Paradoks Pemimpin Perempuan

Paradoks Pemimpin Perempuan

Ani Soetjipto  ;   Pengajar di FISIP UI
KOMPAS,  04 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
DI tengah jumlah wali kota perempuan yang bisa dihitung dengan jari di Indonesia, Tri Rismaharini adalah sosok  wali kota berprestasi gemilang.

Ia mengurus Surabaya yang penuh keruwetan dan kesemrawutan dengan rasa kepedulian dan kasih sayang; merawat, menghidupi, dan melindungi warga seperti seorang ibu memperlakukan anggota keluarganya.

Hasilnya, Surabaya berubah sangat signifikan menjadi kota yang hijau, bersih, dan teduh dengan banyak ruang publik yang nyaman. Risma mungkin bukan seorang feminis  yang memahami konsep  jender tentang  ethics of care  yang sering disuarakan banyak aktivis perempuan. Ethics of care adalah aspek femininitas yang sering dilekatkan kepada sosok perempuan yang bersifat merawat, memberi kenyamanan, menyejahterakan, menyayangi, dan mendidik. Karakter dan sifat-sifat itu memang selayaknya dibawa ketika perempuan berpolitik dan memegang jabatan publik. Ciri yang  membedakan dengan politik mainstream   yang banyak dipraktikkan saat ini.

Risma sangat peduli   perempuan miskin, anak yang dilacurkan, korban trafficking, para pedagang kaki lima yang sering digusur, dan lansia yang telantar. Sesungguhnya Risma menjalankan  politik perempuan sekaligus etika kepentingan publik dalam mengelola kota Surabaya. Tanpa ia sadari, ia telah memperjuangkan apa yang sering didengungkan para aktivis perempuan tentang kepentingan jender praktis dan strategis. Masalahnya menjadi rumit ketika Risma dengan air mata berlinang mengungkapkan ketidakberdayaannya sehingga ia ingin mundur dari jabatan wali kota. Ia mengungkapkan kegalauan hatinya tidak saja kepada media massa, tetapi juga berbagai kalangan termasuk politisi di luar PDI-P. Padahal, PDI-P adalah partai yang menominasikannya sebagai wali kota.

Peristiwa ini menimbulkan beragam reaksi sekaligus kemarahan dan kekesalan di internal PDI-P yang menganggap Risma naif, mau diperalat partai lawan untuk melemahkan PDI-P. Mediasi telah dilakukan PDI-P dan tampaknya berhasil. Namun, pada waktu bersamaan, kepentingan  di luar partai  ikut bermain menjelang kontes elektoral pemilu.

Pembelajaran penting

Kasus Risma memberikan banyak pembelajaran penting untuk aktivis perempuan sekaligus perempuan yang ingin berkiprah dan bergulat secara intens di arena politik formal. Pembelajaran  pertama, menjadi politisi perempuan tak cukup hanya mengedepankan ideologi dan konsep politik perempuan, tetapi juga etika publik  di tengah politik arus utama yang saat ini lebih banyak mengedepankan pertarungan hidup-mati untuk memperebutkan kursi dan kekuasaan tanpa etika. Politik yang marak saat ini adalah memperebutkan kekuasaan dan jabatan dengan mengumpulkan modal politik, melakukan korupsi, tanpa agenda isu substantif, dan hanya mengumbar kalimat kosong tanpa makna.

Politisi perempuan dan perempuan yang memegang jabatan publik juga dituntut memiliki intuisi politik, kemampuan membaca power politics yang terpapar di hadapannya, mampu mengelola perbedaan, dan punya keberanian ”bertarung” dalam medan politik riil yang memang sangat tidak ideal pada saat ini. Politisi perempuan selain diharapkan mengedepankan aspek feminin, pada saat yang sama dituntut juga memiliki sisi maskulin dan etika publik ketika mereka memegang jabatan publik dengan tetap tidak terjebak ikut dalam arus politik mainstream yang radikal.

Sebagai birokrat dan teknokrat, Risma tak punya sisi maskulin ini. Ia naif dan ”buta politik”, berprasangka baik terhadap partai, hanya berpikir jika ia bekerja baik dengan hasil nyata pasti akan didukung dan dibela. Risma bukanlah aktivis partai yang intens bergulat di internal  politik PDI-P sehari-hari dalam waktu panjang sehingga bisa memahami bagaimana logika politik partai bekerja, bagaimana beragam kepentingan bertempur dan diperjuangkan di dalam partai, bagaimana melakukan kompromi dan negosiasi memperjuangkan kepentingan publik yang jadi prioritas politik dalam agenda perjuangan lewat partai.

Sebagai birokrat yang tak terlatih bergulat dalam internal partai, ia frustrasi menghadapi tekanan politik bertubi-tubi yang menimpanya. Ia tak punya kepekaan politik terhadap kepentingan partai lain yang saat ini bersaing dengan PDI-P memperebutkan kemenangan dalam kontes elektoral. Kenaifannya dipertunjukkan dengan bertemu pemimpin partai lain untuk mengadukan kasusnya.

Sisi ini sekaligus mengungkapkan persoalan yang dihadapi parpol di Indonesia dalam merawat  kader-kader terbaiknya yang telah meningkatkan popularitas partai dan positioning partai di hadapan lawan politiknya. Kasus Risma bukanlah kasus pertama yang dihadapi PDI-P. Pengalaman sebelumnya juga memperlihatkan kader terbaik yang  telah menunjukkan kinerja gemilang tidak ”dirawat” atau ”dipelihara”, tetapi terus diganggu dengan urusan  pertarungan perebutan kepentingan/jabatan serta urusan penugasan untuk mencari  kapital bagi pembiayaan partai.

Pembelajaran kedua adalah situasi paradoks politisi perempuan yang ada saat ini. Amat sedikit kita memiliki politisi perempuan yang menjalankan ethics of care dan etika publik sekaligus mengerti politik. Yang banyak tampil adalah tipe politisi perempuan yang paham berpolitik, tetapi mempraktikkan politik mainstream yang maskulin dan tidak paham politik perempuan, apalagi ethics of care.  Tipologi kedua adalah politisi perempuan dan pejabat publik perempuan paham politik perempuan, tetapi naif membaca riil politik yang terjadi sehingga sangat mudah tergusur dalam pertarungan yang terjadi.

Pembelajaran ketiga, apa pun yang terjadi, publik menginginkan pemimpin yang tangguh. Pemimpin yang mampu terus fight dan tidak meratap saat dirinya dikepung masalah. Dalam benak warga Surabaya, Risma adalah pemimpin yang gigih dan teguh hati bekerja untuk rakyat. Berhentilah menangis, Risma. ●

Rismaharini sebagai Politik Harapan

Rismaharini sebagai Politik Harapan

Yudi Latif  ;   Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan
KOMPAS,  04 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
DRAMA politik yang menyedot perhatian publik itu beruntung tak berujung sendu (sad end). Dengan jurus diplomasi kekeluargaan, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, disertai bintang pendampingnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, berhasil meyakinkan ”Superwali” Tri Rismaharini untuk tetap bertahan memenuhi harapan publik.

Peristiwa ini mengisyaratkan banyak hal. Sumber pesimisme dan apatisme publik terhadap politik tidaklah terletak pada ”sisi permintaan” (demand side), seperti sering didalihkan para politisi: rendahnya tingkat pendidikan rakyat, pragmatisme pemilih, dan kurangnya kesadaran politik. Sumber itu sebaliknya terletak pada kelemahan ”sisi penawaran” (supply side) dari ketidakmampuan aktor-aktor politik untuk membangkitkan kepercayaan rakyat. Sekali ada aktor politik yang dapat dipercaya, seperti Tri Rismaharini, kegairahan warga untuk terlibat secara politik kembali menguat.

Menurut Donna Zajonc dalam The Politics of Hope, untuk membangkitkan politik harapan, suatu bangsa harus keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, dan apatisme menuju penciptaan pemimpin publik yang sadar. Pada tahap pertama, seluruh tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi yang menghancurkan sensibilitas pelayanan publik.

Pada tahap kedua, untuk mencapai sesuatu, pemimpin mendominasi dan memarjinalkan orang lain. Pada tahap ketiga, peluang-peluang yang dimungkinkan demokrasi tidak membuat rakyat berdaya justru membuatnya apatis.

Pada tahap keempat, tahap politik harapan, para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dalam situasi krisis, dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan melayani kepentingan publik dengan menerobos batas-batas politik lama.

Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberikan inspirasi keteladanan yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam politik dan aktivisme sosial untuk bergotong royong merealisasikan kebajikan bersama.

Masalah terbesar demokrasi di negeri ini adalah mismatch antara ledakan pemburu jabatan politik di satu sisi dan merosotnya kepercayaan rakyat kepada pemimpin politik di sisi yang lain. Situasi ini bisa membuat demokrasi bersifat korosif dan koruptif. Seperti dikatakan Montesquieu, ”Prinsip demokrasi dikorup bukan saja ketika spirit kesetaraan hilang, melainkan juga ketika spirit kesetaraan yang ekstrem berlangsung—manakala setiap orang merasa pantas memimpin.”

Orang-orang eksentrik

Untuk memulihkan kepercayaan rakyat pada politik, yang diperlukan bukan sekadar pemimpin yang baik, melainkan pemimpin dengan kekhasan eksentrisitas, yang mengindikasikan kekuatan karakter, kebesaran jiwa, dan keliaran visi perubahan. Pemimpin yang tidak memedulikan bagaimana bisa dipilih ulang, tetapi memedulikan bagaimana keterpilihannya dijadikan pintu masuk bagi dekonstruksi dan rekonstruksi tata kelola pemerintahan secara sistemik.

Kreativitas sosial dan transformasi masyarakat memerlukan tumbuhnya eksentrisitas. Dalam hal ini, John Stuart Mill menengarai, ”Jumlah eksentrisitas dalam masyarakat pada umumnya proporsional dengan jumlah genius, kekuatan mental, dan keberanian moral yang dikandung masyarakat tersebut.” Defisit orang-orang eksentrik berkarakter, yang memiliki kekuatan mental, kebernasan gagasan dan keberanian moral untuk mengambil pilihan, menimbulkan rintangan besar dalam transformasi bangsa.

Desain institusi politik yang menekankan pada sumber daya alokatif (kekuatan finansial) ketimbang sumber daya otoritatif (kapasitas-karakter) menyempitkan kesempatan orang-orang eksentrik untuk memainkan peran politik. Padahal, terdapat sejumlah pengalaman empiris. Begitu partai politik memberikan kesempatan kepada figur-figur eksentrik untuk diusung menjadi pemimpin politik, prestasi kepemimpinan menggembirakan dan kepercayaan rakyat pada politik pulih kembali.

Superwali Risma adalah contoh persenyawaan yang baik antara eksentrisitas tokoh dan kesediaan partai untuk mengusungnya tanpa pertimbangan uang. Eksentrisitas Ibu Wali terlihat dari paradoks antara keluguan perangai dan keberanian bertindak; kesantunan berbusana muslimah dan keliaran visi; kesederhanaan penampilan dan ekselensi pelayanan serta kerapian tata kota; kemungilan tubuh dan kebesaran jiwa; antara keurakan ala ”bonek” dan kelembutan welas asih.

Menjadi wali kota tanpa kobaran ambisi dan modal membuatnya tidak mengalami konflik kepentingan dan berani bertindak; nothing to lose. Dalam waktu singkat, Surabaya yang dalam istilah Lewis Mumford bisa dilukiskan sebagai kota ”heterogenik” (penuh ambiguitas, kekumuhan, kekerasan, kemiskinan, disintegrasi, dan anarki) bisa disulap menjadi kota ”ortogenetik” (mengekspresikan tatanan keindahan, keadaban, dan keadilan).

Pada akhirnya, Sang Superwali benar-benar membuktikan keagungan politik seperti yang disebutkan oleh Harry Truman, ”Politik—politik luhur—adalah pelayanan publik. Tak ada kehidupan atau pekerjaan tempat manusia menemukan peluang yang lebih besar untuk melayani komunitas atau negaranya selain dalam politik yang baik.”

Kita harus mengkloning Sang Superwali ke kota-kota lain di negeri ini agar kepercayaan warga pada politik bisa dipulihkan dan negeri sebesar serta seluas Indonesia bisa meraih marwah dan kejayaan yang sepadan. ●

Netizen di Belakang Risma

Netizen di Belakang Risma

Reza Indragiri Amriel  ;   Psikolog Forensik, Analis PoliticaWave
KORAN SINDO,  25 Februari 2014

                                                                                         
                                                                                                                       
Betapa sakitnya ditelikung oleh teman-teman (baca: partai) sendiri. Ibarat sebuah keluarga, musuh terbesar justru suami atau istri yang pernah diharapkan paling sehati.

Orang yang semestinya paling erat kita jabat, justru menjadi agen makar terdahsyat. Relasi ketua dan wakil ketua yang sepatutnya harmonis, malah dihantui bayang-bayang sabotase sadis. Begitu kurang lebih gambaran situasi antara Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana. Saking tertekannya batin Risma, walau tak terungkap lewat kata-kata, mukanya basah oleh derai air mata. Keinginan mengundurkan diri dari kursi wali kota pun terlontar, disusul bujukan sana-sini agar Risma membatalkan rencananya itu.

Siapa pun yang mau berempati pada Risma niscaya bisa merasakan gerahnya suasana kantor wali kota Surabaya saat ini. Kursi yang diduduki pun serasa akan mendatangkan wasir. Karena itulah, andaikan saya Risma, saya akan tetap memilih untuk menanggalkan jabatan wali kota. Betapa pun itu akan membuat—utamanya—warga kota Surabaya kecil hati. Toh, ungkapan “mengalah untuk menang” sangat mungkin menjadi situasi yang akan Risma hadapi ke depannya. Tanda-tanda ke arah situ sudah terlihat sejak sekarang.

#SaveRisma kini menjadi nama sekaligus kata kunci untuk gerakan mendukung Risma. Saat naskah ini ditulis, sudah hampir lima ribu netizen (masyarakat di media sosial) yang membubuhkan tanda tangan mereka pada petisi daring tersebut. PoliticaWave memantau puluhan ribu buzz yang riuh rendah berdiskusi tentang #Save-Risma. Jumlah netizen yang berpartisipasi dalam perbincangan terus menanjak kencang dan berpeluang menjangkau puluhan juta akun.

Angka sefantastis itu semakin kuat magnitudonya, karena digerakkan secara swadaya oleh masyarakat tanpa Risma harus ikut cawe-cawe. Anggaplah ada akun abal-abal yang ikut meramaikan suasana. Namun sistem algoritma PoliticaWave membuktikan bahwa gerakan dukung Risma di media sosial tetap pantas dikategorikan sebagai people power. Dan di balik kata “people” itu terdapat manusia sungguhan, bukan entitas siluman. Situasinya menjadi sangat mirip dengan masa pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun lalu. Jokowi menjadi primadona para loyalis garis keras yang sudi berperan sebagai prajurit penjaga sang calon gubernur.

Tanpa ampun, segala bentuk pendiskreditan terhadap Jokowi dipatahkan oleh para relawan media sosial itu. #SaveRisma dan segala bentuk aktivitas terkait di media sosial memungkinkan orang-orang muda, termasuk para calon pemilih pemula pada pemilu mendatang, memperoleh hidangan manis tentang figur pemimpin ideal. Ideal, karena Risma adalah satu dari sedikit sosok yang tidak dirisaukan oleh pencitraan.

Terpapar terus-menerus oleh hal positif tersebut, di alam bawah sadar orang-orang muda tadi akan mengendap sebuah rujukan tentang bagaimana memilih pemimpin. Endapan itu diharapkan dapat berfungsi sebagai penolak bala politik uang dan partisipasi berbasis upeti.

Risma kini sudah memiliki tiga elemen penting di jagat maya yang sangat mungkin tidak dirancang oleh tangannya sendiri. Pertama strategi, yaitu gerakan menghimpun dukungan bahkan dari masyarakat luar Surabaya yang nyata-nyata bukan konstituen Risma. Kampanye dukung Risma melalui media sosial, yang bertolak belakang dengan arus utama para anggota DPRD Surabaya, mengindikasikan perbedaan suasana kebatinan antara wakil rakyat dan rakyat yang mereka wakili.

Bahwa publik kemudian enggan mendatangi gedung parlemen, juga tak lagi bergerak sebagai parlemen jalanan, tetapi mengartikulasikan kehendak politik mereka lewat media sosial, pada dasarnya selaras dengan temuan Hansard Society. Mereka menyimpulkan bahwa masyarakat sebenarnya tidak begitu antusias lagi dalam proses pembuatan keputusan-keputusan politik. Masyarakat sebatas menginginkan keterlibatan minimal dalam proses tersebut, yakni menyuarakan apa yang mereka mau.

Kecenderungan perilaku seperti itu terfasilitasi oleh perkembangan teknologi komunikasi informasi, termasuk media sosial. Netizen memegang inisiatif penuh untuk mengutarakan kehendak mereka, sekaligus menyaksikan bahwa opini yang sama dari para netizen lainnya semakin mengkristal menjadi sebuah aspirasi yang legitimasi. Strategi sedemikian rupa berpotensi menghasilkan efek masif untuk menggempur gerakan anti-Risma yang digalang oleh enam partai politik di DPRD Surabaya.

Kedua, manuver. Amplifikasi di media sosial, seperti tersaji lewat angka-angka hasil pemantauan PoliticaWave, memperlihatkan bahwa strategi menggalang dukungan nirbatas melalui dunia maya benar-benar terealisasi di lapangan. Dinamika gerakan selamatkan Risma itu pun berhasil menyedot perhatian media-media konvensional (cetak dan siar) untuk kemudian mewartakannya. Ketiga, peranti. Hardware dan software bukan persoalan, karena hampir setiap orang kini membawa ponsel cerdas ke mana pun mereka pergi. Yang paling utama adalah brainware.

Mereka adalah para aktivis politik di media sosial. Mereka pula para perindu kejayaan Indonesia, dengan sosok Risma sebagai salah satu tumpuan asa. Asyik untuk diimajinasikan episode-episode berikutnya setelah para netizen kompak membarikade Risma. Langkah apa yang akan Risma ambil? Politisi profesional tentu ingin secara kontinu menapaki jenjang karier yang lebih tinggi. Derasnya perbincangan tentang Risma serta manisnya sentimen positif terhadap dirinya merupakan modal berharga bagi Risma untuk tidak ragu meninggalkan rival politiknya, lalu melompat ke anak tangga politik berikutnya.

Bagaimana pula nasib para politisi Surabaya yang selama ini getol ingin menjungkal Risma? Politisi dan anggota DPRD punya kepentingan untuk mempertahankan reputasi mereka dengan tidak mudah digoyahkan oleh tuntutan publik. Tetapi apa daya; muskil bagi mereka untuk mengabaikan jutaan suara netizen yang kian lama kian menggumpal.

Para wakil rakyat, pun mereka yang ingin mendelegitimasi bahkan memakzulkan Risma, harus menyimak opini dan sentimen netizen. Mudah-mudahan tidak ada netizen yang “usil” dengan membuat gerakan baru, semisal #BubarkanDPRD. ●

Air Mata Bu Risma

                             Air Mata Bu Risma

Ainna Amalia FN  ;   Akademisi dan pengurus LKK NU Wilayah Jawa Timur
JAWA POS,  17 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Satu minggu terakhir Bu Risma, sapaan akrab Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menjadi trending topic di Twitter setelah tampil menyentuh dalam acara Mata Najwa di Metro TV pada Rabu malam, 12 Februari 2014.

Wali kota yang telah menorehkan puluhan prestasi hanya dalam waktu tiga tahun kepemimpinannya itu sempat berurai air mata ketika Najwa Shihab menanyakan isu pengunduran dirinya sebagai wali kota Surabaya. Risma mengakui bahwa dalam masa jabatannya, dirinya mengalami banyak tekanan dari banyak pihak.

Tekanan kepada Risma mengingatkan saya akan kisah Baginda Nabi Muhammad dan pengemis Yahudi buta di sudut pasar Madinah. Pengemis buta itu selalu mencaci maki dan menjelek-jelekkan nabi di tengah keramaian pasar. Dari mulut pengemis selalu keluar hinaan, "Muhammad gila, Muhammad pembohong dan tukang sihir." 

Namun begitu, sang kekasih Allah itu setiap pagi ke pasar, selalu menyuapkan makanan ke mulut pengemis dengan lembut, penuh kasih sayang, dan tanpa kata-kata. Pengemis buta tidak pernah menyadari bahwa yang menyuapinya adalah orang yang selalu dia hina. Nabi Muhammad melakukannya setiap hari hingga beliau wafat. Sejak itu, tak ada lagi yang menyuapi pengemis buta di sudut pasar tersebut. 

Hingga suatu pagi, Sayidina Abu Bakar, pengganti Nabi Muhammad sebagai pemimpin negara, melakukan sebagaimana yang dilakukan nabi, menyuapi pengemis Yahudi buta di sudut pasar. Namun, pengemis buta tahu bahwa Abu Bakar bukan orang yang biasa menyuapinya. Dia meng­hardik marah. "Kamu siapa? Bukan kamu yang biasa menyuapi aku. Orang yang biasa menyuapiku selalu dengan penuh kelembutan," katanya sambil memegang tangan Abu Bakar.

Akhirnya, Abu Bakar mengaku bahwa dirinya adalah sahabat orang yang selalu menyuapi si pengemis setiap hari. "Orang yang biasa menyuapi kamu setiap hari telah wafat, dialah Muhammad Rasulullah," kata Abu Bakar sambil menyeka air mata.

Mendengar itu, pengemis buta menangis tersedu-sedu. Ingat ketika dia menghina dan memfitnah Baginda Nabi. Ingat bagaimana nabi tetap dengan penuh kelembutan menyuapinya setiap hari tanpa kemarahan. Setelah itu, pengemis menyatakan masuk Islam dan mohon ampunan.

Kisah inspiratif itu bisa menjadi pelajaran bahwa fokus, konsistensi, kerja keras, kelembutan, dan kasih sayang dapat digunakan untuk menghadapi tekanan. Risma yang sekarang menghadapi banyak tekanan dari kelompok-kelompok yang buta nuraninya tidak boleh patah arang. 

Saya percaya, Risma merupakan sosok pemimpin sederhana, tegas, dan berani. Pemimpin dengan tekad bekerja dan mengabdi kepada masyarakat, jauh dari ketertarikan terhadap kegaduhan panggung politik. 

Banyak prestasi yang telah diraih, menjadi bukti bahwa Risma adalah pemimpin yang inspiratif. Dia telah mengubah wajah Surabaya menjadi lebih ramah dan bersahabat bagi warganya. Surabaya yang bisa menjadi kebanggaan bagi Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, Kota Surabaya meraih tiga kali Piala Adipura, yaitu pada 2011, 2012, dan 2013 untuk kategori kota metropolitan. Tidak hanya itu, di bawah tangan dinginnya, Surabaya pernah meraih sejumlah penghargaan internasional seperti The 2013 Asian Townscape Sector Award dari PBB untuk Taman Bungkul Surabaya. Juga menjadikan Surabaya kota dengan partisipasi terbaik se-Asia Pasifik dalam mengelola lingkungan pada 2012 versi Citynet.

Pada Oktober 2013 Risma membawa Kota Surabaya memperoleh penghargaan tingkat Asia Pasifik, yaitu Future Government Awards 2013 di dua bidang sekaligus, yakni data center dan inklusi digital, menyisihkan 800 kota di seluruh Asia Pasifik.

Bukan hanya itu, sosok Risma juga sempat menjadi sorotan internasional. Risma dikategorikan sebagai kandidat wali kota terbaik dunia pada 2012 bersama dengan Joko Widodo yang waktu itu menjabat wali kota Surakarta.

Sederet prestasi diraih sosok yang selalu tampil apa adanya itu. Dia mencontohkan kesederhanaan dengan menerapkan efisiensi untuk menghemat anggaran. Misalnya, selalu naik pesawat kelas ekonomi. Tidak menggunakan banyak kendaraan ketika kunjungan daerah. Cukup satu mobil ditumpangi ramai-ramai. Dengan begitu, anggaran transportasi perjalanan dinas pegawai pemkot yang dulu menghabiskan Rp 14 miliar berkurang menjadi hanya Rp 7 miliar. 

Risma juga menerapkan sistem elektronik dalam hal yang terkait dengan anggaran dan pencairan uang. Dengan sistem itu, angka kebocoran anggaran bisa diminimalkan sehingga anggaran bisa dimaksimalkan untuk menyejahterakan masyarakat Surabaya.

Sederet prestasi dan model kepemimpinan Risma itu seakan menjadi oasis di tengah padang gersang kepemimpinan nasional. Sudah lama kita tidak melihat, mendengar, dan merasakan seorang pemimpin yang tekad pengabdian kepada masyarakatnya besar. Sebuah kepemimpinan yang menjauh dari keriuhan panggung politik. 

Semangat kepemimpinan Rasulullah Muhammad telah merasuki kepemimpinan Risma, yaitu sense of crisis atau kepekaan atas kesulitan rakyat Surabaya, sense of achievement yang berarti semangat memajukan masyarakat, serta raufun rahim atau pengasih dan penyayang.

Jika tiga prinsip itu terus dipegang Risma, saya percaya bahwa semua tekanan dengan sendirinya akan mereda atau terpaksa reda. Dan Risma akan berhasil membawa Surabaya menjadi kebanggaan Indonesia. Sejarah akan mencatat kiprahnya serta menjadi inspirasi dan motivasi pada masa mendatang. Keringat dan air mata Risma akan menjadi air mata kebahagiaan warga Surabaya dan Indonesia nanti.
●

Tri Rismaharini

                               Tri Rismaharini

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO,  16 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Saya tidak kenal dengan Ibu Wali Kota Surabaya yang kondang ini. Bertemu langsung juga belum pernah, walau hanya dari kejauhan. Saya hanya mengenalnya dari media massa yang memang sering memberitakan kegiatan-kegiatannya dalam membangun kota metropolitan nomor dua se-Indonesia itu. 

Tetapi saya sangat terkesan dengan wawancara Ibu Risma dengan Najwa Shihab dalam acara ”Mata Najwa” yang ditayangkan pada 12 Februari 2014. Kebetulan saya menonton acara itu dari televisi mobil saya. Persis satu jam 30 menit saya di perjalanan, bersama sopir, di tengah kemacetan (walaupun tidak hujan). Jadi saya bisa fokus betul mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya dan mengamati setiap gerak tubuhnya dan mimik wajahnya, bahkan tetesan airmatanya. 

Kesimpulan saya: Tri Rismaharini adalah sebuah fenomena luar biasa! Sebetulnya tidak ada yang luar biasa dari tampak luarnya. Tubuhnya tidak tinggi semampai seperti Sophia Latjuba (yang belakangan dikabarkan comeback ke Indonesia dan langsung membuat heboh infotainment), tidak juga secantik Ibu Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. 

Tubuh Risma kekar berbalut jilbab dan jarinya tidak lentik bak penari, melainkan bulat-kuat seperti jari-jemari ibu-ibu petani yang biasa memegang pacul (ini saya perhatikan ketika Ibu Risma menghapus air matanya). Dia juga tidak pandai bersilat lidah seperti Farhat Abbas, bahkan tidak pandai bicara (apalagi bicara diplomatis) seperti anggota DPR. Dia bukan politisi, atau pengacara. 

Dia hanya seorang arsitek dan mantan Kepala Dinas Pertanaman dan Kebersihan di Kota Surabaya (tipikal PNS dan birokrat yang kebetulan mengurus taman dan sampah Surabaya). Tetapi dia tahu betul apa yang dikatakannya dan bisa mempertanggung jawabkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Inilah contoh konkret dari ”satunya kata dengan perbuatan”. 

Dari ceritanya kepada Najwa, saya mengambil kesimpulan bahwa Risma sangat religius. Religiositasnya sangat berbeda dari religiositas Wali Kota Bengkulu Helmi Harun, yang menjanjikan umrah dan haji gratis serta hadiah mobil Kijang Innova dan Honda CRV buat masyarakat yang paling rajin salat subuh berjamaah di masjid. Spontan keesokan harinya masjid dipenuhi oleh calon-calon peserta umrah/haji bermental matre (apalagi buat PNS diwajibkan datang, dicatat kehadirannya dan kena sanksi kalau tidak hadir). 

Religiositas Risma nampak dari intuisinya yang kuat, yang menurut Risma sendiri merupakan petunjuk Tuhannya. Tuhan setiap hari memberitahu kemana dia harus pergi hari itu, ke barat atau ke utara, maka dia pun pergi ke arah itu, dan selalu dia menemukan warganya yang sedang bermasalah, seperti anak telantar di pinggir jalan yang membutuhkan bantuan Dinas Sosial, pelacur berumur 60 tahun yang masih praktek dengan langganan anak-anak SD (karena ia mau menerima bayaran Rp1.000-2.000), atau banjir yang ketika ditelusuri penyebabnya adalah pagar orang yang membuat air mampat (maka spontan dia suruh bongkar pagar itu). 

Maka ketika dia ditanya oleh Najwa, ”Masih tegakah Ibu mengundurkan diri sebagai wali kota, walaupun sudah menerima 51 penghargaan dan calon wali kota terbaik dunia? Apa yang saya harus katakan kepada warga Surabaya?” Pecahlah tangis Risma. Dia kasihan kepada jutaan warga Surabaya yang masih perlu bantuannya. Tetapi dia juga tidak mau, sebagai wali kota, mengetahui adanya warganya yang masih menderita dan dia tidak berbuat apa-apa. 

”Nanti kalau saya dipanggil dan ditanya Tuhan (dia lebih banyak menggunakan istilah ‘Tuhan’ daripada ‘Allah’) dan saya tidak bisa menjawab, saya tidak akan masuk surga. Saya tidak mau tidak masuk surga!” Alangkah religiusnya, walaupun tidak sepotong ayat pun keluar dari bibirnya. Risma (yang hanya ibu rumah tangga dan senang keluar makan malam dengan suami dan anak-anaknya) jelas jauh religius daripada ustaz-ustaz kondang yang memasang tarif jutaan rupiah sekali taushiah, yang menolak hadir jika tarifnya tidak disepakati, dan punya rumah mewah dan motor gede dan sering masuk infotainment.  

Berita-berita yang saya ikuti belakangan banyak yang membantah isu tentang keinginan Risma untuk mundur. Menteri Dalam Negeri pun membantah bahwa Wali Kota Risma akan mundur. Bahkan sejumlah ormas dan LSM demo di depan rumah Risma, menuntut agar dia tidak mundur, tetap sebagai wali kota Surabaya (suatu fenomena yang luar biasa, ditengah-tengah maraknya tuntutan mundur pada banyak kepala daerah). 

Tetapi ketika acara ”Mata Najwa” direkam, tampaknya tekanan untuk tidak mundur belum terlalu kuat, dan ketika ditanya oleh Najwa Shihab, Risma masih jelas-jelas menyatakan bahwa dia tidak berani untuk berjanji kepada rakyat Surabaya untuk tidak mundur. Mengapa begitu? Risma sendiri menyatakan bahwa dalam bekerja dia selalu melibatkan emosinya. 

Capek sekali memang, tetapi itulah yang bisa membuatnya berempati pada kesusahan orang lain dan karenanya ia bisa merespons sampai tuntas, tas. Di sisi lain, pelibatan emosi inilah yang juga menyebabkannya tidak kuat menghadapi persoalannya dengan Wakil Wali Kota, Wisnu Sakti Buana, yang baru-baru ini dilantik tanpa kehadiran Risma (dengan alasan sakit). 

Saya tidak jelas apa penyebab yang sesungguhnya, tetapi dari yang saya ketahui melalui media massa, Wisnu Sakti Buana adalah salah satu anggota DPRD yang ikut memakzulkan Risma dari jabatan wali kota, hanya beberapa saat setelah Risma dilantik sebagai wali kota (2010), gara-gara Risma menaikkan pajak reklame di jalan-jalan protokol Surabaya. Risma tidak mau jalan-jalan protokol Surabaya jadi jelek karena baliho-baliho reklame segede-gede raksasa. 

Maka marahlah anggota-anggota DPR itu (dari semua fraksi, kecuali fraksi PKS), termasuk Wisnu yang sama-sama dari fraksi PDIP bersama Risma. Anggota-anggota DPRD itu kemudian meminta Risma mundur dari jabatan wali kota. 

Kalau berita yang saya baca itu benar, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Risma (yang biasa melibatkan emosi sepenuhnya ketika bertugas) ketika ternyata Wisnu menjadi wakilnya. Memang susah kalau bekerja terlalu emosi, tetapi kalau terlalu acuh tak acuh salah juga, kan? ●