasing di negeri sendiri, merupakan bagian kenyataan historis perjalanan panjang sastra Indonesia. Mereka tetap menjadi bagian dari proses—dalam pikiran Paraktiri Tahi Simbolon—”menjadi Indonesia”. Sastrawan eksil ingin pulang menuju rumah abadinya, tetapi ia terjebak dalam ruang kosong antara; yang jauh tetapi dekat.