Bila Jokowi Membenahi Negeri

Bila Jokowi Membenahi Negeri

Radhar Panca Dahana  ;   Budayawan
MEDIA INDONESIA,  15 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                             
MUNGKIN, menurut kicauan, `jin iprit' juga tahu, mantan Wali Kota Solo, Joko Widodo (Jokowi), lambat atau cepat akan jadi Presiden RI, bukan sekadar calon. Persoalannya sejak awal bukan apakah Megawati Soekarnoputri, sebagai bos dari Gubernur DKI itu, rela atau tidak, masih mau maj(l)u apa tidak, atau tuli atau tidak pada kehendak mayoritas pendukung partainya sendiri.

Persoalan sebenarnya ada pada kekuasaan dan kedaulatan dari jabatan Presiden RI itu sendiri. Tampaknya Megawati, yang menitikkan airmata saat membayangkan kejayaan `Indonesia Raya' di masa depan, memahami benar betapa bayangan ideal itu akan menemukan banyak hambatan, luar biasa berat bahkan. Bukan di luar kekuasaan atau Istana Negara, melainkan justru di dalamnya. Di kursi atau singgasana kekuasaan itu.

Dapatkah seorang presiden yang terpilih memegang kedaulatan juga martabat diri, bangsa, dan negerinya berhadapan dengan tekanan-tekanan besar di kanan-kiri, baik bersifat lokal maupun asing, yang mampu menggoyang keras kursi itu sehingga ia tidak akan pernah ajek dan kokoh memangku kuasa di tempat duduknya.

Bukan rahasia lagi, semua pemerintahan dunia harus berhadapan dengan tantangan yang sama: menegosiasi kekuasaannya bahkan bangsa atau negaranya dengan para pelobi atau pressure power elite yang ada di sekelilingnya. Semua kuasa atau singgasana hanyalah pecundang bila ia memberi banyak konsesi pada para penekan--dengan mengorbankan kepentingan dan masa depan bangsanya-—demi keselamatan atau keberlangsungan (periode) kekuasaannya.

Mungkin sejarah yang jujur suatu saat nanti akan menjelaskan dengan jernih bagaimana tujuh presiden yang pernah memimpin negeri ini berhadap an dengan tantangan besar itu, menjadi pemenang atau pecundang.

Kita sesungguhnya tahu, walau mungkin tidak peduli atau tidak berani mengungkapkan, di mana posisi presiden-presiden seperti Soekarno, Soeharto, dan semua pelanjutnya dalam situasi seperti itu.

Megawati, sebagai presiden mantan yang masih memegang salah satu kendali politik di negeri ini, tentu saja memiliki pemahaman sangat dalam mengenai itu. Kita pun segera mafhum kenapa ia menitikkan airmata-–seraya mengenang ayahnya, atau dianggap lamban untuk menetapkan kadernya, Jokowi, sebagai presiden yang meneruskan cita-citanya. Tentu saja ia tidak ingin kadernya menjadi pecundang. Ia harus mendapat garansi. Tidak hanya dari sang kader, tapi juga dari kekuatan-kekuatan penekan itu. Ia harus yakin semua kekuatan-–setidaknya sebagian yang sungguh kuat—mendukung gagasan, cita-cita, dan model pemerintahan yang akan dibangun partainya bersama sang kader.

Saya kira, kunjungan atau ziarah ke makam Bung Karno dan pertemuan dengan 60 pengusaha dapat dipahami dengan baik dalam rangka pikiran semacam itu. Maka dari rangka seperti ini, bisa pula dapat kita perkirakan bagaimana pemerintahan Jokowi mendatang menetapkan dan menjalankan kebijakan-kebijakannya, termasuk dalam memilih seseorang sebagai calon wakil presidennya.

Tiga opsi

Yang bisa kita perkirakan dengan segera ialah reaksi segera di kalangan para parpol maupun capres/cawapres dengan dideklarasikannya Jokowi sebagai capres PDIP: sebagian besar-–bisa jadi hampir semua—- sudah melemparkan handuk putih. Tanpa ada force majeur atau kampanye hitam yang keterlaluan, kemungkinan pemilu presiden berlangsung dalam satu putaran tampaknya akan menjadi kenyataan.
Seloroh publik, dipasangkan dengan ‘sandal jepit’ pun, artinya wakil yang cuma melindungi jejak-jejak rekam sang bos, Jokowi akan menang.

Persoalannya tinggal, siapa yang akan dipilih Jokowi untuk menjadi cawapres. Apa yang bisa dilakukan para capres dari berbagai parpol saat ini tinggal memainkan posisi tawar, setinggi mungkin, untuk mendapat peluang mengisi kursi kosong itu.

Saya kira, demi nafsu kekuasaan, capres-capres yang saat ini bahkan mendapatkan rating tinggi dalam pelbagai survei tidak akan keberatan dipinang atau meminang diri sebagai cawapres sang capres baru. Kemenangan dan kekuasaan sudah di tangan, tak masalah menjadi orang nomor dua, tapi perjuangan, pengorbanan, dan taktik-trik segala macam selama ini akan terbayar lunas.

Tapi saya sangat ragu Jokowi, lebih tepat Megawati, akan memilih salah satu dari mereka sebagai pasangan sang kader. Saya kira juga tidak cukup bijaksana jika Mega memaksakan kader PDIP sebagai cawapres. Mungkin tetap akan menang, mungkin lumrah dalam politik internasional, tapi untuk kesantunan negeri ini, ia jadi tidak elok. Mungkin pilihan itu strategis bagi kebijakan pemerintahnya nanti, tapi ia akan memperlihatkan keangkuhan bahkan ketamakan, yang sungguh tidak elegan.

Mega dan Jokowi juga tidak akan mengambil pola koalisi yang dilakukan SBY dan Partai Demokrat yang selama dua periode sangat disusahkan oleh koalisi yang semu itu. Bukan karena Mega dan PDIP tidak ingin share kekuasaan, melainkan lebih pada pertimbangan kekuasaan bukan hal yang remeh untuk diberikan kepada seseorang hanya karena jasa politik atau seperti jual-beli sapi, dan membiarkan tanggung jawab besar dari kekuasaan itu dijalankan oleh pihak-pihak yang inkompeten bahkan koruptif. Meritokrasi tampaknya akan menjadi pilihan Jokowi/Mega, apalagi bila dalam pileg mereka bisa memenangi lebih dari 30% kursi.

Apa yang dibutuhkan Jokowi bagi cawapresnya ada dalam tiga opsi: pertama, jika ia ingin fokus pada kesejahteraan (yang lebih merata), kedaulatan ekonomi sebagai basis dari kedaulatan-kedaulatan lainnya, dia akan memilih seorang profesional (baik secara akademis maupun pengalaman pemerintahan), mendukung aksesnya pada dunia internasional, dan mendukung national interest ketimbang market interest (apalagi pasar liberal) sebagaimana propagandanya yang mulai muncul di televisi.

Tokoh dalam opsi pertama ini tampaknya ada dari kalangan independen. Ini kongruen dengan apa yang dilakukan presiden incumbent saat memilih Boediono pada pemilu periode keduanya yang ditandai dengan kepercayaan diri yang tinggi. Nama-nama untuk opsi ini bisa merujuk pada tokoh-tokoh seperti Sri Mulyani, Rizal Ramli, Jusuf Kalla, Hatta Rajasa, atau Irman Gusman, tanpa harus mempertimbangkan kekuatan dukungan massa di balik mereka.

Opsi kedua, jika Jokowi/Mega memilih fokus pada penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di periode pertama pemerintahannya, mengingat memang hal tersebut yang menjadi isu terkeras belakangan ini, maka tidak lain akan dipilih tokoh-tokoh bersih yang memiliki integritas dan rekam jejak yang kuat di hal tersebut.

Nama-nama dengan mudah disebut, seperti Mahfud MD, Abraham Samad, atau mantan-mantan aktivis yang sangat dikenal perjuangannya dalam soal-soal tersebut. Nama-nama itu mungkin tidak memiliki basis massa dari partai politik, tapi sangat memadai untuk juga mendulang dukungan.

Opsi ketiga, yang saya kira tidaklah terlalu dipentingkan, ialah tokoh yang menjadi representasi masyarakat yang dianggap belum diwakili oleh sosok Jokowi, seperti tokoh militer, tokoh agama (Islam), atau tokoh luar Jawa.

Opsi ini, walau bisa menjadi perhitungan, tampaknya tidak kuat karena kita sama mafhum, Mega dan Jokowi bukanlah tokoh yang suka berdekat-dekat dengan militer, berhasil mengatasi lack-nya di kalangan agama, dan membuktikan bagaimana dukungan muncul tidak cuma seputar Jawa, tapi di seluruh pelosok negeri ini.

Penyambung kerja Soekarno

Beberapa opsi di atas sudah menggambarkan apa yang mungkin akan dilakukan oleh (kabinet) Jokowi dalam menata atau membenahi negeri yang sekarang ini dianggap cukup karut-marut karena terlalu lembek atau melempem. Hal utama ialah Jokowi dan sang Godmather tidak akan kompromi atau bernegosiasi dengan kekuatan-kekuatan yang akan justru menjadi penghambat dari cita-cita ‘nasionalistik’ mereka. Cita-cita Soekarno.

Semangat, kerja, dan karya Soekarno akan menjadi ilham bahkan acuan. Indonesia harus tegak, ‘hebat’, seperti kata iklannya. Jokowi akan memilih bertarung di parlemen atau dengan banyak kepentingan lain untuk bisa mengoperasikan kebijakan-kebijakannya, ketimbang berletih-letih merayu koalisi.

Karena memang di situlah peluang dia membuat sejarah. Atau, ia hanya akan menjadi common president, seperti para pendahulu dan banyak pemimpin negeri lainnya. Tidak. Jokowi, Mega setidaknya melalui kadernya itu berharap presiden Indonesia dapat tegak penuh harkat berhadapan dengan dunia seperti pemimpin negeri-negeri dengan karakter yang kuat laiknya Putin di Rusia, Ji Xinping di China, Mahmohan di India, Rowhani di Iran, atau bahkan Chavez di Venezuela.

Karenanya, bila peta politik pemilihan presiden dapat dibaca seperti di atas, hampir 
sebagian besar capres yang ada sekarang ini kehabisan harapan untuk sekadar menjadi ‘orang kedua’. Adalah hal yang mungkin terjadi pula bila partai-partai lain akan melakukan semacam ‘konspirasi’, terbuka atau tertutup, untuk menjadi pesaing besar atau sekurangnya menjadi oposisi yang kuat bagi bakal kabinet Jokowi mendatang.

Ini ujian berat yang sudah harus dilalui Jokowi, bahkan sebelum ia memulai kekuasaannya, bahkan lagi, sebelum ia memulai pertempuran untuk memenangi kekuasaan itu. Semakin tinggi cemara, semakin keras angin menerpa pucuknya. Megawati, juga Jokowi-–lihatlah gaya dan diskursusnya—-sangat memahami dan tampaknya berpengalaman menghadapi itu. Hanya waktu yang nanti akan memberi tahu.

Tragedi Dunia Janus

Tragedi Dunia Janus

Radhar Panca Dahana  ;   Budayawan
KOMPAS,  24 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
“Ada ancaman terhadap perekonomian global akibat ketimpangan yang tinggi... (sehingga) membuat masa depan jadi tidak pasti.”

Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF

DUNIA tampaknya tengah menghadapi masa yang krusial bahkan menentukan akibat dari paradoks yang dihasilkan oleh peradaban mutakhirnya.

Selain oleh teknologi persenjataan yang kian menggiriskan, peradaban dunia juga berubah akibat kemajuan menakjubkan di bidang kesehatan, komputasi, hingga implementasinya dalam bidang informasi dan komunikasi. Di saat bersamaan, teknologi dalam ilmu-ilmu kemasyarakatan pun tumbuh dengan tajam, termasuk dalam urusan pemerintahan/kenegaraan, pengaturan ekonomi, praksis hukum, atau kreasi-kreasi artistik.

Secara ideal, dalam pengertian gagasan/ ide yang melandasinya, semua kemajuan itu bergerak, melebar, dan membuncah dalam sebuah tatanan global yang dipimpin dua komandan kembar: demokrasi (sebagai sistem ketatanegaraan) dan kapitalisme (sebagai sistem perekonomian).

Apa yang kemudian lalai, lengah, bahkan boleh jadi tak terpikir selintas pun, kenyataan di balik semua kemajuan luar biasa dalam satu abad terakhir itu bukan hanya seakan melibas pencapaian sekian ribu tahun peradaban-peradaban dunia sebelumnya, tapi juga—dan ini yang terpenting—membuat kita alpa bila (setiap) peradaban itu juga memproduksi karya-karya negatif yang justru mendestruksi pencapaian-pencapaian ”positif” di atas.

Inilah sesungguhnya nature atau fitrah dari semua produk yang dihasilkan oleh spesies mamalia yang bernama Homo sapiens ini: kebudayaan senantiasa berkembang atau tumbuh dengan karya-karyanya yang paradoksal. Seperti dewa Janus dalam mitologi Romawi, kebudayaan dari peradaban dunia—sepanjang usianya—selalu serentak menghasilkan produk berwajah dua: yang positif (luhur) dan negatif (merusak). Alhasil, sebuah peradaban sebenarnya adalah hasil dari pertempuran atau konflik, bisa juga negosiasi, dari dua wajah ”Janus” kebudayaan itu.

Hal itu terjadi lantaran, disyukuri atau tidak, kebudayaan hanya dilahirkan oleh satu golongan makhluk bernama manusia; makhluk yang notabene memiliki fitrah lengkap dengan kapasitasnya untuk ”memilih”, mewarisi atau dianugerahi sedikit sifat ilahiah yang jaiz (boleh), yang secara diskriminatif tidak dimiliki makhluk lainnya di semesta ini. Kapasitas dan sifat inilah yang mungkin secara biologis dimungkinkan karena adanya pertumbuhan volume otak manusia, dari mula 700-an hingga 1.300 cc, jauh meninggalkan kera, manusia tegak (Phitecanthropus erectus) yang menjadi pendahulunya menurut logika evolusi Wallace atau Darwinian.

”Kebolehan memilih” dengan menggunakan volume otak itu memungkinkan manusia mengeksplorasi bahkan mengeksploitasi kecenderungan (yang juga) paradoksal dan alamiah dalam dirinya: menjadi suci atau bejat, secara sosial, kultural, maupun spiritual. Hal itu terjadi tidak hanya di tingkat kolektif, juga individual. Bahkan kerap keduanya berkembang paralel dalam organ yang sama. Manusia bisa jadi pada dasarnya paradoksal jika tidak dibilang skizofrenik di tingkat awal.

Fakta yang menggiriskan

Maka, apabila kita bicara demokrasi dan kapitalisme yang menjadi norma bahkan etika (tuntunan moral) dunia, sebaiknya kita tetap ingat, mafhum, bersikap dan bertindak berdasarkan ”kejanusan” yang inheren di dalamnya. Demokrasi dan kapitalisme yang secara ideal sesungguhnya memiliki maksud yang luhur untuk memuliakan atau menciptakan kebahagiaan bagi manusia, ternyata juga menciptakan manusia-manusia yang—dilegitimasi oleh sistem-sistem itu—justru pelan-pelan meluluhlantakkan maksud luhur itu.

Pernyataan Direktur Pelaksana IMF terkutip di atas dan disampaikan pada Forum Davos beberapa waktu lalu bukan hanya menjadi indikasi, melainkan juga—karena tingkat otoritasnya yang tinggi—menjadi bukti dari tragedi dunia Janus itu. ”Kekayaan di dunia hanya dimiliki oleh segelintir warganya,” kata Lagarde lebih lanjut, ”...segelintir warga kaya telah menguasai sistem dan semua akses... hal itu berlaku luas di banyak negara. Sistem pemerintahan dan perekonomian telah dikooptasi oleh sedikit orang kaya” (Kompas, 21 Januari 2014).

Pernyataan keras lembaga seberpengaruh IMF itu diberi aksen yang konkret oleh Winnie Byanyima, Direktur Eksekutif Oxfam, di bagian lain di acara yang sama, di mana ia memaparkan data tentang total kekayaan 85 orang (0,00000002 persen dari penduduk dunia), memiliki kekayaan yang lebih banyak dari separuh penduduk dunia (3,5 miliar manusia). Total kekayaan secumit orang itu tak kurang dari 1,7 triliun dollar AS atau setara sepersepuluh lebih PDB Amerika Serikat, setimbang dengan PDB Brasil atau hampir tiga lipat dari PDB Indonesia.

Fakta itu bukan hanya memberi 85 orang di kahyangan itu kemampuan untuk menghidupi rakyat negeri ini (untuk tidur dan menganggur) selama tiga tahun, juga mampu menentukan siapa dan bagaimana sebuah negara harus berlangsung atau diatur, sebagaimana pernyataan Lagarde di atas. Mereka adalah Janus yang lain, yang di satu wajah menampilkan malaikat atau filantrof penuh kebajikan, di wajah lain iblis dengan keserakahan tiada habis mengisap rezeki penduduk di sisa dunia.

Kabar kedatangan Bill Gates ke Indonesia, yang konon akan menggelontorkan tak kurang dari Rp 140 miliar untuk yayasan sosialnya tahun ini, juga memberi impresi ironis yang sama. Karena pada catatan majalah Forbes, pertambahan kekayaan triliuner Microsoft itu pada 2013 tidak kurang dari 11,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 140 triliun. Bagaimana Anda membayangkan wajah dengan rambut palsu itu dalam dua angka tersebut?

Itu pun Bill Gates bukan yang terhebat. Warren Buffett, triliuner lainnya, membukukan pendapatan penghasilan terbesar sejagat pada 2013, senilai 12,7 miliar dollar AS atau Rp 155 triliun/tahun. Tapi dari total kekayaan, Gates dan Buffett masih di belakang Carlos Slim, sang juara dunia, dengan estimasi kekayaan pribadinya 73 miliar dollar AS atau sekitar Rp 876 triliun, setengah dari APBN kita pada 2013.

Anda tentu bisa membuat sedikit analisis, bila ”janus-janus” kapitalis global itu, yang filantrofis di muka tapi monster di belakangnya, akan menciut menjadi sekitar 20-25 orang saja dalam kurun 10-15 tahun ke depan, di mana total kekayaan mereka akan mampu bukan hanya menggerakkan, bahkan mengendalikan perubahan-perubahan di tingkat global. Tragedi macam apa yang akan terjadi dalam dunia Janus seperti itu? Dalam mimpi pun Anda sulit menciptakan bayangannya.

Ke mana kunci Janus

Semua hal di atas tentu saja bukan semacam mitos tradisional macam leak atau jalangkung yang sekadar menciptakan rasa takut artifisial. Semua itu fakta berbasis data valid yang mestinya menjadi perhitungan kita, bukan saja ketika harus bekerja dalam sebuah perusahaan, mengatur organisasi bahkan pemerintahan, atau juga dalam usaha kita berkreasi di tingkat personal.

Dunia tengah menghadapi situasi yang sebenarnya kritis saat menghadapi masa depannya. Masa di mana masyarakat dunia tidak lagi ditaklukkan oleh kekejaman perang, penyakit atau bisul-bisul kebudayaannya, tetapi oleh sebuah fallacy yang melahirkan gergasi kapital demikian hebatnya.

Fakta ini semestinya membuat kita merenung dengan sangat dalam, saat misalnya kita menghasilkan profit yang bertambah persentasenya setiap tahun, atau menyaksikan orang miskin dan korban bencana yang untuk makan dengan standar umum saja begitu sulitnya. Apakah ”sistem pemerintahan dan perekonomian yang telah terkooptasi” seperti konstatasi Christine Lagarde di atas memberi kita garansi akan masa depan yang lebih baik, atau justru memberi ruang dan peluang bagi ketertindasan baru dan bentuk kolonialisme dan imperialisme baru yang lebih mencekam dan menggiriskan.

Di tingkat lokal, data resmi juga memberi fakta serupa. Di mana 20 persen penduduk kita mendapatkan 49 persen dari pendapatan nasional (PN), berbalik dengan 40 persen penduduk miskin hanya mendapatkan 16 persen dari PN. Di antara 20 persen itu, 405 orang terkaya Indonesia memiliki harta tak kurang dari 120 miliar dollar AS (Rp 1.440 triliun) atau setara dengan APBN 2012. Dan, dari jumlah itu, hanya 0,2 persen penduduk kita saja sudah menguasai 56 persen dari aset nasional.

Dalam kompetisi kapitalistik yang sesungguhnya tidak ekual, data itu dipastikan akan berkembang semakin menyudutkan rakyat secara keseluruhan. Koefisien gini yang tumbuh pesat sepuluh tahun terakhir (dari 0,3 di 2002 menjadi 0,4 di 2013) menjadi indikasi akan tak terhentikannya pertumbuhan kapitalistik yang mengalami kebuncitan obesitas di lapisan atas dan yang kebuncitan HO (honger oedema) di lapisan bawahnya.

Bagaimana kemudian kita bisa beramai-ramai berpesta, bahkan sudah begitu riuh dalam persiapannya, hanya untuk sebuah kata ”demokrasi” yang tidak hanya menghabiskan uang rakyat ratusan triliun, tetapi juga hanya untuk membiayai cocktail kekuasaan kaum elite dan menyisakan infrastruktur hancur kaum alit.

Bangsa ini membutuhkan cermin atau penggebuk besar untuk menyentak diri melakukan refleksi dan kontemplasi. Tragik dunia Janus tidaklah cukup pantas untuk diselebrasi. Niat harus diluhurkan untuk menciptakan pikiran dan tindakan cerdas menanggapi realitas di atas, lokal maupun global, yang senantiasa terkait. Kesadaran para pemimpin—daerah dan pusat—harus diperluas cakrawalanya, sehingga ketidaktahuan dan ketidakmengertian tidak menjadi ketidakpedulian pandir yang membuat negeri ini justru kian terperosok dalam tragedi-tragedi kemanusian yang sistemik di masa depan.

Kita tampaknya harus sungguh-sungguh berpikir ulang, apakah sistem-sistem yang kita rayakan secara berkala ini dapat dipertahankan dalam realitas yang membuat miris di atas? Apakah kunci yang dipegang tangan kanan Janus akan digunakan untuk membuka kuilnya di Laurentium dan perang pun terjadi sebagai akibatnya? Atau justru ia membuka pintu Eden di mana harapan dan kegemilangan manusia ada di dalamnya? Hanya yang eling dan waspada bisa luput dari neraka paradoks Janusian yang mengintip tajam di balik hati kita. ●