Tunjuk Ajar Melayu : Bagaimana Memilih Pemimpin?

Tunjuk Ajar Melayu : Bagaimana Memilih Pemimpin?

Parni Hadi  ;   Wartawan dan Aktivis Sosial
SINAR HARAPAN,  25 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Pemimpin adalah orang yang dituakan, begitu menurut buku Tunjuk Ajar Melayu karya budayawan Riau, Tenas Effendy. Tunjuk Ajar Melayu yang tersusun dalam bentuk pantun indah ini berisi kumpulan petuah, amanah, suri teladan, dan nasihat yang membawa manusia ke jalan lurus yang diridhoi Allah serta berkah-Nya menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

Hampir semua suku yang hidup di Nusantara mempunyai seni tari, musik, berpakaian, membangun rumah, dan memasak bentuk seni lainnya tetapi tidak banyak yang memiliki khasanah budaya syair sekental suku Melayu.

Menyadari pentingnya pemimpin dalam kehidupan manusia, berbangsa, bernegara, bermasyarakat, berumah tangga, dan sebagainya, orang Melayu berusaha mengangkat pemimpin yang lazim disebut “orang yang dituakan” oleh masyarakat dan kaumnya. Pemimpin diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun masyarakat dalam arti luas, dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Orang-orang tua Melayu mengatakan: Bertuah ayam ada induknya, Bertuah serai ada rumpunnya Bertuah rumah ada tuanya Bertuah negeri ada rajanya Bertuah imam ada jemaahnya.

Maksud ungkapan itu adalah, bila negeri tidak beraja, bila kampung tidak berpenghulu, bila rumah tidak bertuan, angin lalu tempias pun lalu, tuah hilang marwah terbuang, hidup celaka sengketa pun datang.

Dikarenakan pemimpin mengemban tugas mulia dan tanggung jawab berat, seorang pemimpin wajib memiliki kepribadian sempurna dan berusaha terus-menerus menyempurnakannya. Sifat dan perilaku diungkapkan, antara lain sebagai berikut:

Yang dikatakan pemimpin Berkata lidahnya masin Bercakap pintanya kabul Melenggang tangannya berisi Menyuruh sekali pergi Mengihimbau sekali datang Melarang sekali sudah.

Makna ungkapan ini sama dengan “sabdo pandito ratu, tan kena wola-wali” dalam bahasa Jawa, artinya raja dan pendeta berkata sekali jadi, tidak boleh ditarik lagi. Bila berjanji ditepati, tidak seperti lazimnya janji kampanye pemilu.

Jangan pilih karena duitnya!

Orang-orang tua Melayu menegaskan, kalau memilih pemimpin jangan karena memandang elok mukanya, tapi pandang elok hatinya atau pilih yang mulia budi pekertinya. Juga dikatakan jangan memilih karena suku, tetapi memilih karena laku. Lebih lanjut, ungkapan adat mengatakan:

Kalau hendak memilih pemimpin: Jangan dipilih karena duitnya Jangan dipilih karena kayanya Jangan dipilih karena sukunya Jangan dipilih karena pangkatnya.

Tunjuk Ajar Melayu

menganjurkan agar memilih pemimpin karena budinya, lakunya, budi bahasanya, adilnya, benarnya, taat setianya, petuah amanahnya, tenggang rasanya, tegur sapanya, ikhlas hatinya, mulia ilmunya, tanggung jawabnya, iman takwanya, lapang dadanya, bijak akalnya, sifat tuanya, dan cergas rajinnya.

Betul-betul “komplit-plit”. Kalau semua orang Melayu dan Indonesia mengamalkan Tunjuk Ajar Melayu, negeri ini sudah lama adil, makmur, dan sejahtera karena tidak ada korupsi. Pertanyaanya, ke mana harus mencari calon pemimpin dengan kriteria seperti itu di tengah gelombang transaksionalisme yang menggulung negeri ini?

Kalau tidak ditemukan calon seperti itu, apakah butir-butir budaya Melayu Riau itu hanya igauan atau mimpi di siang bolong, alias tidak ada gunanya? Tentu saja tidak.

Tunjuk Ajar Melayu dan “petitah-petitih” dari berbagai suku Nusantara, yang penuh nilai kearifan lokal, perlu dilestarikan karena dapat dipakai sebagai pedoman dalam membangun karakter bangsa.

Sultan HB IX : Contoh Pemimpin Profetik

Sultan HB IX : Contoh Pemimpin Profetik

Parni Hadi  ;   Wartawan dan Aktivis Sosial
SINAR HARAPAN,  11 Maret 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                                                                             
Pemilu legislatif, 9 April 2014, kurang sebulan lagi. Semua calon anggota DPR, DPD, dan DPRD sudah lama ancang-ancang untuk melancarkan kampanye yang akan dimulai 16 Maret nanti.

Sebagian malah sudah lama pasang baliho, spanduk, umbul-umbul, dan membagi brosur kepada calon pemilih. Bahkan, capres yang pemilunya masih bulan Juli, sudah lebih dulu secara terang-terangan berkampanye lewat media massa, terutama televisi, walau hal itu dilarang.

Beberapa caleg bercerita telah menyiapkan dan membelanjakan dana dalam jumlah besar untuk meminang suara dari calon pemilih. Dana itu perlu karena calon pemilih sekarang sudah berani bertanya: “Wani piro (berani bayar berapa)?”

Semuanya cenderung transaksional, jual beli. Ada uang, ada suara. Ini penyebab dan sekaligus akibat maraknya korupsi di segala lapisan masyarakat, dari atas sampai bawah. Kondisi ini mirip dengan yang disebut “Zaman Edan” oleh Pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Rekam jejak sebagian calon itu sudah diketahui rakyat, tapi sebagian besar lagi belum, maklum wajah-wajah baru. Untuk menuju Indonesia yang lebih baik, para pemilih dan para calon sendiri memerlukan tokoh rujukan tentang kualitas pemimpin seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini. Tujuannya agar rakyat tidak salah pilih dan para calon bisa mengukur diri: pantaskah saya dipilih?

Banyak orang berharap pemimpin baru hasil pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) nanti lebih baik daripada sebelumnya, yakni pemimpin yang negarawan, berjiwa relawan, mengabdi tanpa pamrih, mengayomi semua orang, baik yang menyukai  maupun yang menentangnya, tidak transaksional, seorang pembaharu, pejuang, pengambil keputusan yang tegas, tidak suka mengumbar janji, tetapi sekali bicara ditepati.

Pemimpin Profetik

Pemimpin dengan kualifikasi seperti itu adalah orang yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan spiritual. Ia menjalankan kekuasaannya tidak hanya dengan kecanggihan akalnya, tetapi sekaligus kemampuan spiritualnya berdasar petunjuk yang diterima dari Tuhan berkat “laku” batin yang dilakoninya.

Praktik kepemimpinan seperti itu dilakukan para nabi dan orang-orang suci, dari agama dan kepercayaan apa pun. Pemimpin dengan kualitas seperti itu, saya sebut pemimpin profetik atau pemimpin kenabian (prophetic leader) yakni pemimpin yang meneladani akhlak dan perilaku para nabi.

Indonesia telah melahirkan putra-putri terbaiknya yang memiliki sifat-sifat pemimpin yang patut diteladani dan dapat dijadikan rujukan. Satu di antaranya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX (12 April,1912 - 2 Oktober 1988), seorang raja dan pejuang.

Sebagai raja yang berdaulat, atas kesadaran dan cintanya kepada Republik Indonesia, HB IX dengan sukarela menyerahkan wilayah kerajaan Yogyakarta menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

HB IX pernah menjabat menteri pertahanan, menteri perekonomian, dan wakil presiden. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka, tokoh olahraga dan tokoh sosial-budaya.

HB IX  dikenal  pendiam, hemat kata, tidak banyak bicara, tapi sekali bicara ditepati sesuai ungkapan sabda pandita ratu. Tentang kisah keteladanan HB IX dapat dibaca di buku Tahta untuk Rakyat dan Sultan HB IX: Inspiring Prophetic Leader.

Ada beberapa contoh keteladanan HB IX: sekalipun sejak kecil dididik dalam lingkungan budaya Barat (Belanda), waktu dinobatkan sebagai raja Yogyakarta, 18 Maret 1940 beliau dengan tegas menyatakan, “Saya pertama-tama dan tetap orang Jawa.” Ketika Jakarta, ibu kota RI tidak aman karena ancaman NICA/Belanda, HB IX mengundang Bung Karno dan  Bung Hatta serta seluruh pemimpin pemerintah pusat pindah ke Yogyakarta.

Per 1 Juni 1946, Yogyakarta jadi Ibu Kota RI. Saat pemimpin militer Belanda ingin menggeledah Keraton Yogya yang dianggap sebagai tempat persembunyian TNI dan gerilyawan, beliau menjawab, “Langkahi dulu mayatku.”

Untuk membiayai pemerintahan RI pascapengakuan kedaulatan oleh Belanda, 27 Desember 1949, HB IX menyerahkan uang keraton sebesar 6 juta gulden kepada Presiden Soekarno, tanpa kuitansi, tidak mau disebut, apalagi minta kembali.

Ketika seorang perempuan pedagang minta tumpangan mobil untuk mengangkut  dagangannya ke pasar, Sri Sultan dengan senang hati memenuhinya.

Tanpa mengenali sang sopir, si “Mbok bakul” itu  mau membayar ongkos tumpangan. Ketika uang itu ditolak, ia marah. Tapi, begitu diberi tahu orang lain bahwa sang sopir adalah Ngarso Dalem (Raja), si Mbok langsung jatuh pingsan.

Betapa pun HB IX tetap manusia biasa, yang tidak sempurna, dan itu diceritakan kepada putranya, Herjuno (kini HB X) dan memintanya agar lebih berani mengungkapkan kebenaran daripada dirinya sendiri.

“Untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, saya memilih diam, tidak bicara kepada Bung Karno dan Presiden Soeharto (atas kekurangan dan kekeliruan yang terjadi), tapi diam saya itu ternyata membuat rakyat tetap bodoh dan miskin,” kata HB IX seperti ditirukan HB X. Sebuah pengakuan, mungkin juga penyesalan.  

Dari kisah dan penuturan saksi mata, HB IX adalah seorang pemimpin profetik sesuai dengan gelarnya “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatulah Kaping IX. Artinya: Raja/kepala negara, panglima perang, dan penata kehidupan beragama”

Pencak Silat, Warisan Budaya Dunia

Pencak Silat, Warisan Budaya Dunia

Parni Hadi  ;   Wartawan dan Aktivis Sosial
SINAR HARAPAN,  04 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
Dulu pendekar pencak silat atau  jawara dianggap “jagoan” atau orang yang berilmu tinggi secara fisik dan lebih-lebih lagi secara spiritual-keagamaan. Di antara mereka banyak yang digelari “orang sakti”. Dalam perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI, para pendekar  berkontribusi besar.

Perguruan pencak silat terdapat di banyak daerah Nusantara untuk mengajarkan ilmu bela diri dan ilmu spiritualitas dengan menjalani rirual-ritual serta pantangan-pantangan tertentu. Silat melestarikan  budaya dan kearifan lokal, sekaligus sebagai benteng terhadap penetrasi budaya asing yang dianggap merugikan. Beberapa  pesantren mengembangkan ilmu pencak silat. Karena itu, jangan heran jika ada kiai yang ahli ilmu agama sekaligus jago silat. 

Memang, silat saja bukan sekadar olahraga bela diri. Jauh lebih dari itu, silat penuh dengan kaidah ilmu kehidupan yang cocok dan untuk  diterapkan dalam kehidupan pribadi, bisnis, manajemen, dan kepemimpinan.

Edwin Hidayat Abdullah, eksekutif  muda, yang juga praktisi silat, mengungkapkan itu dalam bukunya, Keajaiban Silat, Kaidah Ilmu Kehidupan dalam Gerakan Mematikan yang baru diluncurkan di Jakarta, belum lama ini.

Sebagian besar isi buku ini memang menyangkut falsafah hidup, yakni hubungan silat dengan pendidikan kearifan, kepemimpinan, manajemen rezeki, manajemen ambisi, dan manajemen konflik. Dilengkapi dengan sketsa gerakan pesilat, buku ini menjelaskan 17 kaidah jalan silat yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara kaidah-kaidah itu berbunyi: Lebih besar belum tentu lebih baik, semakin kuat kita menekan lawan maka semakin kuat lawan bertahan dan balas dendam. Jangan takut pada pukulan, tetapi waspadailah orang yang melontarkan pukulan. Senjata bukanlah perpanjangan tangan, ia adalah bagian dari tubuh. Ada lagi: Ketika sudah mendapatkan apa yang kita mau, berhentilah sebelum memutuskan untuk menambah. Bagus, kan!

Edwin pernah kuliah di Massachusettss Institute of Technology (MIT), Sloan School of Management, Boston, AS, sekolah manajemen top dunia. Di situ ia terkejut ketika menemukan profesornya, Otto Scharmer, ternyata memasukkan kebijakan Timur dalam penyusunan teori universal yang  berguna bagi “leadership” dan manajemen secara keseluruhan, yakni Teori U. Ia tambah terkejut ketika Peter Senge, yang dijuluki salah satu guru manajemen dunia, mengambil kaidah-kaidah aikido, ilmu bela diri Jepang, yang sama dengan kaidah ilmu silat, dalam bukunya, Dance of Change.

Bukan untuk Berkelahi

Sebelum ke Boston Edwin, putra sejarawan dan mantan Ketua LIPI, Taufik Abdullah, ini menemui guru besar perguruan Silek (Silat) Kumango, Lazuardi Malin Maradjo, di Batu Sangkar, Sumatera Barat. Di sini ia mendapat pelajaran bahwa tujuan belajar silat bukan untuk berkelahi, melainkan untuk empat hal, yakni beribadah atau mengenal Tuhan melalui diri sendiri, menjalin silaturahmi, menjaga kesehatan, dan melestarikan budaya. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi Kumango, pencetus aliran silat Kumango, mengatakan silat lahir hanya 25 persen, selebihnya adalah olah batin, olah rasa atau pemahaman tentang kaidah-kaidah kehidupan universal. Buku ini juga mengutip kaidah-kaidah silat Cikalong atau Maenpo Cikalong dari Paguron Pancer Bumi, Cikalong, Haji Ceng Suryana, Silat Golok Seliwa, dan perguruan lainnya.

Menjadi  adimanusia, kok malu? 

Dr Eddie M Nalapraya, tokoh legendaris pencak silat Indonesia, dalam sambutannya pada buku ini menyatakan, silat meliputi olahraga, bela diri, seni dan spiritualitas yang kuat untuk mendidik seseorang menjadi  adimanusia atau  “a noble man”. Manusia berbudi luhur.

Mantan Ketum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), yang juga mantan Wagub DKI ini membuktikan hal itu. Mayjen TNI (purnawirawan) ini masih tampak sehat, kuat, dan murah senyum pada usianya yang 83 tahun, berkat belajar silat sejak muda.

Pada awalnya ketika baru menjadi Ketum IPSI, lebih 30 tahun lalu, Eddie sering memergoki pesilat yang menyembunyikan pakaian silatnya usai berlatih. Ini beda dengan mereka yang berlatih bela diri asing, yang menggunakan seragam mereka dengan bangga.  Akhirnya, ia  mendapat jawaban yang membuatnya marah dan ingin menangis yakni: “Malu”.

Ia  tidak pernah berpenampilan sebagai jawara atau pendekar silat, tetapi tidak pernah malu mengatakan dirinya pencinta silat. Jika pemuda Indonesia malu menjadi pesilat, katanya, tinggal tunggu waktu mereka meninggalkan  silat dan mengadopsi budaya impor.

Eddie yang membantu pendirian organisasi pencak silat Malaysia mengatakan, negeri jiran itu kini sudah mempunyai akademi pencak silat. Indonesia?

Persaudaraan Pencak Silat Setia Hati Terate, biasa disingkat SH Terate, Madiun, Jawa Timur, kini mempunyai sekitar 2 juta anggota di seluruh Indonesia dan di 15 negara, termasuk Malaysia. Ketua Umum SH Terate, Mas Tarmaji, sudah melontarkan gagasan untuk membangun padepokan pencak silat sebagai tempat berlatih untuk semua aliran pencak silat di Madiun, sekaligus menjadikan kota kelahiran SH Terate itu sebagai Bumi Pencak Silat. Sebagai  Ketum Paguyuban Pawitandirogo (Pacitan, Ngawi, Magetan, Madiun, dan Ponorogo) dan anggota SH Terate, saya mendukung usul itu.

Mengingat  banyak perguruan silat lahir di Indonesia sejak dulu kala, saya bersama Pak Eddie, Bung Edwin, dan Bung Arifin  Purwakananta dari Kampoeng Silat Jampang, sepakat mengusulkan kepada PBB melalui UNESCO agar pencak silat dinyatakan sebagai warisan budaya dunia atau World Cultural Heritage asal Indonesia, sebelum keduluan negara lain!

Politikus, Puisi, dan Korupsi

Politikus, Puisi, dan Korupsi

Parni Hadi  ;   Wartawan, Aktivis sosbudling, Pendiri Dompet Dhuafa Republika
SINAR HARAPAN,  25 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                                                                                       
“Sastrawan, termasuk penyair, adalah orang-orang yang selalu gelisah.”

Jika kekuasaan kotor, puisi membersihkannya. Itu kata siapa? Jangan main-main, ini ucapan John F Kennedy (29 Mei 1917-22 November 1963), presiden legendaris Amerika Serikat. Ah, puisi cuma produk lamunan yang berupa permainan kata-kata indah yang mendayu-dayu, mengharu biru.

Nanti dulu, ada pembacaan puisi yang sempat membuat aparat keamanan Indonesia disiapsiagakan, yakni pada zaman Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

Tepatnya ketika penyair WS Rendra (7 November 1935- 9 Agustus 2009) membaca karyanya, puisi-puisi protes terhadap pemerintah. Tercatat pada 5 Desember 1978 pembacaan puisinya di Yogyakarta dihadiri sekitar 2.500 orang. Jumlah yang fantastis. Penguasa dalam sistem tertutup mana yang tidak miris?

Puisi bukan hanya untaian kata-kata indah yang kosong, melainkan sarat makna, yang dapat mengguncang stabilitas politik dan keamanan plus syaraf kaum yang telah mapan. Puisi Rendra, misalnya, sangat peduli kaum duafa atau orang-orang miskin. Ia berseru:

Jangan kamu bilang negara ini kaya

Karena orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa

Jangan kamu bilang dirimu kaya

Bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.

Pesan seruan itu persis kata seorang kiai tetangga saya, yang mengutip Hadis, sabda Rasulullah Muhammad saw: Bisakah kamu tidur tenang, jika perut tetanggamu keroncongan?

Puisi tidak hanya mengancam kemapanan, tetapi juga mencerdaskan, mencerahkan batin, dan sekaligus menggerakkan orang untuk bertindak. Itu dulu, bagaimana sekarang, pada zaman demokrasi yang terbuka? Ketika semua orang dapat bebas berceloteh, bermain kata-kata melalui media sosial yang bebas hambatan, masihkah puisi mempunyai daya gerak?

Jawabnya tentu saja bisa, tergantung roh yang dikandung puisi itu dan kepedulian kita mendekatkan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap karya sastra dan demikian sebaliknya.

Tolak Korupsi

Sastrawan, termasuk penyair, adalah orang-orang yang selalu gelisah melihat keadaan sekelilingnya yang dianggap tidak sesuai kata hatinya. Itu sejak dulu. Tentang korupsi, misalnya, Pramudya Ananta Toer (6 Februari 1925- 30 April 2006), sastrawan besar Indonesia, yang sikap politiknya dianggap kontroversial, menulis novel Korupsi pada zaman Orde Lama di bawah Presiden Soekarno.

Pram menyoroti munculnya bibit-bibit korupsi sebagai penyelewengan terhadap cita-cita revolusi. Novel itu berpengaruh pada hubungannya dengan pemerintahan Bung Karno. Karya itu mengungkapkan modus dan skala korupsi saat itu. Tentu, jumlahnya belum sebesar sekarang, baik pelaku maupun uang yang diselewengkan.

Karya-karya Pram punya pengaruh besar kepada sastrawan luar negeri. Salah satunya, Tahar Ben Jeloun, sastrawan kelahiran Maroko yang kemudian bermukim di Prancis. Sastrawan terkenal dengan berbagai penghargaan internasional itu menulis novel Corruption, yang diakuinya berdasarkan novel Korupsi karya Pram.

Itu dulu, bagaimana dengan sikap sastrawan dan penyair kita tentang korupsi saat ini, ketika barang haram itu semakin merajalela? Lagi-lagi, sastrawan adalah “makhluk lain” yang tinggal di atas angin karenanya bisa melihat persoalan hidup sehari-hari, termasuk korupsi, dengan lebih jeli.

Banyak penyair kini yang gigih melawan korupsi melalui puisi. Salah satunya adalah para penyair Indonesia yang bergabung dalam Forum Sastra Surakarta. Mereka menerbitkan buku berjudul Puisi Menolak Korupsi (Mei 2013), yang memuat karya 85 penyair setebal 450 halaman.

Biasa, judul karya mereka beranekaragam, ada yang garang, sarkastis, sinis, dan skeptis, tapi tak kurang pula yang lucu.

Demikian pula ragam isinya. Inilah contoh beberapa judul, yaitu “Musang Berbulu Agama”, “Selamat Datang di Negeri Setan”, “Surat Terbuka Kepada yang Terhormat Presiden Susi”, “Anas”,  “Puisi Sapi”, dan “Senjata di Selangkangan”. Berikut contoh cuplikan isinya: “Semoga Monas, bukan berarti monumen Anas!” Ada juga yang berpantun: “Bukit kapur di Singaraja, Ngakunya jujur, eh korupsi juga”.

Ada puisi yang judulnya panjang “Reportase Puisi, Klinik Layanan Iklan Korupsi”, tapi isinya pendek:

Puisi terus ditulis,

Korupsi jalan terus,

Habis.

Soebagijo IN : Sejarawan Pers Indonesia

Soebagijo IN : Sejarawan Pers Indonesia

Parni Hadi  ;   Wartawan, Aktivis sosbudling, Pendiri Dompet Dhuafa Republika
SINAR HARAPAM,  18 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Menjadi wartawan, sastrawan, dan seniman pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945) harus pandai menyamarkan maksud sesungguhnya apa yang ingin disampaikan.

Jika tidak, nyawa adalah taruhannya. Itulah yang dilakukan Soebagijo Ilham Notodijojo (5 Juli 1924-17 September 2013), yang terkenal dengan nama pena Pak SIN (singkatan namanya).

Untuk menyampaikan kerinduannya pada kemerdekaan Indonesia, Soebagijo menggubah sebuah syair dalam bahasa Jawa berjudul “Kekasihku”, yang dimuat Panji Pustaka No 17, 1 September 1944. Dengan bahasa yang mendayu-dayu sebagaimana layaknya pemuda sedang dimabuk cinta, bait terakhir puisinya berbunyi sebagai berikut:

Ing telenging pangangen-angen
Banget anggonku kapang kangen
Kepengin weruh wujudmu kang sanyata,
Dhuh kekasihku,
Kamardikaning bumi Nusantara!!!

(Di lubuk hatiku//sangat saya rindu//ingin tahu wujudmu yang nyata//Dhuh kekasihku//Kemerdekaan bumi Indonesia). Kekasihku yang dimaksud dalam puisi ini adalah kemerdekaan Indonesia. Ia menulis puisi ini pada usia 20 tahun. Sungguh satu keberanian dan kepiawaian luar biasa! Jika penguasa Jepang tahu maksud sesungguhnya, nyawa Soebagijo ditentukan samurai Kempetai (polisi militer Jepang).

Seorang seniman ludruk (teater tradisional Jawa Timur), Cak Durasim, mengalami nasib itu. Gara-gara parikan (pantun dalam bahasa Jawa), yang berbunyi : “Pagupon omah dara, melu Nipon tambah sengsara” (Pagupon rumah burung dara, ikut Nipon tambah sengsara), lehernya dipenggal Kempetai.

Peran Sastra Daerah

Jangan anggap remeh peran penerbitan dan sastra dalam bahasa daerah! Pada zamannya pers dalam bahasa Jawa dan Sunda, misalnya, sangat berpengaruh dalam menggelorakan semangat perjuangan menuju Indonesia merdeka dan mempertahankan kemerdekaaan Republik Indonesia.

Majalah Panyebar Semangat yang terbit di Surabaya adalah salah satu contohnya. Majalah ini terbit pertama pada 2 September 1933 atas prakrasa Dr Soetomo, seorang dokter, tokoh pergerakan, guru, pendiri Boedi Oetomo, dan sekaligus wartawan. Majalah mingguan itu masih terbit sampai sekarang atau sudah berusia 81 tahun.

Karena jasa besar Dr Soetomo yang lahir di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, kepada perkembangan jurnalistik di Indonesia, namanya diabadikan menjadi Lembaga Pendidikan Dokter Soetomo (LPDS), yang dikelola PWI (Persatuan Wartawan Indonesia).

Soebagijo muda menerjunkan dirinya menjadi wartawan Panyebar Semangat. Ia pernah menjadi pengasuh rubrik anak-anak “Taman Putera”. Maklum, seperti ayahnya, ia berpendidikan guru. Pada 1946, ia menjadi pemimpin redaksi majalah Api Merdeka dan Jiwa Islam. Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan Kantor Berita Antara di Yogyakarta. Ia pembela Pancasila dan anggota Manifesto Kebudayaan.

Sejak di bangku sekolah, Soebagijo, yang lahir di Blitar, Jawa Timur, rajin menulis puisi, cerita pendek, cerita spionase, dan artikel yang dikirim ke berbagai majalah dan surat kabar daerah dan nasional. Banyak buku telah ditulisnya, termasuk biografi tokoh-tokoh nasional, seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Profesi sebagai wartawan dan pengarang ini digelutinya sampai ia wafat pada usia 89 tahun. Soebagijo yang hidup sederhana selalu merasa bersyukur atas rezeki yang diterimanya. Selalu cukup, katanya.

Pustakawan dan Sejarawan Pers

Pada 1957, Soebagijo diundang menghadiri Sidang Umum PBB bersama dua wartawan Indonesia lainnya, yakni Djamaludin Adinegoro dan Gusti Emran. Setelah sidang, mereka diberi kesempatan mengunjungi berbagai negara bagian AS. Sebuah kesempatan langka untuk wartawan Indonesia saat itu.

Soebagijo dipercaya menjadi kepala perwakilan Antara di Beograd, ibu kota Yugoslavia, tahun 1966-1968. Sepulang dari Beograd, ia menjadi Kepala Bagian Perpustakaan, Riset, dan Dokumentasi Antara sampai pensiun tahun 1981.

Di sini lah Pak SIN mengembangkan hobinya sebagai kolektor dan dokumentator risalah tentang pers dan tentu saja penulis buku. Rumahnya pun penuh dengan koleksi ribuan buku dengan berbagai macam topik dan judul.

Salah satu karya monumentalnya adalah buku Jagat Wartawan, ensiklopedia pers Indonesia yang berisi riwayat tokoh-tokoh pers dan penerbitan sejak sebelum zaman kemerdekaan.

Di buku itu ada nama Saeroen, Mas Marco, dan Sam Ratoelangie. Buku inilah yang menobatkan Pak SIN sebagai sejarawan pers Indonesia. Ia tempat bertanya tentang sejarah pers nasional dan sastra Jawa bagi penyusun tesis dan disertasi dari dalam dan luar negeri.

Salah satu nasihatnya kepada wartawan-wartawan muda yang selalu saya ingat adalah: “Jangan hanya menjadi wartawan, tapi juga pengarang buku.”