Bahasa Indonesia Kalah Gengsi?

Bahasa Indonesia Kalah Gengsi?

Sudaryanto ;   Dosen Bahasa Indonesia Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta; Pengajar Tamu di Guangxi University for Nationalities dan Xiangsihu College, Nanning, Tiongkok
OKEZONENEWS,  28 Maret 2014

                                                                                         
                                                      
Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Dr. Fathur Rokhman pernah mengkritisi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang lebih condong menggunakan bahasa Inggris. Kondisi ini, menurut Fathur yang juga Guru Besar Bidang Sosiolinguistik Unnes, turut membuat bahasa Indonesia kalah gengsi. Benarkah bahasa Indonesia mengalami kalah gengsi daripada bahasa asing? Jika demikian, lantas bagaimana mengatasi persoalan tersebut?

Kekalahgengsian bahasa Indonesia seperti disinyalir oleh Prof Fathur Rokhman, sebetulnya bukan fenomena baru. Sebelum munculnya program RSBI, bahasa Indonesia telah kalah gengsi dibandingkan bahasa Inggris. Dalam keseharian kita, tak sedikit orang Indonesia lebih memilih kata security yang artinya ‘satuan pengaman; satpam’. Bagi mereka, kata satpam tidak dipilih karena dinilai merendahkan. Begitu pula kata driver dan omelette.

Sikap merendahkan bahasa Indonesia juga terlihat di banyak tempat. Di tempat umum, misalnya, banyak iklan reklame menggunakan bahasa Inggris tanpa mencantumkan padanannya dalam bahasa Indonesia. Di Yogyakarta, tepatnya di perempatan daerah Demakijo dekat rumah penulis, ada iklan reklame kartu telepon genggam yang semuanya berbahasa Inggris. Padahal, yang membaca iklan reklame tersebut ialah kita orang Indonesia, bukan orang asing.

Penggunaan bahasa Inggris secara membabi buta terjadi pula pada nama-nama pusat perbelanjaan dan perumahan di Yogyakarta. Sekadar contoh, Ambarukmo Plaza, Galeria Mall, Malioboro Mall, Merapi View, dan Trihanggo Residence. Barangkali, penggunaan bahasa Inggris pada nama-nama pusat perbelanjaan dan perumahan itu dipilih karena lebih bergengsi, juga memiliki daya jual yang cukup tinggi di mata masyarakat.

Setali tiga uang, penggunaan bahasa Inggris telah menjamur di lingkungan kampus. Para dosen dan mahasiswa kita, termasuk yang di Jurusan Bahasa Indonesia, lebih terbiasa mengucapkan kata download, upload, e-mail, dan website. Bagi mereka, ada perasaan kebanggaan tersendiri apabila dapat mengucapkan kata-kata tersebut daripada padanannya dalam bahasa Indonesia, yaitu unduh, unggah, surel atau pos-el, dan laman.

Perlu Terobosan

Menyikapi hal di atas, rasanya diperlukan terobosan-terobosan baru dari para pakar bahasa agar berbagai persoalan bahasa Indonesia yang terjadi di tengah masyarakat mendapatkan jalan keluar. Tanpa itu, potensi kerusakan yang timbul terhadap penggunaan bahasa Indonesia akan semakin besar. Hemat penulis, langkah pertama ialah memupuk rasa kebanggaan berbahasa Indonesia melalui lingkup pendidikan dan pemerintahan.

Di lingkup pendidikan, pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia siswa-mahasiswa perlu ditingkatkan. Adalah ironis jika nilai Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan nilai UN Bahasa Inggris. Juga ironis apabila mahasiswa sudah mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia, namun kesalahan berbahasa masih dilakukannya pada saat menulis skripsi. Inilah tugas berat yang perlu diemban oleh guru-dosen bahasa Indonesia.

Sementara itu, di lingkup pemerintahan, pemerintah pusat dan daerah harus berkomitmen nyata dalam menerapkan UU Nomor 24 Tahun 2009, khususnya Pasal 36. Dalam Pasal 36 disebutkan, bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, dan apartemen atau permukiman. Jika begitu, maka tidak ada lagi nama bangunan atau gedung dan permukiman yang menggunakan bahasa Inggris.

Selain itu, pemerintah pusat dan daerah juga harus berkomitmen nyata dalam menerapkan Pasal 38 UU Nomor 24 Tahun 2009, yaitu mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum.
Tanpa komitmen itu, penggunaan bahasa Inggris di masyarakat kita kian meminggirkan bahasa Indonesia yang semestinya perlu dilestarikan keberadaannya.

Langkah kedua, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa  (Badan Bahasa) harus rutin memperhatikan penggunaan bahasa di media massa, juga lebih peduli terhadap penggunaan bahasa alay di kalangan anak muda. Bahasa alay yang mendominasi percakapan anak muda, khususnya di telepon genggam dan media jejaring sosial, perlu dicermati. Kadangkala penggunanya menggunakan bahasa dengan prinsip “sekenanya”, termasuk bahasa Inggris.

Walhasil, dari sini muncullah fenomena bahasa yang disebut Deddy Mulyana (2013) sebagai “bahasa gado-gado”. Pencampuradukkan bahasa Indonesia dan asing (Inggris) dinilai berpotensi merusak bahasa keduanya, baik dari segi tata bahasa maupun pengucapannya. Jadi, alangkah baiknya jika kita menghindari hal itu dalam penggunaan sehari-hari. Salah satu caranya ialah dengan rutin membuka KBBI dan menggunakan kata padanannya itu.

Dalam keseharian, penulis lebih rutin mengucapkan kata unduh, unggah, dan laman daripada kata download, upload, dan website. Meskipun agak sedikit “asing” didengar oleh orang lain, namun penulis merasa memiliki kebanggaan tersendiri apabila menggunakan padanan kata bahasa Indonesia itu. Nah, mulai hari ini Anda sebagai penutur asli bahasa Indonesia, saya ajak untuk lebih bangga dan bergengsi dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian.

Di atas semua itu, sebagai penutur asli dan pengajar bahasa Indonesia, penulis mengajak kepada masyarakat kita agar lebih menjadikan bahasa Indonesia bermartabat di negeri sendiri. Dengan berbahasa Indonesia yang baik, benar, dan wajar, kelak akan membuat diri kita merasa bermartabat. Marilah kita gunakan bahasa Indonesia dan asing sesuai ranahnya masing-masing, serta tidak usah mencampuradukkan keduanya. Bagaimana pendapat Anda? ●

Diaspora Ilmuwan Indonesia

Diaspora Ilmuwan Indonesia

Sudaryanto  ;   Dosen FKIP Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
HALUAN,  29 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Selasa (18/3) pagi lalu, ada sesuatu yang luar biasa dalam diri saya. Setelah menonton tayangan Kick Andy berjudul “Ilmuwan Indonesia di Luar Negeri” dan “Berjaya di Negeri Orang” melalui laman www.youtube.com, hati saya tiba-tiba dipenuhi perasaan bangga menjadi orang Indonesia. Kedua mata saya pun menitikkan air mata saat menyaksikan orang-orang Indonesia yang sukses di negeri orang. Mereka umumnya bekerja sebagai ilmuwan di luar negeri.

Sebagai contoh, Dr Ing Suhendra. Dia bekerja sebagai peneliti di BAM Berlin, Jerman. BAM merupakan “LIPI”-nya Jerman di bidang material. Dia akui, dirinya merupakan satu-satunya orang Indonesia sekaligus orang asing yang bekerja di BAM Berlin, Jerman. Saat diwawancarai di acara talkshow Kick Andy, Suhendra masih berusia 34 tahun dan kini ia telah berusia 39 tahun. Dia sendiri merupakan doktor lulusan dari universitas di Jerman.

Contoh lainnya, Prof Dr Ir Irwandi Jaswir. Dia merupakan dosen berpangkat associate professor di International Islamic University Malaysia (IIUM), Malaysia. Selain mengajar, dia juga menjadi peneliti di universitas terkemuka di Malaysia itu. Berkat ketekunannya sebagai peneliti, berbagai penghargaan berhasil diraihnya. Salah satu penemuannya yang bermanfaat ialah penggunaan infra merah untuk mendeteksi ada-tidaknya lemak babi dalam makanan.

Perlu Sinergitas

Selain dua nama di atas, masih ada Prof Dr Ken Sutanto (Jepang), Prof Dr Yow Pi Lin (AS), Dr Muhamad Reza (Swedia), Dr Johny Setiawan (Jerman), Dr Juliana Sutanto (Swiss), Dr Mulyoto Pangestu (Australia), Dr Merlyana Lim (AS), dan Dr Khoirul Anwar (Jepang). Bahkan, menurut Ahmad Raditya, penggagas Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), ada 400 ilmuwan Indonesia yang berkiprah di luar negeri. Sungguh mengagumkan bukan? Ya.

Dari segi jumlah, saya kira 400 ilmuwan Indonesia bukanlah angka yang sedikit. Justru sebaliknya, pemerintah pusat wajib mendorong seluruh kementerian dan instansi, serta pemerintah daerah untuk melakukan sinergitas dengan 400 ilmuwan Indonesia itu. Saya bermimpi, andaikan seluruh ilmuwan Indonesia di luar negeri mau membantu kerja-kerja pemerintah, kelak kemajuan bangsa akan segera diraih dalam waktu yang tak lama lagi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, misalnya, dapat bersinergi dengan BAM Berlin, Jerman, tempat di mana Dr Ing Suhendra berkiprah selama ini. Melalui riset yang akurat, Dr Ing Su­hendra dkk diharapkan dapat menemukan energi yang terbarukan dan ramah terhadap lingkungan. Bukan tidak mungkin, melalui kerja sama itu, putra-putri Indonesia dapat meraih beasiswa untuk studi lanjut ke Jerman seperti halnya Dr Ing Suhendra sendiri.

Lalu, pihak BPOM-MUI dapat bersinergi dengan IIUM, Malaysia, tempat di mana Prof Dr Ir Irwandi Jaswir berkarya selama ini. Penemuan Prof Irwandi yang juga putra Minangkabau ini, layak digunakan oleh BPOM-MUI guna mendeteksi makanan dari ada-tidaknya kandungan lemak babi. Sebagai seorang muslim, saya akan lebih bangga apabila BPOM-MUI dapat bekerja sama dengan Prof Irwandi, mengingat belum semuanya makanan di Indonesia telah bersertifikasi halal.

Selanjutnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang memiliki banyak sentra kerajinan dapat bersinergi dengan ETH Zurich, Swiss, tempat di mana Dr Juliana Sutanto berkecimpung selama ini. Melalui risetnya di bidang sistem informasi manajemen, Dr Juliana dapat membantu para pengelola sentra kerajinan untuk memasarkan produknya melalui dunia maya, seperti Facebook, Twitter, dan blog.

Pendek kata, orang-orang seperti Dr Ing Suhendra, Prof Irwandi Jaswir, dan sebagainya perlu mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Bukan karena mereka orang Indonesia semata, melainkan karena keilmuan dan keahlian mereka sangat berguna bagi bangsa-negara ini. Saya punya keyakinan, bahwa Dr Ing Suhendra dkk tetap bangga menjadi orang Indonesia kendatipun mereka bekerja dan tinggal sementara di negeri orang.

Catatan Penutup

Adalah wajar, apabila orang-orang seperti Dr Ing Suhendra, Dr Juliana Sutan­to, dan lain-lain diberikan stigma orang yang tidak nasionalis alias mencintai negaranya sendiri. Saya sendiri kurang sependapat dengan stigma tersebut. Justru sebaliknya, kiprah Dr Ing Suhendra dkk merupakan ikhtiar lain dan terbaik dari perwujudan nasionalisme. Buktinya, mereka tetap mau bergabung ke dalam wadah I-4, serta sebagian mengarahkan riset-risetnya ke Indonesia.

Di sisi lain, pilihan mereka berkiprah di luar negeri, seperti Jerman, Jepang, dan Malaysia, karena di negara-negara tersebut tersedia dana besar dan sarana prasarana yang lengkap serta memadai. Juga tingkat kesejahteraan mereka sebagai peneliti bisa dibilang sangat terjamin. Berbeda halnya dengan peneliti di Indonesia yang dana penelitiannya serba kurang sehingga hasilnya kurang optimal, serta harus mencari tambahan gaji dengan mengajar di kampus-kampus.

Sebagai catatan penutup, saya ingin mengusulkan beberapa hal. Pertama, pemerintah perlu bersinergi dengan 400 ilmuwan Indonesia di luar negeri. Para ilmuwan tersebut, saya kira merupakan aset bangsa Indonesia yang tiada duanya apabila dimanfaatkan demi peningkatan semua bidang kehidupan di Tanah Air. Kini, persoalannya tinggal apakah pemerintah Indonesia mau melakukan sinergitas dengan 400 ilmuwan Indonesia di luar negeri itu?

Kedua, pemerintah perlu mendorong kinerja peneliti kita agar rutin melakukan publikasi ilmiah dan paten. Mengutip Kompas (5/1/2013), publikasi ilmiah dan paten peneliti Indonesia masih tergolong minim. Jumlah publikasi peneliti kita lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Tiga negara jiran itu menghasilkan total publikasi di atas 30.000, sedangkan Indonesia hanya menghasilkan 7.843.

Akhir kata, fenomena diaspora ilmuwan Indonesia ke luar negeri perlu dimaknai sebagai energi positif bagi pemerintah dan peneliti Indonesia. Tak ada salahnya jika pemerintah dan peneliti Indonesia melakukan sinergitas dengan para ilmuwan tersebut. Kita harap, dari sinergitas itu muncul progresivitas mutu penelitian di Tanah Air, yang pada akhirnya berdampak positif bagi semua lini kehidupan bangsa-negara ini. Selamat bekerja untuk Indonesia, Bung! ●

Di Bawah Langit Nanning

Di Bawah Langit Nanning

Sudaryanto  ;   Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta; Pengajar Tamu di Guangxi University for Nationalities dan Xiangsihu College, Nanning, Tiongkok
OKEZONENEWS,  26 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Buya Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, melalui tulisannya (2012) pernah menyatakan, bahwa ayat Allah itu mudah dijumpai di mana pun dan kapan pun. Pernyataan cendekiawan asal Sumpurkudus, Sumatera Barat itu, sepenuhnya penulis amini. Di Kota Nanning, tempat kami tinggal saat ini, juga saya temukan ayat-ayat Allah. Apa-apa sajakah ayat-ayat Allah yang berada di kota yang termasuk ke dalam Provinsi Guangxi, Tiongkok itu?

Saya pernah menyimak ungkapan yang entah dari siapa atau dari mana, saya agak lupa, kira-kira ungkapan tersebut berbunyi: “Ketika kamu berada di luar negeri dan bertemu dengan orang Indonesia, maka sesungguhnya ia merupakan saudara bagimu, kendatipun berbeda agama, bahasa daerah, ras, status sosial, warna kulit, dan sebagainya.” Inti dari ungkapan tersebut ialah, bahwa meskipun kita berbeda-beda namun kita juga tetap orang Indonesia.

Bahkan, kami juga berjumpa dan akhirnya pun bersahabat dengan orang-orang dari luar negeri, seperti India, Malaysia, Myanmar, dan Thailand, selain juga orang Tiongkok. Atas dari itu, teringatlah kita semua akan ayat Allah untuk saling kenal-mengenal, meskipun tentu ada perbedaan di antara kita satu sama lainnya. Tuan dan Puan, di bawah langit Kota Nanning, mata hati saya dibukakan oleh Allah untuk betul-betul menyimak ayat-Nya tersebut.

Berbeda tapi Bersaudara

Di Kota Nanning, kami memiliki tetangga yang luar biasa baiknya kepada kami. Ada Ibu Noraini binti Abdul Hamid dari Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Kuala Lumpur. Kami biasa memanggilnya Bundo Aini. Beliau sudah lima tahun sebagai pengajar bahasa Melayu/Malaysia di kampus Guangxi University for Nationalities (GXUN). Selain pandai mengajar, beliau juga pandai memasak, khususnya masakan khas Malaysia. Masakan buatannya sungguh enak dan lezat.

Ada pula Mas Arief Hidayat Muhtar dan Mbak Tri Amalia Lestari beserta anaknya, Chalief. Keluarga muda ini sudah tiga tahun berada di Kota Nanning. Mas Arief mengajar di kampus Xiangsihu College, sementara Mbak Amalia mengajar di kampus GXUN. Keduanya sama-sama pengajar bahasa Indonesia, dan keduanya sama-sama lulusan UAD Yogyakarta. Seperti Bundo Aini, keduanya pun suka memasak, khususnya masakan khas Indonesia.

Berikutnya, ada pula trio mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan), Kalimantan Barat: Lius, Restu Adeliana, dan Rizka Damayanti. Lius merupakan pemeluk agama Buddha, Restu pemeluk agama Kristen, dan Rizka pemeluk agama Islam. Ketiganya merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin Untan yang tekun belajar dan senang membantu. Mereka kini mendapatkan beasiswa belajar bahasa Mandarin di kampus GXUN selama setahun.

Selain itu, kami juga bersahabat dengan beberapa mahasiswa asal Tiongkok yang sedikit-banyak bisa berbahasa Indonesia. Ada Hendri, mahasiswa saya asal Baise yang sering membantu persoalan teknis di kelas. Kemudian ada Luna, mahasiswa saya yang tekun membaca buku, dan sesekali bertanya soal kata atau istilah bahasa Indonesia. Ada pula Lestari, Nino, Puspita, Linda, dan Lulu yang hobinya bernyanyi lagu-lagu Indonesia.

Lantas, ada Adit, Fajar, Wahyu, dan Rizal yang memiliki kegemaran terhadap sepak bola dan games. Ada juga Wiwin, mahasiswa saya asal Chengdu yang agak sukar melafalkan huruf “n” pada kata dingin yang akhirnya diucapkannya dinging. Ada Lira, Syeki, Edwina, Rachel, Nita, Yana, dan Jinla yang begitu ekspresif bermain peran cerita Seruling Si Kura-kura. Bahkan, kala belajar memasak masakan Indonesia, mereka pun terlihat senang.

Pendek kata, meskipun berbeda dalam banyak hal, namun kami tetap merasa bersaudara dan sedapat mungkin membantu. Kami, orang Jawa (saya orang Yogyakarta-istri Kudus), ternyata dapat bersahabat dengan sesama orang Indonesia (Lius dkk), juga dengan orang luar negeri, seperti Malaysia (Bundo Aini) dan Tiongkok (Hendri dkk). Apapun perbedaan di antara kami, hal itu tidak menjadi persoalan untuk saling mengenal dan membantu.

Berprestasi Itu Pilihan

Selain tentang saling kenal-mengenal, saya juga menjumpai ayat Allah lainnya, yaitu tentang perubahan. Perubahan pada diri seseorang atau sebuah bangsa, tidak akan pernah terwujud tatkala seseorang atau bangsa tadi tidak berikhtiar untuk mewujudkannya sendiri. Beberapa orang yang kami kenal di Kota Nanning ternyata juga berikhtiar untuk berubah ke arah yang lebih baik, atau lebih memiliki prestasi di bidang tertentu.

Ada Pak Kintoko yang merupakan dosen di Fakultas Farmasi UAD. Melalui cerita yang saya dengar, beliau sempat stress karena kuliah doktornya di Guangxi Medical University (GXMU) menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar kuliah. Mati-matian Pak Kin, begitu ia biasa disapa, belajar bahasa Mandarin. Pak Kin kala itu dihadapkan pada dua pilihan: pulang ke Indonesia, atau tetap belajar di GXMU? Dan, ia memilih tetap belajar di GXMU.

Ada Mbak Sakina dan Mbak Fauzia, keduanya merupakan lulusan ITB dan berasal dari Bandung. Kini, keduanya juga sedang melanjutkan studi master di Guangxi University. Selanjutnya, ada Alqur’ani Jamila, S.S., lulusan Sastra Inggris UAD, yang berencana apply beasiswa untuk program master di beberapa universitas di Tiongkok. Ada pula Pradhika Nurul Huda, mahasiwa FE UAD yang sedang menjalani kuliah program sandwich antara GXUN dan FE UAD.

Pak Kintoko, Mbak Sakina, Mbak Fauzia, Mbak Mila, dan Mas Dhika merupakan sosok-sosok yang saya kenal memiliki etos belajar dan semangat berprestasi di bidangnya masing-masing. Selain itu, mereka juga cukup ramah, senang membantu, dan suka humor. Saya percaya, bahwa mereka juga memiliki ilmu dan kebajikan yang luar biasa untuk perbaikan dunia pendidikan dan penelitian di Tanah Air. Insya Allah.

Sebagai penutup, Tuan dan Puan saya hadiahkan dua buah pantun karangan saya, yang intinya mengajak kita semua untuk giat belajar selagi usia masih relatif muda. Pantun pertama, “Jalan-jalan ke Kota Yogyakarta/ Yogya terkenal kota budaya/ Tuntutlah ilmu selagi muda/ Selagi muda banyak berkarya.” Pantun kedua, “Pasar Bringharjo ada di Yogya/ Cari kain batik tentulah ada/ Siapa orang rajin berkarya/ Disayang Allah dan sesamanya.” Semoga! ●

Potret Anomali Dosen Kita

Potret Anomali Dosen Kita

Sudaryanto  ;   Dosen FKIP Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
HALUAN,  08 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                             
Ada pernyataan menarik dari pengamat pendidikan Dr. Muhammad Abduh Zen, beberapa waktu lalu. Ia menyatakan, animo dosen di perguruan tinggi untuk menulis buku masih rendah. Padahal idealnya seorang dosen harus terbiasa menulis buku sebagai bentuk karya ilmiah akademik. Pernyataan doktor lulusan UPI itu hampir disetujui oleh banyak pihak, termasuk saya. Apa dan bagaimana mengatasi penyebab dosen malas menulis buku?

Beberapa waktu lalu, Rektor Undip (saat itu) Prof. Dr. Eko Budihardjo mengungkapkan bahwa seorang dosen idealnya menulis satu buku tiap tahun. Ungkapan mantan Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) itu ternyata diwujudkan oleh rekan saya, Dr Rina Ratih Sri Sudaryani. Beliau merupakan salah seorang dosen di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan yang cukup produktif menulis buku, selain juga artikel jurnal.

Bagi Rina Ratih yang juga doktor sastra lulusan UGM, menulis buku tiap tahun merupakan sarana ungkapan syukur kepada Ilahi yang telah memberikannya nikmat hidup. Ia menerbitkan buku setiap bulan April, mengingat 2 April merupakan tanggal kelahirannya. Di tengah saldo kesibukannya yang luar biasa, antara lain mengajar dan membimbing mahasiswa, mengurus keluarga, serta aktivitas lainnya, Bu Rina tetap bisa menulis dan menerbitkan buku.

Tingginya Saldo Mengajar

Atas fenomena rendahnya minat menulis para dosen kita, saya mencatat tiga hal sebagai penyebabnya. Pertama, tingginya saldo kewajiban mengajar di kampus. Bayangkan, seorang dosen mengajar lebih dari 20 SKS dalam seminggu, belum lagi ditambah dengan kesibukan lainnya. Dalam kondisi demikian, apakah dosen tersebut tetap bisa meluangkan waktu untuk membaca, menulis, dan merenung sehingga menghasilkan pemikiran yang jernih dan inovatif?

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya betul-betul “tersiksa” ketika memperoleh kewajiban mengajar lebih dari 20 SKS per minggu. Tapi untungnya, saya masih bisa menyiasatinya dengan rutin menulis artikel. Hampir tiap bulan 2-3 artikel saya berhasil dimuat di sejumlah media massa lokal dan nasional. Selain itu, saya pun dapat menulis sebuah makalah untuk prosiding seminar di sebuah PTS di Semarang, Jawa Tengah.

Di luar dugaan, saya ternyata mendapatkan tawaran menulis buku dari salah satu penerbit di Yogyakarta. Buku itu saya tulis di tengah-tengah kesibukan saya mengajar di kampus serta aktivitas lainnya. Singkat cerita, sekalipun para dosen sibuk mengajar dan membimbing skripsi mahasiswa, peluang menulis buku tetap terbuka lebar. Hal ini tentu menuntut para dosen untuk pintar-pintar membagi waktu, antara lain, mengajar, membaca literatur, dan menulis buku.

Kedua, nihilnya sanksi bagi para dosen yang malas menulis. Sepanjang karier saya sebagai dosen, belum pernah terdengar kabar kaprodi/dekan memberikan sanksi bagi dosen selaku bawahan karena dosen bersangkutan malas menulis. Entah karena sungkan atau alasan lain, kaprodi/dekan cenderung bersikap abai terhadap do­sen yang malas menulis. Saya kira, sikap abai tersebut harus diperbaiki demi peningkatan kualitas pengembangan diri dosen.

Menurut pengakuan Dr. Bambang Sumintomo, dosen Universiti Teknologi Malaysia, para dosen di kampus UTM memiliki kewajiban publikasi ilmiah. Mereka, terutama dosen bergelar doktor, diwajibkan menulis dan presentasi karya ilmiah di luar negeri, serta jurnal internasional. Saya tak hendak membanding-bandingkan dengan para dosen di UTM, mengingat atmosfer kinerja dan akademik dosen kita sangat jauh berbeda dengan mereka.

Namun, yang ingin saya garis bawahi ialah bahwa pihak kampus UTM memberikan kewajiban kepada para dosennya untuk menulis. Tentu, apabila menulis dijadikan sebagai kewajiban bagi para dosen UTM, maka hal itu berimplikasi kepada hak atas kewajiban tadi berupa insentif. Selain itu, yang tak kalah penting ialah, tersedianya sarana dan prasarana di kampus UTM berupa akses internet terhadap jurnal internasional yang cepat dan memadai.

Rendahnya Royalti Buku

Ketiga, rendahnya jumlah royalti buku yang diterima. Sepengetahuan saya, rata-rata penerbit buku di Indonesia memberikan royalti buku sebesar 10 persen kepada penulis buku. Sementara itu, 90 persen lainnya tersedot untuk biaya operasional penerbit dan distributor. Barangkali, hal itu yang menyebabkan kenapa para dosen kita enggan (atau malas?) menulis buku. Mereka pun lebih memilih sibuk mengajar di kelas ketimbang menulis buku.

Bagi para dosen kita, mengajar mahasiswa lebih mudah daripada menulis buku. Sebelum mengajar, seorang dosen biasanya cukup membuat materi berupa powerpoint. Ada kalanya materi tersebut cukup dikopi ulang (copy paste) dari tahun lalu sehingga tak ada unsur kebaruan di dalamnya. Atau yang banyak terjadi para dosen kita hanya mengacu buku/referensi “jadul” tatkala ia menempuh studi sarjana (S-1) sekian tahun yang lalu. Sungguh potret anomali bukan?

Situasi di atas sangat jauh berbeda dengan saat menulis buku. Apabila seorang dosen ingin menulis buku, mau tidak mau, ia pun “dipaksa” untuk membaca buku/referensi mutakhir. Di samping itu, ia juga harus pandai menyesuaikan gaya penulisan yang lebih populer serta mudah dipahami oleh pembaca. Sementara buku itu nantinya akan laris atau tidak, itu merupakan urusan nomor sekian. Yang penting seorang dosen mau menulis terlebih dahulu.

Tapi, satu hal yang tak kalah penting bahwa apabila para dosen menyadari bahwa dirinya ialah tokoh intelektual, semestinya menulis buku menjadi salah satu jalan untuk berkontribusi demi perbaikan bangsa-negara ini. Kata Buya Syafii, membaca, menulis, dan merenung merupakan kegiatan utama bagi seorang dosen. Apabila ada seorang dosen tak mau melakukan ketiga kegiatan tadi, lanjut Buya Syafii, maka ia tak pantas menyandang predikat dosen. Semoga! ●

Pembelajaran Teks, Sejumlah Catatan

Pembelajaran Teks, Sejumlah Catatan

Sudaryanto  ;   Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
 FKIP Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
HALUAN,  24 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Salah satu hal yang dianggap baru dan mendasar dalam Kurikulum 2013 ialah pembelajaran teks dalam mata pelajaran Ba­hasa Indonesia. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemen­dikbud, Mahsun (2013), menegaskan hal itu.

“Dari SD sampai SMA, kurikulum Bahasa Indonesia diajarkan dengan berbasis teks,” ujarnya. Pertanyaan­nya, hal-hal apa sajakah yang perlu dipersiapkan dalam pembelajaran teks di sekolah / madrasah kita?

Dalam sebuah teori pembelajaran disebutkan, ada tujuh komponen yang berperan di dalam pem­belajaran di kelas. Ketujuh komponen itu meliputi guru, siswa, strategi mengajar, kurikulum, materi / bahan ajar, media ajar, dan eva­luasi pembelajaran.

Tulisan ini ingin me­m­fokus­kan diri pada empat hal saja, yaitu guru, siswa, strategi mengajar, dan materi/bahan ajar. Adapun soal kurikulum, media ajar, dan evaluasi pembelajaran, kelak dibahas di lain kesempatan.

Pertama, faktor guru. Sebaik dan sebagus apapun kurikulum yang dirancang oleh pemerintah, termasuk Kurikulum 2013, saya yakin, guru tetap menjadi faktor kunci dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam konteks pelajaran Bahasa Indonesia, guru Bahasa Indonesia memegang peran penting dalam pelak­sa­naan pembelajaran teks.

Penguasaan guru terhadap teks berbahasa Indo­nesia dapat dilakukan melalui dua kegiatan, yaitu membaca dan menulis.

Lemah Membaca dan Menulis

Saya sependapat dengan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang juga Guru Besar Linguistik Universitas Mataram, Mahsun (2013). Dia berpendapat, “Selama ini, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak dipakai untuk membentuk cara berpikir. Tak heran, jika kita lemah dalam membaca maupun menulis.”

Ungkapan bahwa kita “lemah dalam membaca maupun menulis” layak digaris bawahi oleh semua pihak, termasuk guru Ba­hasa Indonesia. Dalam rangka men­yam­but pelaksanaan Kuri­kulum 2013, terutama pembelajaran berbasis teks di kelas, para guru Bahasa Indonesia dituntut untuk gemar mem­baca dan menulis.

Mereka harus memiliki pengetahuan mengenai ragam-ragam teks, mulai dari teks deskriptif, cerita ulang (recount), hingga karya sastra. Selain itu, para guru Bahasa Indonesia harus pula memiliki kese­nangan dalam menulis, baik teks fiksi maupun nonfiksi.

Melalui teks puisi, misal­nya, para guru Bahasa Indonesia dapat mengajarkan siswanya di kelas untuk menjadi sosok apresiator yang baik, selain juga menjadi sosok kreator yang baik pula.

Bahkan, melalui teks puisi pula, para guru Bahasa Indonesia dapat mem­bentuk sikap positif dan nilai-nilai luhur pada diri siswanya. Misalnya, melalui puisi “Kupu-kupu dalam Buku” (1996) karya Taufiq Ismail, siswa diharapkan memiliki kegemaran mem­baca di tempat mana pun.

Kedua, faktor siswa. Selain guru yang dituntut untuk gemar membaca dan menulis, siswa juga dituntut hal serupa. Kegemaran membaca dan menulis siswa akan tumbuh tatkala di sekolah dan rumahnya tersedia bahan bacaan yang lengkap. Tanpa itu, kegemaran membaca dan menulis siswa tidak akan bisa terwujud.

Di sini, saya tiba-tiba teringat pengalaman dari rekan penulis Dr. Shofwan Al Banna Choiruzadd, atau biasa disapa Mas Shofwan.

Sedari kecil, Shofwan tumbuh di lingkungan keluarga yang gemar membaca. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Kampung Jogo­kariyan, Yogyakarta. Ketika kawan sebayanya lebih banyak bermain, Shofwan justru memilih di rumah dan asyik membaca buku-buku koleksi ayahnya, KH Muhammad Jazir Asp. Atas kegemaran membacanya itu, ia pun bisa menulis beberapa buku yang best seller, seperti Ramadhan Is Dead?

Pendek kata, baik guru Bahasa Indonesia maupun siswa, dituntut untuk sama-sama memiliki kegemaran membaca dan menulis. Untuk mewujudkan hal itu, alangkah bijaknya kalau pihak sekolah dan orang tua menyediakan bahan-bahan bacaan yang disukai oleh siswa-siswa/anak-anaknya.

Tak ada salahnya, misalnya, jika guru di kelas dan orang tua di rumah sesekali membelikan hadiah ulang tahun kepada siswa/anaknya berupa buku atau ensiklopedia.

Inovasi Pembelajaran

Ketiga, faktor strategi mengajar. Seorang kawan pernah bercerita bahwa dirinya lebih menyenangi pelajaran Kimia di SMA karena cara penyampaian materi oleh gurunya yang inovatif dan kreatif.

Kebetulan, gurunya itu merupakan guru praktikan (PPL). Selain juga masih muda, ia juga senang memberikan apresiasi positif kepada semua siswa, ter­masuk kawan saya tadi. Beberapa tahun kemudian, kawan saya tadi menjadi dosen di kampus yang sama dengan penulis.

Dari cerita di atas, ada dua hal yang perlu dicatat di sini. Pertama, materi ajar boleh sama di tangan para guru, namun strategi pembelajaran di kelas harus inovatif sehingga siswa menjadi senang dan mudah memahaminya.

Kedua, alangkah baiknya jika seorang guru pandai memberikan apresiasi positif kepada siswanya. Misalnya, dengan mengucapkan kata-kata seperti “Bagus!”, “Sip!”, “Cerdas!”, ataupun cukup menunjukkan ibu jari atau jempol saja.

Keempat, faktor materi/bahan ajar. Seperti dising­gung di atas, teks atau genre mudah didapatkan dari beragam sumber, seperti buku, majalah, atau internet. Melalui internet, misalnya, guru Bahasa Indonesia dapat mencari, memilih, dan memilah teks-teks deskripsi untuk membelajarkan ke­mam­puan deskriptif para siswanya. Atau, melalui internet pula, siswa-siswa mencari teks-teks cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai luhur dan karakter positif.

Bagi guru Bahasa Indonesia, siaran berita dari stasiun radio, baik pusat maupun daerah, dapat dimanfaatkan sebagai materi ajar kompetensi menyimak berita. Bahkan, tidak ter­tutup kemungkinan materi ajar tersebut dimanfaatkan ke arah penelitian tindakan kelas, seperti dilakukan oleh Sutrisno, guru Bahasa Indonesia SMP N 1 Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta. Teks atau genre tak harus berwujud tulis, tetapi juga bisa berwujud lisan.

Akhir kata, keberhasilan (atau malah sebaliknya) pembelajaran teks atau genre dalam pelajaran Bahasa Indonesia amat ditentukan oleh beragam faktor. Guru, siswa, strategi mengajar, dan materi/bahan ajar layak diperhatikan oleh pihak sekolah dan orang tua. Bagaimana pun, Kurikulum 2013 hanyalah sebuah dokumen yang, mau tidak mau, masih memerlukan daya kreativitas, inovasi, dan kemauan semua pihak untuk mewujudkannya secara sinergis. Anda setuju? ●

Hebatnya Perguruan Tinggi

                      Hebatnya Perguruan Tinggi

Sudaryanto  ;   Dosen FKIP Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
HALUAN,  17 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Pada Senin pagi, 10 Februari lalu, pe­nulis dan istri bertemu dengan Kepala Atase Bidang Pen­didikan KBRI Beijing, Bapak Chaerun Anwar. Dalam pertemuan yang hangat itu, saya diberikan buku ber­judul Key University di China. Buku tersebut meru­pakan karyanya bersama Riyono Utomo, staf Atase Pendidikan KBRI Beijing. Lewat buku itu, kita dapat mengetahui betapa hebatnya perguruan tinggi-perguruan tinggi di China. Apa-apa sajakah kehebatan itu?

Pertama, pemerintah China fokus pada revitalisasi perguruan tinggi (PT) untuk menjadi universitas kelas dunia (world class uni­versity) dan universitas papan atas di dunia. Melalui program “Proyek 985” tahun 1998, Biro Pelayanan Pen­didikan Rakyat mendorong Peking University dan Tsinghua University untuk menjadi universitas kelas dunia. Sementara itu, 37 universitas lainnya didorong untuk menjadi universitas papan atas di China dan dikenal masyarakat dunia.

Kondisi tersebut jauh berbeda dengan kondisi kita. Di Indonesia, begitu banyak PT yang bermimpi meraih predikat universitas kelas dunia. Padahal, daya du­kung, baik SDM maupun fasilitasnya belum memenuhi ke arah tersebut. Walhasil, predikat universitas kelas dunia menjadi sekadar mimpi dan wacana belaka. Bahkan, kalau boleh jujur, wacana universitas kelas dunia kini tenggelam dengan hiruk-pikuk wacana pen­didikan karakter dan Ku­rikulum 2013.

Progresif dan Berkelanjutan

Kedua, pengembangan PT di China berjalan pro­gresif dan berkelanjutan. Setelah “Proyek 985”, kemu­dian dilanjutkan dengan “Proyek 211” yang mem­bangun 100 key university dan 1.000 key diciplines dari 1.700 universitas yang terdapat di sana. Universitas yang memperoleh dana untuk peningkatan status sebagai key university terdiri atas 113 universitas. Dari 39 universitas, kini ber­kem­bang menjadi 113 univer­sitas. Sungguh mengagum­kan bukan?

Progresivitas PT di China tak hanya terlihat pada segi jumlah, tetapi juga pada segi bidang keilmuan. Dalam “Proyek 985”, ada empat bidang yang ditekan­kan, yaitu pendidikan, teknologi, pertanian, dan kelautan. Sementara itu, dalam “Proyek 211”, bidang keilmuan bertambah ban­­yak, yaitu pendidikan, teknologi, pertanian, ke­lautan, bahasa asing, olah raga, pos dan tele­ko­mu­nikasi, musik, ekonomi, hukum, hubungan inter­nasional, dan kedokteran.

Sekadar contoh, Beijing Foreign Studies University (BFSU) merupakan kampus terkemuka yang me­nawar­kan berbagai program studi bahasa asing, termasuk Bahasa Indonesia. Kemudian, ada Ocean University of China dan Dalian Maritime University. Idealnya, Indo­nesia juga memiliki uni­versitas yang bergerak di bidang kelautan dan ma­ritim karena kita merupakan negara yang dianugerahi oleh Allah SWT lautan yang maha luas dan kaya.

Ada Beijing Sport Uni­versity yang menawarkan berbagai program studi terkait bidang olah raga. Melalui kampus ini, kelak bakal dihasilkan olah­ragawan-olahragawan China yang mampu berprestasi di pentas internasional. Di Indonesia, kita belum punya universitas khusus di bidang olah raga. Yang baru ada ialah program studi Pen­didikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan dan Ilmu Keolahragaan yang “dititip­kan” di kampus LPTK atau eks-IKIP.

Selanjutnya, ada pula China Agricultural Uni­versity, Jiangxi Agricultural University, Sichuan Agri­cultural University, dan Huazhong Agricultural University, yang semuanya fokus di bidang pertanian. Sementara di Indonesia, baru ada Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai satu-satunya kampus yang fokus di bidang pertanian. Padahal, negara kita merupakan negara agraria yang me­miliki lahan sekian ratus dan bahkan ribuan hektare tanah.

Pendek kata, perkem­bangan bidang ilmu penge­tahuan dan teknologi di China bisa dibilang cukup pesat. Dan hal itu diimbangi dengan berdirinya univer­sitas-universitas yang me­nanganinya. Dulu China hanya memiliki Ocean University of China yang bergerak di bidang kelautan, tapi kini juga memiliki Ocean University of China dan Dalian Maritime Uni­versity. Sekali lagi, inilah wujud progresivitas PT China yang patut kita tiru dan ikuti.

Becermin dari China

Becermin dari ke­ber­hasilan China dalam me­ngem­bangkan PT, kiranya kita pun dapat melakukan hal serupa. Seingat saya, baru ada lima bidang ke­ilmuan yang berbasis kam­pus di Indonesia, yaitu pendidikan, agama, per­tanian, teknologi, dan seni. Bidang pendidikan diwakili oleh kampus LPTK (eks IKIP dan STKIP), bidang agama oleh UIN/IAIN/STAIN, bidang pertanian oleh IPB, bidang teknologi oleh ITB dan ITS, dan bidang seni oleh STSI/ISI.

Masih ada banyak bi­dang keilmuan yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, bidang pariwisata yang baru di­wakili oleh kampus se­tingkat sekolah tinggi. Jika kita ingin serius mening­katkan pamor pariwisata Indonesia di tahun-tahun mendatang, selayaknyalah kita memiliki universitas di bidang pariwisata. Univer­sitas tersebut dapat di­bangun di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata di Indonesia, seperti Bali dan Yogyakarta.

Contoh lainnya, bidang kedirgantaraan. Bidang yang satu ini sempat naik pamor kala kita berhasil membuat pesawat N-250 melalui Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), Bandung. Namun sayangnya, bidang tersebut tenggelam begitu saja. Saya kira, Indonesia perlu memiliki universitas di bidang kedirgantaraan agar kelak menghasilkan sarjana-sarjana yang mampu berpikir inovatif dan kreatif di bidang tersebut.

Contoh lainnya lagi, bidang transportasi dan infrastruktur. Transportasi umum di Indonesia, khusus­nya kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, masih perlu diperbaiki. Termasuk pula infrastruktur di Jalur Pantura. Banjir di beberapa daerah di Pantura waktu lalu, ternyata berdampak serius bagi laju ekonomi. Alhasil, Indonesia perlu memiliki universitas yang berfokus di bidang trans­portasi dan infrastruktur.

Akhir kata, penulis berkesimpulan bahwa tren hebatnya PT di China, termasuk pemberian gelar Doktor Honoris Causa ke­pada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dari Tsinghua University, layak diapresiasi. Harapannya, tren serupa juga dapat dilakukan di negeri ini. Saya percaya bahwa Dikti melakukan langkah yang progresif setiap tahun; namun sayangnya negara lain lebih progresif dalam mengembangkan PT-nya. Jadi, tunggu apa lagi? ●