Sinbad si Pelaut

Sinbad si Pelaut

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KOMPAS,  23 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Pernah dengar cerita tentang Sinbad si Pelaut? Ini dia salah satunya. Nona dan Abi adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mereka tinggal di suatu daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang penuh dengan buaya.

Meskipun tempat tinggal mereka dipisahkan oleh sungai itu, mereka dapat saling berkunjung melalui jembatan kecil. Pada suatu hari terjadi badai besar yang meruntuhkan dan menghanyutkan jembatan tersebut. Pasangan kekasih itu sangat menderita oleh karenanya. Lenyaplah satu-satunya cara untuk bertemu. Nona berdiri di tepi sungai setiap hari, menantikan terjadinya mukjizat.

Pada suatu hari Sinbad, seorang pelaut, berlayar di sepanjang sungai itu mendekati tempat tinggal Nona. Gadis itu memanggilnya dan meminta mengantarkan ke seberang sungai untuk menjumpai Abi. Sinbad merasa gembira atas permintaan itu dan berkata: ”Tentu saja! Saya akan dengan senang hati membawamu ke seberang tetapi ada syaratnya, kau harus tidur denganku dulu!” Nona menangis mendengar syarat yang diajukan Sinbad. Dia belum pernah berhubungan seks dengan siapa pun.

Dia memutuskan untuk meminta nasihat seorang teman yang bernama Iwan. Ternyata Iwan bersikap acuh tak acuh dan dingin terhadap persoalan ini. Dia hanya berpangku tangan dan berkata kepada Nona : ”Itu urusanmu, saya tak ingin terlibat.” Jawaban Iwan yang begitu dingin membuat Nona berpikir berkali-kali mengenai masalah yang dihadapinya itu. Akhirnya Nona memutuskan untuk memenuhi tuntutan Sinbad.

Ketika akhirnya Nona bertemu dengan Abi pada hari berikutnya, diceritakannya kepada Abi semua yang telah terjadi dan bagaimana sulitnya dia berjuang untuk membuat keputusan ini. Abi sangat marah atas apa yang telah dilakukan oleh Nona dan dia mengusir gadis itu supaya tidak kembali lagi. Gadis yang malang itu berlutut dan merangkul Abi sambil menangis, memohon supaya Abi tidak meninggalkannya, tetapi anak muda itu tidak menghiraukannya.

Maka Nona pergi kepada teman lainnya yang bernama Badi. Setelah diceritakan kisahnya dari awal sampai akhir, Badi memutuskan untuk menemui Abi, dia menghajar Abi habis-habisan, bagaimanapun, mengapa seorang seperti Abi sampai hati memperlakukan gadis semanis Nona sedemikian rupa?

Setelah membaca kisah Sinbad di atas, cobalah menjawab pertanyaan ini: dari kelima orang itu, siapakah yang Anda anggap paling salah? Buatlah urutan (peringkat) dari kelima orang itu berdasarkan berat ringannya kesalahan masingmasing berikut alasan-alasan mengapa Anda sampai pada urutan demikian? Ambil waktu sejenak untuk memikirkan jawaban Anda sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.

Saya percaya bahwa Anda semua bisa menjawab pertanyaan-petanyaan di atas. Apa pun alasan Anda, tidak sulit mengurutkan siapa yang bersalah berdasarkan kriteria Anda sendiri. Misalnya, Anda pikir Sinbadlah yang paling kurang ajar karena dia sudah melanggar norma agama dan menyalahi UU Hak Asasi Perawan.

Tapi cobalah Anda minta beberapa orang lain untuk menjawab pertanyaan yang sama. Anda akan tercengang mengetahui bahwa ada orang yang menyatakan Nonalah yang paling salah karena dia tidak mampu menjaga dirinya sendiri, tidak beriman, tidak bertakwa. Sementara Sinbad hanya seorang pedagang, wajarlah kalau dia meminta imbalan atas jasa yang sudah diberikannya.

Dan Anda akan lebih tercengang lagi ketika ada yang menyalahkan Iwan yang cuek saja dan tidak mau membantu untuk mengatasi masalah Nona. Kalau Iwan mau membantu, misalnya dengan menemani Nona menyeberang dengan kapal Sinbad dan membayari ongkos penyeberangan kepada Sinbad, maka Nona tidak akan diperkosa Sinbad, Abi akan berterima kasih kepada Iwan, dan Badi tidak perlu memukuli Iwan sampai berdarah-darah.

Demikianlah seterusnya. Makin banyak orang, makin banyak juga pendapat dan alasanalasannya. Masalah akan timbul jika orang-orang yang banyak itu harus mencari kesepakatan mana yang paling salah dan mana yang paling benar dalam cerita Sinbad tersebut.

Saya menemukan dalam banyak diskusi kelompok untuk mencari kesepakatan atas persoalan Sinbad ini (biasa dilakukan dalam pelatihan-pelatihan kerja sama kelompok), pencapaian kesepakatan itu sangat alot, bahkan ada yang sampai menunjuk-nunjuk lawan diskusinya atau bahkan menggebrak meja saking marahnya gara-gara sama-sama ngotot tidak mau mengalah tentang siapa yang paling salah.

Sebaliknya ada peserta yang selama diskusi diam saja dan ikut saja dengan pendapat orang. Ketika ditanya dalam evaluasi pascadiskusi, peserta yang diam itu menyatakan bahwa ia mengalah saja supaya diskusi cepat selesai, padahal sebenarnya dongkol kepada peserta yang paling vokal, yang menurutnya sombong banget, dan semua orang nurut sama dia, padahal pendapatnya salah.

Nah, kalau diskusi yang sama terjadi bukan dalam kelompok kecil, melainkan antarseluruh eksponen bangsa dan isunya bukan tentang Sinbad, tetapi tentang siapa yang salah sehingga banyak anggota DPR/D dan oknum pemerintah korupsi, diskusinya tidak akan selesai-selesai. Yang satu akan menyalahkan yang lain dan solusinya juga akan berbeda-beda.

Ada yang menyarankan hukuman mati buat semua koruptor (dengan cara digantung di Monas), ada yang menyarankan Wakil Presiden dilengserkan saja karena dialah biang korupsi dalam kasus Bank Century (walaupun sebentar lagi dia pun akan lengser sendiri), ada lagi yang mau menegakkan hukum syariah (harga mati!), tetapi ada juga yang menyalahkan KPK, karena itu KPK dibubarkan saja!

Namun jika diskusi berlarut-larut terus, bahkan dikompori terus melalui debat-debat di media massa supaya seru untuk mencapai rating yang tinggi, kapan kita akan mulai bekerja? Pada suatu titik demokrasi harus diikat dengan kesimpulan yang jelas dan tegas (walaupun mungkin belum tentu sepenuhnya benar) sehingga kita semua bisa mulai bekerja untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Kalau tidak, kita akan terus berputar-putar, jalan di tempat, sementara negara-negara di sekitar kita sudah melesat maju. ●

Lucu Itu Kontra Logika

Lucu Itu Kontra Logika

 Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 16 Maret 2014
                                                                                                                 
                                                                                         
                                                                                                             
Setiap orang yang hobi nonton infotainment pasti masih ingat beberapa bulan (atau tahun?) yang lalu seorang artis penyanyi pop yang supercantik (menurut saya) dan single mother, putus dari pacarnya, selebritas cowok yang handsome, yang beberapa tahun lebih muda darinya.

Si handsome ini, yang setiap pagi tampil dalam acara hura-hura di salah satu stasiun TV, setiap manggung selalu jadi bulan-bulanan ejekan dari lawan mainnya dan isu yang diangkatnya selalu tentang hubungan antara si handsome dan si artis. Ejekan-ejekan itu membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal dan si handsome pun tidak marah, bahkan justru menimpali pancingan lawan main itu, yang membuat penonton makin terbahak. Tetapi si artis, pacar si handsome, yang menonton di rumah, tidak senang.

Dia merasa dilecehkan dan dia coba peringatkan si handsome supaya tidak melanjutkan kebiasaan saling mengejek di panggung itu, tetapi si handsome tampaknya tidak punya cara lain untuk melucu kecuali saling meledek dengan lawan mainnya itu (yang malah sudah pernah mendapat peringatan dari KPI/Komisi Penyiaran Indonesia). Alasannya tentu kejar rating. Akhirnya si artis memutuskan untuk putus dari si handsome. Rencana program bersama (artis dan handsome) yang sudah sempat sekali tayang terhenti begitu saja dan tidak berlanjut.

Lain dengan ketika Srimulat masih berjaya. Saya lumayan sering nonton sandiwara lawak itu. Baik ketika mereka masih di Surabaya maupun ketika mereka sudah pindah ke Taman Ria Remaja di Senayan, Jakarta, dan tentunya paling sering nonton mereka di televisi. Salah satu adegan yang saya dapat di YouTube adalah dialog antara Timbul dan istrinya, Rina (yang cantik, berkain kebaya). Rina mengeluh kepada Timbul karena setiap hari dia didatangi orang-orang yang menagih utang pada Timbul.

”Saya malu, Mas, saya malu!” ujar Rina. ”Loh, saya utang kok kamu yang malu?” balas Timbul. ”Iya, kan malu, saya kan istrimu.” ”Sekarang saya mau tanya, ini bajumu dapat dari siapa?” ”Ya, dari Mas Timbul, to... kamu kan suamiku.” ”Kalungmu ini dari siapa?” ”Yaa, dari Mas Timbul.” ”Makanya, kamu minta kalung saya belikan, kamu jual! Kamu minta gelang, saya belikan, kamu jual! Kamu minta mobil, belum saya belikan, kamu jual!” Penonton tergelak. Mana mungkin, mobil belum dibelikan, kok dijual? Tetapi, di sini lucunya karena yang tidak mungkin, tetapi dinyatakan dengan penuh keyakinan! Yang terjadi adalah kontra logika. Tetapi kontra logika inilah yang justru lucu. Contoh kontra logika yang lain adalah ketika Timbul bertanya pada Rina. ”Saya yang utang, kok kamu yang malu?” Seakan-akan tidak ada hubungannya antara utang dan status suami-istri.

Adegan lain yang saya tonton di YouTube adalah Jayakarta Group yang bermain di salah satu acara TVRI. Waktu itu Prapto sedang mewawancarai Tjahjono (baca: Cahyono), Uuk, dan Jojon. ”Siapa yang bisa menjawab pertanyaan, boleh kerja sama saya,” kata Prapto. ”OK, Tjahjono duluan” ”Oke,” ucap Tjahjono. ”Siapa nama Presiden Amerika?” tanya Prapto.

”Presiden Ronald Reagan,” jawab Tjahjono. ”Bagus. Sekarang kamu Uuk. Siapa nama Presiden Libya,” tanya Prapto lagi. ”Muamar Kadhafi,” jawab Uuk. ”Sekarang kamu, Jon,” kata Prapto. ”Oke, mau tanya apa?” tantang Jojon sambil petantang-petenteng. ”Siapa nama kakek Idi Amin?” Jojon pun mati gaya. Siapa pula yang tahu nama kakek presiden Uganda yang konon suka makan orang itu? Penonton tergelak lagi. Padahal hampir tidak ada pandangan mata yang lucu. Tidak ada orang terjatuh-jatuh, baku pukul, apalagi baku hina di panggung.

Jojon bahkan belum memakai celana ngatung dan bretelnya ketika itu. Ia masih berkemeja tangan panjang dan bercelana panjang biasa saja walaupun sudah memakai kumis Charlie Chaplin (atau kumis Hitler, ya?), yang ada hanya pembolak-balikan kata-kata sehingga mengacaukan logika. Bahkan pakaian Jojon yang unik itu pun mengandung kontra logika (kumis Hitler kontra celana ngatung diatas perut dan bretel). Pada zaman saya masih sekolah dulu ada film Amerika yang menampilkan pelawak Jerry Lewis (suaranya cempreng seperti anak kecil) yang didampingi penyanyi handsome Dean Martin, yang sama sekali tidak lucu.

Tetapi, film-film mereka ketika itu selalu top karena dialog-dialog antara kedua orang itu selalu mengundang tawa, juga karena mereka pandai memainkan logika dan kontra logika. Untuk bisa memainkan logika sehingga menjadi kontra logika diperlukan otak yang cerdas dan kreatif sekaligus. Juga diperlukan intuisi yang tajam sehingga bisa cepat merespons kalimat-kalimat pancingan yang dikeluarkan lawan main. Tidak seperti sekarang, panggung-panggung lawak diisi pelawak-pelawak slapstick yang lebih banyak mengandalkan gerak ketimbang bicara.

Kadang-kadang bahkan wajah cantik atau ganteng, padahal ngomong saja tidak lancar, dipajang juga, sehingga umpan-umpan yang dilontarkan kawan-kawan mainnya tidak mampu dibalasnya. Akhirnya si cantik dan si ganteng itu hanya jadi patung-patung penghias panggung, sementara penonton menertawakan para pelawak yang jungkir balik di panggung sambil saling mengejek. Itulah bedanya lawak zaman sekarang dengan lawak zaman Jojon, Asmuni, Bambang Gentolet, Kadir, Prapto, Bing Slamet, dan kawan-kawannya.

Pelawak zaman dulu dengan kecerdasannya membuat orang tergelitik logikanya sehingga tertawa, pelawak sekarang cukup membuat adegan-adegan saling menertawakan di panggung, dan penonton pun ikut menertawakan. Menertawakan tidak sama dengan tertawa, tetapi pelawak zaman sekarang yang mahir mengajak penonton untuk menertawakan orang lain, mendapat honor yang jauh lebih besar (mampu membeli mobil mewah) daripada pelawak zaman dulu yang justru pandai membuat orang tertawa. Sayang banyak pelawak zaman dulu yang sekarang sudah tiada, termasuk yang beberapa hari yang lalu sudah lebih dulu meninggalkan kita: Jojon. Inna lillahi wa inna illaihi rajiun. ●

Duduk Bersama

Duduk Bersama

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO,  09 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                             
Saya rasa setiap orang pernah mengalami duduk bersama seseorang yang sama sekali tidak dikenal, misalnya ketika menunggu di tempat praktik dokter dan dokternya terlambat datang (ini hanya contoh, karena bisa juga terjadi di tempat lain).

Untuk mengatasi kebosanan biasanya salah satu mulai nyeletuk, ”Dokternya lama, ya?” ”Iya, padahal biasanya dia enggak pernah telat,” jawab yang lain. ”Iya, padahal saya sudah buru-buru dari kantor, takut kena macet.”
”Iya, dokternya juga kena macet nih, barangkali. Ngomong-ngomong kantor Bapak di mana?”
”Di Jalan Thamrin. Di Bank Sejahtera Antarbangsa.”
”Loh, itu kan tempat anak saya bekerja?”
”Ah, serius? Nama anak Bapak siapa?”
”Adit. Dia di Bagian Hukum.”
”Wah, Adit itu anak buah saya. Saya Kepala Bagian Hukum di bank itu.”
”Wah, senang sekali ketemu Bapak.” Dan seterusnya mereka mengobrol, sehingga tidak disadari dokter sudah datang. Kisah berakhir dengan saling tukar nomor HP dan janji untuk saling kontak lagi.

Dalam ilmu psikologi komunikasi ada teori yang ditemukan oleh Joseph Luft dan Harrison Ingham dan dinamakan teori Jendela Johari (singkatan dari nama kedua penemu teori ini: Jo dan Harri). Teori ini mengatakan bahwa dalam komunikasi antara dua orang, ada hal-hal yang diketahui bersama yang dinamakan wilayah terang (WT), ada yang diketahui oleh diriku saja, tetapi tidak diketahui oleh kawannya yang dinamakan wilayah rahasia (WR), tetapi ada juga yang diriku tidak tahu padahal orang lain tahu yang dinamakan wilayah buta (WB), dan yang terakhir adalah wilayah sama-sama tidak tahu (WSSTT).

Kalau keempat wilayah itu dibayangkan seperti sebuah jendela persegi empat yang terbagi dalam empat bagian dengan dua palang horizontal dan vertikal, maka bagian jendela kiri atas adalah WT, di bawahnya WR, di sebelah kanan wilayah terang adalah WB, dan bagian kanan bawah adalah WSSTT. Ketika kedua bapak itu baru bertemu, bagian WT adalah yang paling kecil.

Kedua Bapak itu hanya sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama lama menunggu dokter. Selain itu mereka juga sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama laki-laki, yang satu berdasi karena baru dari kantor, yang satu lagi berkemeja biasa karena pensiunan dan juga pastinya yang satu lebih muda dan yang lain lebih tua.

Tetapi pada akhir percakapan WT itu makin lebar, karena masing-masing sudah saling tahu di mana tempat kerja mereka, di mana tempat tinggal, berapa anak masing-masing, bahkan yang tadinya termasuk wilayah SSTT jadi masuk wilayah terang, yaitu ketika ternyata mereka masih ada hubungan saudara. Itulah dialog dalam arti kata yang sebenarnya.

Sepertinya enak sekali dialog itu, kan? Karena itulah dalam isu-isu sosial, termasuk politik, sering diserukan untuk duduk bersama dan berdialog untuk mengatasi perbedaan pendapat, bahkan konflik. Maka konflik Ambon dan Poso dicoba diselesaikan melalui dialog di Malino (11-12 Februari 2002), tetapi Ambon dan Poso tidak langsung damai.

Ambon baru beberapa tahun kemudian damai, dan di Poso beberapa hari yang lalu dua anggota Brimob yang sedang patroli ditembak orang tak dikenal. Aceh berhasil didamaikan melalui dialog RI-GAM pascatsunami, 27 Juli 2005, yang difasilitasi oleh Pemerintah Finlandia, tetapi baru beberapa hari yang lalu juga kita baca di koran tentang seorang Caleg Partai Nasional Aceh bernama Faisal yang ditembak mati di Banda Aceh.

Masih banyak contoh lain yang bisa dideretkan di sini, termasuk misalnya konflik Mesuji, konflik Bima, konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura, persoalan gereja Yasmin di Bogor, dll, yang semuanya berlarut-larut, walaupun sudah berkali-kali didialogkan. Jadi dialog itu tidak mudah.

Kembali kepada teori Jendela Johari di atas. Seandainya saya baru ke toilet dan lupa menutup ritsleting celana dan keluar dari toilet dengan ”pintu kandang” yang terbuka, maka saya tidak sadar bahwa ”naga” peliharaan saya terlihat dari luar. Ini jelas merupakan WB karena saya tidak tahu, padahal semua orang tahu. Kalau kebetulan pada waktu saya keluar toilet tadi ada seorang rekan profesor pria yang melihat posisi ”pintu kandang” saya, maka tentu rekan itu akan memberi tahu, ”Mas, ritsletingnya belum ditutup.”

Kemudian saya pun akan nengok ke bagian yang dimaksudnya, kaget sebentar, tetapi langsung menutup pintu dan tersenyum dan tersipu pada rekan tadi sambil berkata, ”Oh, iya. Terima kasih, Mas.” Maka selesailah persoalan saya. Lain halnya kalau yang bertemu saya setelah keluar dari toilet tadi adalah ibu-ibu dosen, atau mahasiswa putri (tetapi bisa juga laki-laki), dan sesudah itu saya langsung berceramah di seminar untuk ibu-ibu, bisa-bisa seharian ”naga” saya jadi tontonan ibu-ibu (walaupun ”naga” itu sebenarnya sudah dikasih baju), karena yang melihat ”naga” saya tadi tidak berani untuk memberi tahu saya.

Ketika saya tiba di rumah, istri saya adalah yang pertama melihatnya, dan ia pun menegur, ”Mas, itu celanamu terbuka, tuh!” Waduh! Bagaimana rasanya saya? Persoalan besar terjadi karena banyak orang yang tidak mau berbagi, ketika mereka tahu sesuatu yang saya tidak tahu. Nah, jelaslah bahwa orang tidak selalu mudah untuk berkomunikasi (yang intinya adalah berbagi informasi), apalagi berkomunikasi.

Alasannya mungkin malu, segan, tidak sopan, takut, dan lain-lain. Dalam hal lain, alasan gengsi, harga diri, status. ideologi dll bisa menyebabkan orang tidak mau mendengar atau menerima informasi dari orang lain. Hasilnya sama saja, tidak membuat hal-hal gelap jadi terang.

Karena itu hati-hati sebelum bicara tentang dialog. Suasana hati yang senang, kesediaan untuk mendengar dan kesediaan untuk berbagi perlu disiapkan dulu agar orang bisa berdialog. ●

Haji Cuciwang

Haji Cuciwang

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO,  02 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
Semasa kecil, pada tahun 1950-an, saya dan dua adik laki-laki saya suka bermain ”Tepuk Haji”, yaitu kalau kami sedang jalan bertiga (atau berdua), siapa yang paling dulu melihat orang bertopi haji boleh memukul pantat yang lain, sembari berseru, ”Haji!” Yang kena tepuk pantatnya tidak boleh marah walaupun dalam hati mendongkol sekali.

Matanya langsung melotot dan mencari orang bertopi haji (dulu identik dengan pak haji) lain untuk membalas dendam. Yang jalan kaki, yang bersepeda, atau naik delman, tetapi biasanya tidak ada lagi yang dicari itu karena memang haji pada masa itu masih termasuk jenis manusia yang dilindungi (saking langkanya). Apalagi di kota kecil seperti Tegal, Jawa Tengah. Memang, untuk naik haji pada masa itu bukan hal yang gampang. Belum ada pesawat udara yang mengangkut jamaah haji berkloter-kloter. Waktu itu, kalau mau haji, ya naik kapal laut.

Singgah dulu di Banda Aceh sebagai pelabuhan terakhir sebelum memasuki Samudera Hindia untuk langsung ke Tanah Suci (karena itulah Aceh disebut Serambi Mekkah). Waktunya lama sekali, sampai beberapa bulan, dan biayanya mahal. Karena itu, hanya mereka yang ilmu agamanya sudah sangat tinggi, punya niat yang sangat kuat, dan punya banyak tabungan sajalah yang akan mampu untuk berangkat haji.

Dengan begitu, akhirnya haji memang sangat dimuliakan dalam pandangan masyarakat Indonesia. Haji adalah ulama (orang berilmu agama yang tinggi), sedangkan hampir setiap haji selalu memakai topi haji (putih), akhirnya orang mengasosiasikan bahwa topi haji identik dengan hajinya itu sendiri. Lain hal dengan zaman sekarang, yang bisa saya namakan sebagai era inflasi haji (bukan moneter saja yang bisa inflasi). Untuk naik haji, pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk memudahkan jamaah calon haji.

Selain penerbanganpenerbangan kloter, disiapkan juga asrama haji, tabungan haji, manasik haji (sehingga orang yang paling awam agama pun bisa berhaji), dan sebagainya. ONH (ongkos naik haji) memang naik setiap tahun, tetapi masih tetap terjangkau juga oleh masyarakat biasa. Apalagi sekarang ada Haji Abidin (atas biaya dinas), Haji Bansos (bantuan sosial), Haji UBH (undian berhadiah), bahkan Haji Cuciwang alias Haji Gratifikasi. Akibat itu, wajarlah kalau sekarang banyak Haji Tomat (berangkat tobat, pulang kumat).

Karena itu, sekarang permainan ”Tepuk Haji” sudah tidak bisa dimainkan lagi. Apalagi sekarang topi haji dijual bebas di pelataran-pelataran masjid untuk dipakai salat Jumat. Tetapi, yang lebih serius dari itu adalah kuota haji, walaupun terus-menerus dinaikkan setiap tahun, tidak bisa mengejar demand masyarakat untuk naik haji sehingga sekarang orang yang mau berhaji bisa mengantre bertahun-tahun (masih untung kalau tiba gilirannya, yang bersangkutan masih hidup).

Gejala inflasi haji ini di satu sisi bisa dianggap baik karena merupakan refleksi dari pemahaman agama masyarakat yang makin meningkat. Sayangnya, peningkatan pemahaman akan agama ini (pada aras kognitif) tidak disertai dengan aplikasi ajaran agama yang benar (pada aras perilaku). Dengan begitu, KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) di Indonesia bukan mereda, malah makin menjadi-jadi dan menurut sebuah penelitian oleh George Washington University (2011), Indonesia menjadi negara yang ke-140 yang mempraktikkan nilai-nilai Islam (negara islami nomor satu: Selandia Baru).

Betapa tidak. Seusai sebuah rapat akbar yang digelar oleh sebuah partai politik di Gelora Bung Karno (Senayan), yang dihadiri oleh hampir 100.000 orang baru-baru ini, langsung tampak sampah berceceran, kebanyakan plastik-plastik bekas botol minuman dan kemasan makanan. Padahal saya yakin 90% dari massa adalah muslim. Ke mana larinya hadis yang berbunyi ”Kebersihan pangkal iman?”. Lalu, apa yang ”hilang” dari perilaku keberagamaan kita di Indonesia?

Dalam Islam (dan dalam agama Samawi lainnya) pada hakikatnya ada dua sisi yang tidak dapat dipisahkan yaitu hablun min-allah (hubungan dengan Allah) dan hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia). Hubungan vertikal dengan Allah diperlukan agar manusia bisa masuk surga, sedangkan hubungan horizontal dengan sesama manusia diperlukan agar kita bisa membangun dunia yang rahmatan lil ‘alamin (penuh rahmat, damai, dan sejahtera).

Setiap kali seorang muslim/ muslimah melakukan kewajibannya untuk Allah (salat, puasa, haji, dan sebagainya), di samping pahala yang akan diterima kelak, ada utang yang harus dibayar di dunia ini yaitu selalu menghargai sesama manusia, melindungi alam, bersedekah, menghindari pertikaian, hidup rukun bergolong-golongan, dan sebagainya. Kalau utang ini tidak dilunaskan, pahala yang sudah dicatat dalam buku tabungan bank akhirat bisa dicoret oleh malaikat.

Begitu kata guru agama saya di SMP (sekolah menengah pertama). Tetapi, justru orang sekarang makin berlomba mencari hadiah pahala akhirat saja dengan melupakan manfaat di dunia. Selain berlomba-lomba naik haji atau umrah, banyak ibu juga yang berlomba-lomba tampil dengan gelung jilbab yang mahal dan cantik dan bermunculanlah berbagai taushiyah di masjid-masjid, di perumahan, atau di media massa. Maka itu, lahir ustaz-ustaz muda, biasanya dengan wajah tampan, pandai mengutip Alquran dan Hadis, pandai beretorika dalam berkhotbah, dan bersuara emas bagaikan juara Indonesian Idol.

Ustaz-ustaz berumur sekitar 30 tahunan ini disukai oleh umat dan sering masuk infotainment yang menyebabkan tarif mereka makin lama makin mahal. Bahkan ada yang menolak undangan untuk bertaushiyah karena tarif yang disanggupi panitia tidak sesuai standar sang ulama muda. Tidak mengherankan jika ustaz-ustaz ini, dalam usianya yang masih belia itu, sudah mampu membeli rumah mewah, mobil yang mahal, dan motor gede. Tetapi, juga tidak perlu heran jika kelakuan beberapa ustaz itu membuat alis mata kita terangkat sebelah.

Ada ustaz yang menggelapkan uang jamaah, ada ustaz yang berpraktik kurang senonoh pada klien wanitanya, ada ustaz yang menginjak seorang anggota jamaah di depan umat, dan sebagainya. Lalu, apa bedanya ustaz-ustaz muda rahimahumullah ini dari para selebritas infotainment lain yang sering bikin heboh di infotainment? ●

Jasa Tak Terhimpun, Dosa Tak Berampun

Jasa Tak Terhimpun, Dosa Tak Berampun

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Psikolog Universitas Indonesia
dan Universitas Pancasila
KOMPAS,  26 Februari 2014

                                                                                         
                                                                                                                       
PADA 3 Februari 2009, demonstran dari kelompok pemekaran Provinsi Tapanuli berhasil menyerbu masuk gedung DPRD Provinsi Sumatera Utara. Terjadi kericuhan di dalam ruang sidang yang berakibat Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara Abdul Azis Angkat tewas.

Ketika itu polisi disalahkan karena tidak mampu mengendalikan massa.

Di sisi lain, pada 24 Desember 2011 polisi bertindak tegas membubarkan massa yang memblokade Pelabuhan Sape di Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun, mereka juga disalahkan karena ada dua korban di pihak massa. Padahal, dengan dibebaskannya Pelabuhan Sape masyarakat bisa merayakan Natal di tempat masing-masing. Kapolda dan kapolres dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab. Mereka diminta mundur.

Banyak contoh lain yang bisa dideretkan di sini. Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru di DPR  tidak ada yang membela polisi. Padahal, kewenangan penyelidikan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) akan ditiadakan. Mana mungkin polisi bekerja tanpa kewenangan penyelidikan? Apalagi dalam hal RUU Ketahanan Nasional tahun lalu dan yang paling mutakhir RUU Perubahan UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, Polri benar-benar harus berjuang sendirian.

Nasib polisi

Itulah nasib polisi. Jasa tak terhimpun, dosa tak berampun. Setiap anggota kepolisian tahu itu. Namun, apa mau dikata?  Faktanya, Aiptu Labora Sitorus yang bukan jenderal saja bisa menumpuk duit berkontainer-kontainer, apalagi yang jenderal.

Dan untuk menjadi jenderal di Polri, konon, tidak susah. Lika-liku di dalam manajemen SDM Polri bisa dimanfaatkan oleh setiap  anggota Polri yang mau memanfaatkannya.

Banyak sekali hal di dalam Polri yang dianggap masyarakat di luar sebagai bisa dipermainkan. Itulah sebabnya masyarakat tidak percaya kepada Polri, apalagi mendukungnya.

Sebagian masyarakat bahkan bukan lagi hanya curiga kepada Polri, melainkan sudah menganggapnya sebagai musuh. Penembakan dan pembunuhan terhadap anggota Polri yang sedang berdinas dan di luar dinas, yang jumlahnya makin meningkat pada 2013, merupakan bukti bahwa Polri adalah public enemy bagi sebagian masyarakat.

Pemikiran seperti ini tentu saja sangat keliru. Tanpa Densus 88, misalnya, mungkin kita tidak bisa tidur nyenyak sejak Bom Bali I karena setiap hari ada bom meledak, seperti yang terjadi di Irak dan Afganistan.

Orang Jakarta sudah bisa menikmati layanan traffic management center (TMC) yang disiapkan oleh Polda Metro Jaya melalui televisi dan Twitter untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Polisi bersama TNI (bukan IPW, Kompolnas, atau Komnas HAM) selalu yang paling dulu hadir membantu masyarakat di saat bencana. Beberapa penelitian yang pernah saya lakukan tentang tanggapan masyarakat terhadap Polri (2012 dan 2013) membuktikan bahwa bagaimanapun juga masyarakat membutuhkan polisi.

Momentum

Akan tetapi, memang betul sudah saatnya Polri mengadakan koreksi ke dalam. Reformasi Birokrasi Polri (RBP) dan Rencana Strategis (Renstra) Polri  yang sudah disusun dan mulai diterapkan sejak masa Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo perlu diikuti dengan tindakan-tindakan nyata dari Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman terhadap jajaran Polri yang terbukti masih berperilaku menyimpang.

Momentumnya sekarang sedang pas karena masyarakat masih penuh harap terhadap Kapolri Sutarman yang dianggap sebagai perwira tinggi Polri yang bersih dan hampir tidak punya catatan cela dalam kariernya.

Demikian juga dengan Wakil Kapolri  Komjen Oegroseno yang, meski sudah masuk usia pensiun pada 19 Februari 2014, masih tetap dipertahankan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tanpa mengurangi penghargaan kepada Polri sendiri, jika kapolri dan wakapolri bisa menunjukkan kinerja yang konkret seperti Jokowi-Ahok (keruk kali yang mampet, relokasi pedagang kaki lima, menambah bus transjakarta, pecat pejabat yang ”brengsek”), dengan sendirinya publik akan mendukung Polri.

Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Polri bisa duduk manis saja karena media massa dan media sosial otomatis akan menjadi humas Polri, seperti media massa dan media sosial sekarang juga selalu mendukung setiap langkah Gubernur dan Wagub DKI meski banjir dan macet masih tetap terjadi di Jakarta.

Yang kita perlukan dari Polri sekarang adalah KKN: kemauan kerja nyata! ●

Lupa

Lupa

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO,  23 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                                                                                       
Kata seorang khotib dalam suatu khotbah Jumat, ”Lupa itu karunia Allah. Cobalah kalau kita tidak punya lupa. Maka segala sesuatu akan terus diingat, termasuk bagaimana rasanya ketika kita sakit atau bagaimana sedihnya ketika ada kerabat yang berpulang, bahkan betapa banyaknya utang yang belum kita bayar. Bisa-bisa kita tidak bisa tidur dibuatnya.”

Saya pikir benar juga khotbah khotib itu. Tengok saja betapa banyak orang yang sangat berusaha untuk melupakan sesuatu. Seorang teman wanita sangat aktif dan ceria ketika sehari-hari bekerja di kantor, tetapi langsung depresi. Dia juga menangis sepanjang malam ketika tiba di rumah dan berbaring di kamarnya, sendirian, karena teringat usia sendiri yang sudah mendekati menopause, tetapi masih jomblo. Terbayang kawan-kawan kuliahnya dulu sudah punya anak-anak yang SMA.

Dia ingin melupakan semua itu, tetapi tidak bisa sehingga dia kurang tidur. Berbagai cara orang ingin memperoleh lupa, kalau perlu konsultasi ke psikolog dan membayar mahal. Tapi sekarang sudah ada teknik yang lebih singkat dan murah: hipnosisme. Dengan hipnosis seseorang yang fobia pada kucing bisa tiba-tiba tidak lagi takut pada kucing dan berani menggendong kucing, Teknik hipnosis bisa mengamnesiakan (melupakan) suatu hal tertentu tanpa melupakan hal-hal yang lain.

Sangat berbeda dari amnesia karena trauma kepala (kepala terbentur benda keras) atau karena dementia senilis atau yang dalam percakapan awam disebut faktor U (usia). Amnesia karena trauma kepala atau karena faktor U bisa mengosongkan sebagian besar atau bahkan seluruh isi ingatan. Bahkan namanya sendiri atau nama keluarganya, dia bisa lupa. Tapi yang paling jelek adalah kalau mencari lupa dengan cara mabuk-mabukan atau menyalahgunakan narkoba.

Dipandang dari sudut dunia akhirat pasti salah, deh! Meski begitu, karunia Allah ini bisa juga mengganggu. Saya sendiri mulai suka lupa pada nama orang, termasuk orang yang tiap hari ketemu. Ketika akan menyebut namanya tiba-tiba nama itu hilang dari ingatan sehingga saya harus menanyakan kepada orang lain, ”Nama bapak itu siapa, ya?” Atau kalau orang itu mahasiswa saya, akan saya tanya langsung saja, ”Hei, namamu siapa?” Biasanya kalau yang bertanya seperti itu dosen yang rambutnya sudah putih-keperakan semua, mahasiswa tidak akan marah.

Saya juga suka lupa pada kata-kata atau istilah-istilah, terutama dalam bahasa Inggris. Untung sekarang ada Google sehingga saya tidak perlu khawatir. Sewaktu-waktu saya lupa pada istilah, nama orang, nama tempat, atau peristiwa, tinggal search di Google, dalam beberapa detik sudah muncul jawabannya. Tapi lupa nama dan istilah ini tidak lama, nanti tiba-tiba yang barusan dilupakan itu bisa muncul sendiri dalam ingatan kita, terkadang hanya dalam hitungan detik. Bahkan sebelum orang yang saya tanya atau Google menjawab, hal yang ditanyakan itu sudah teringat lagi.

Jenis lupa yang lain masih banyak. Ada yang permanen seperti kasus-kasus dementia senilis di atas, yang harus senilis sampai wafat sehingga ketika seorang mbah yang baru wafat ditanya malaikat di dalam kubur, ”Tanggal berapa dan jam berapa kamu meninggal dunia,” almarhum mbah ini tidak bisa menjawab karena lupa. Ada juga yang temporer seperti seorang profesor yang sering marah-marah mencari kacamatanya, padahal benda itu dari tadi sudah nangkring di atas kepalanya dan beliau sendiri yang meletakkannya di situ.

Namun, yang paling aneh adalah penduduk dan pemerintah Jakarta yang selalu lupa bahwa mereka pernah kebanjiran tahun yang lalu dan tahun yang lalunya lagi dan tahun yang lalunya lagi dan seterusnya. Begitu banjir surut, langsung lupa bahwa selama sebulan terakhir rumahnya terserang banjir beberapa kali, mengungsi, makan jatah bantuan masyarakat, buang air ditahantahan dan kalau sudah tak tahan dibuang saja di manamana. Diungsikan dengan perahu karet. Basah. Listrik mati dan sebagainya. Semuanya lupa. Nanti ingat lagi kalau sudah banjir lagi.

Itulah sebabnya kita di DKI selalu mengalami masalah yang sama dari tahun ke tahun. Itulah sebabnya bangsa ini mengulangi KKN yang dulu marak di era Suharto, bahkan makin dahsyat. Kita tidak pernah belajar dari pengalaman masa lalu. Dalam bahasa Bung Karno, kita ini cepat sekali melupakan sejarah, padahal kata beliau, ”Jangan sekali-sekali melupakan sejarah (jasmerah).” Dalam bahasa psikoanalisis, lupa itu adalah salah satu bentuk defense mechanism (mekanisme pertahanan diri) dari ego (aku, kesadaran) seseorang.

Ego tidak senang pada pengalaman-pengalaman pahit, kisah-kisah duka, dan trauma-trauma masa lalu yang pernah dialami. Maka hal-hal yang tidak dikehendaki itu ditekan kuat-kuat sehingga masuk ke dalam alam ketidaksadaran. Dalam teori stress solution dari Lazarus, kecenderungan untuk lupa adalah salah satu bentuk dari reaksi emosional (tidak senang, maka kita menghindar saja) ketika kita mengalami stres.

Padahal ada reaksi lain yang lebih cerdas, yaitu reaksi problem solving, yaitu kita tidak perlu cemas atau takut, kita hadapi saja masalahnya dan apa yang menjadi masalah kita selesaikan satu per satu sehingga masalah itu teratasi sampai tuntas sehingga banjir akan lenyap dari Jakarta dan KKN lenyap dari bumi Indonesia. Sikap berani menghadapi masalah dan langsung memecahkannya itulah yang masih sangat kurang di masyarakat bangsa Indonesia.

Kita lebih senang ngomongin masalah sampai berbusa-busa sambil menyalah- nyalahkan orang lain atau sekadar hepi-hepi saja daripada bersusah-payah menyelesaikan masalah. Karena itu kita bukan hanya terus membuang kasur bekas ke kali sehingga membuntukan saluran air, tetapi juga sengaja tidak peduli pada jasmerah. ●

Tri Rismaharini

                               Tri Rismaharini

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO,  16 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Saya tidak kenal dengan Ibu Wali Kota Surabaya yang kondang ini. Bertemu langsung juga belum pernah, walau hanya dari kejauhan. Saya hanya mengenalnya dari media massa yang memang sering memberitakan kegiatan-kegiatannya dalam membangun kota metropolitan nomor dua se-Indonesia itu. 

Tetapi saya sangat terkesan dengan wawancara Ibu Risma dengan Najwa Shihab dalam acara ”Mata Najwa” yang ditayangkan pada 12 Februari 2014. Kebetulan saya menonton acara itu dari televisi mobil saya. Persis satu jam 30 menit saya di perjalanan, bersama sopir, di tengah kemacetan (walaupun tidak hujan). Jadi saya bisa fokus betul mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya dan mengamati setiap gerak tubuhnya dan mimik wajahnya, bahkan tetesan airmatanya. 

Kesimpulan saya: Tri Rismaharini adalah sebuah fenomena luar biasa! Sebetulnya tidak ada yang luar biasa dari tampak luarnya. Tubuhnya tidak tinggi semampai seperti Sophia Latjuba (yang belakangan dikabarkan comeback ke Indonesia dan langsung membuat heboh infotainment), tidak juga secantik Ibu Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. 

Tubuh Risma kekar berbalut jilbab dan jarinya tidak lentik bak penari, melainkan bulat-kuat seperti jari-jemari ibu-ibu petani yang biasa memegang pacul (ini saya perhatikan ketika Ibu Risma menghapus air matanya). Dia juga tidak pandai bersilat lidah seperti Farhat Abbas, bahkan tidak pandai bicara (apalagi bicara diplomatis) seperti anggota DPR. Dia bukan politisi, atau pengacara. 

Dia hanya seorang arsitek dan mantan Kepala Dinas Pertanaman dan Kebersihan di Kota Surabaya (tipikal PNS dan birokrat yang kebetulan mengurus taman dan sampah Surabaya). Tetapi dia tahu betul apa yang dikatakannya dan bisa mempertanggung jawabkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Inilah contoh konkret dari ”satunya kata dengan perbuatan”. 

Dari ceritanya kepada Najwa, saya mengambil kesimpulan bahwa Risma sangat religius. Religiositasnya sangat berbeda dari religiositas Wali Kota Bengkulu Helmi Harun, yang menjanjikan umrah dan haji gratis serta hadiah mobil Kijang Innova dan Honda CRV buat masyarakat yang paling rajin salat subuh berjamaah di masjid. Spontan keesokan harinya masjid dipenuhi oleh calon-calon peserta umrah/haji bermental matre (apalagi buat PNS diwajibkan datang, dicatat kehadirannya dan kena sanksi kalau tidak hadir). 

Religiositas Risma nampak dari intuisinya yang kuat, yang menurut Risma sendiri merupakan petunjuk Tuhannya. Tuhan setiap hari memberitahu kemana dia harus pergi hari itu, ke barat atau ke utara, maka dia pun pergi ke arah itu, dan selalu dia menemukan warganya yang sedang bermasalah, seperti anak telantar di pinggir jalan yang membutuhkan bantuan Dinas Sosial, pelacur berumur 60 tahun yang masih praktek dengan langganan anak-anak SD (karena ia mau menerima bayaran Rp1.000-2.000), atau banjir yang ketika ditelusuri penyebabnya adalah pagar orang yang membuat air mampat (maka spontan dia suruh bongkar pagar itu). 

Maka ketika dia ditanya oleh Najwa, ”Masih tegakah Ibu mengundurkan diri sebagai wali kota, walaupun sudah menerima 51 penghargaan dan calon wali kota terbaik dunia? Apa yang saya harus katakan kepada warga Surabaya?” Pecahlah tangis Risma. Dia kasihan kepada jutaan warga Surabaya yang masih perlu bantuannya. Tetapi dia juga tidak mau, sebagai wali kota, mengetahui adanya warganya yang masih menderita dan dia tidak berbuat apa-apa. 

”Nanti kalau saya dipanggil dan ditanya Tuhan (dia lebih banyak menggunakan istilah ‘Tuhan’ daripada ‘Allah’) dan saya tidak bisa menjawab, saya tidak akan masuk surga. Saya tidak mau tidak masuk surga!” Alangkah religiusnya, walaupun tidak sepotong ayat pun keluar dari bibirnya. Risma (yang hanya ibu rumah tangga dan senang keluar makan malam dengan suami dan anak-anaknya) jelas jauh religius daripada ustaz-ustaz kondang yang memasang tarif jutaan rupiah sekali taushiah, yang menolak hadir jika tarifnya tidak disepakati, dan punya rumah mewah dan motor gede dan sering masuk infotainment.  

Berita-berita yang saya ikuti belakangan banyak yang membantah isu tentang keinginan Risma untuk mundur. Menteri Dalam Negeri pun membantah bahwa Wali Kota Risma akan mundur. Bahkan sejumlah ormas dan LSM demo di depan rumah Risma, menuntut agar dia tidak mundur, tetap sebagai wali kota Surabaya (suatu fenomena yang luar biasa, ditengah-tengah maraknya tuntutan mundur pada banyak kepala daerah). 

Tetapi ketika acara ”Mata Najwa” direkam, tampaknya tekanan untuk tidak mundur belum terlalu kuat, dan ketika ditanya oleh Najwa Shihab, Risma masih jelas-jelas menyatakan bahwa dia tidak berani untuk berjanji kepada rakyat Surabaya untuk tidak mundur. Mengapa begitu? Risma sendiri menyatakan bahwa dalam bekerja dia selalu melibatkan emosinya. 

Capek sekali memang, tetapi itulah yang bisa membuatnya berempati pada kesusahan orang lain dan karenanya ia bisa merespons sampai tuntas, tas. Di sisi lain, pelibatan emosi inilah yang juga menyebabkannya tidak kuat menghadapi persoalannya dengan Wakil Wali Kota, Wisnu Sakti Buana, yang baru-baru ini dilantik tanpa kehadiran Risma (dengan alasan sakit). 

Saya tidak jelas apa penyebab yang sesungguhnya, tetapi dari yang saya ketahui melalui media massa, Wisnu Sakti Buana adalah salah satu anggota DPRD yang ikut memakzulkan Risma dari jabatan wali kota, hanya beberapa saat setelah Risma dilantik sebagai wali kota (2010), gara-gara Risma menaikkan pajak reklame di jalan-jalan protokol Surabaya. Risma tidak mau jalan-jalan protokol Surabaya jadi jelek karena baliho-baliho reklame segede-gede raksasa. 

Maka marahlah anggota-anggota DPR itu (dari semua fraksi, kecuali fraksi PKS), termasuk Wisnu yang sama-sama dari fraksi PDIP bersama Risma. Anggota-anggota DPRD itu kemudian meminta Risma mundur dari jabatan wali kota. 

Kalau berita yang saya baca itu benar, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Risma (yang biasa melibatkan emosi sepenuhnya ketika bertugas) ketika ternyata Wisnu menjadi wakilnya. Memang susah kalau bekerja terlalu emosi, tetapi kalau terlalu acuh tak acuh salah juga, kan? ●