Cerdas Pilih Organisasi GuruTh Rosid Ahmad ; Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Kota (& Eks Karesidenan) Semarang |
SUARA MERDEKA, 06 Maret 2014
| "Guru hanya diperalat demi ambisi dan keuntungan pihak lain bila tidak cerdas memilih organisasi" Pengalaman mengajarkan, guru mesti cerdas dan cermat memilih satu organisasi sebagai tempat berkiprah. Beragam organisasi guru hadir, semua mengklaim paling membela kepentingan pendidik. Begitu pun, guru harus yakin benar bahwa pilihan diberikan kepada organisasi yang mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalitas. Sejak era reformasi terbuka lebar kesempatan bagi kelompok Oemar Bakrie untuk berserikat. Wajar jika muncul banyak organisasi, seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI), dan lain-lain. Guru pun tampak makin dinamis dalam penampilan gaya dan sudut pandang yang dianut masing-masing organisasi, secara personal ataupun institusional. Kendati demikian kehadiran mereka perlu diapresiasi, sekaligus dikritisi, agar tidak sekadar utopia. Siapa bisa menjamin, keikutsertaan dalam organisasi akan membuat guru makin kompeten dalam tugas, profesional dalam karya, dan hidup sejahtera. Pada alam demokrasi tidak ada yang bisa melarang guru mendirikan organisasi, begitu kata Sulistiyo, Ketua Umum PB PGRI, yang juga anggota DPD. Kemenjamuran organisasi bisa juga bermakna positif. Andai PGRI jadi satusatunya organisasi guru, bisa saja timbul kekhawatiran berbagai keluhan atau kritik sulit mendapatkan tempat. Namun, akan menjadi kontraproduktif jika kehadiran banyak organisasi malah menimbulkan kegaduhan. Masingmasing mengaku paling hebat memperjuangkan kepentingan anggota. Apa pun masalahnya, paling utama bagaimana kehadiran organisasi profesi bisa memberi manfaat nyata dalam mendongkrak kualitas pendidikan di negeri ini. Guru yang kompeten sungguh memahami perkembangan kognitif anak, mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan baik, serta mengevaluasi hasil belajar dengan benar. Lebih dari itu, guru profesional penuh atensi pada siswa, paham kurikulum, dan menjunjung tinggi disiplin. Yang pasti, guru mesti efektif memotivasi siswa belajar, dan secara kreatif menemukan strategi yang sesuai kapasitas dan interes tiap individu. Dengan begitu akan tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan, selalu baru, dan tak membosankan. Perlakuan yang adil mesti diberikan pada tiap siswa tanpa membedakan latar belakang budaya, ras, gender, dan agama. Aspirasi Konstruktif Organisasi guru, apa pun bentuk dan namanya, sekalikali bukan tempat pelarian para tokoh, (mantan) pejabat, politikus ataupun pensiunan untuk berorganisasi. Bukan pula arena bagi mereka yang cuma ingin populer dan dikenal publik. Organisasi guru hadir untuk membereskan kerusakan moral anak bangsa. Sejatinya, lewat organisasi orang bisa menyalurkan aspirasi yang konstruktif demi membangun lingkungan baru sebagai tempat berkarya yang lebih baik. Sudah selayaknya organisasi berjuang demi nasib anggota, membuat mereka makin berkembang, profesional, dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Keterlibatan dalam organisasi bukan saja akan menambah jaringan dan teman, tapi juga membuat pemikiran makin berkembang. Beragam persoalan yang dihadapi akan memperkaya wawasan dan berguna bagi pengembangan karier. Dengan berorganisasi maka orang makin bijak membagi waktu sehingga bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Dalam situasi apa pun, fokus guru tetaplah pada tugas: bukan cuma mengajar melainkan mendidik. Masalah selalu hadir di lapangan. Banyak guru terkendala dalam upaya meningkatkan kompetensi, menyusun persiapan mengajar secara lengkap, rapi, dan benar. Juga masalah tunjangan profesi yang kadang tak dibayar utuh. Melalui organisasi, berbagai kesulitan itu bisa dikomunikasikan. Ingat, kita berpikir bukan hanya untuk hari ini atau besok. Kita berpikir untuk jangka panjang, menyiapkan generasi muda pemimpin masa depan bangsa. Jika tidak cerdas memilih organisasi, guru hanya diperalat demi ambisi dan keuntungan pihak lain. Jangan sampai guru menjadi lahan subur untuk dimanfaatkan pihak-pihak yang mengail di air keruh. ● |

Post a Comment